Inflasi Rendah Tetap Harus Diwaspadai

Pengumuman Biro Pusat Statistik (BPS) bahwa inflasi Februari 2011 sebesar 0,13% tentu menggembirakan banyak pihak. Untuk kali pertama sejak empat tahun lalu, bahan makanan menyumbang deflasi. Umumnya, kelompok ini lebih tinggi inflasinya ketimbang inflasi secara umum.

Hasil survei indeks harga konsumen oleh BPS di 66 kota menunjukkan, 40 kota inflasi dan 26 kota lainnya deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Singkawang dan Parakan, sedangkan terendah di Sukabumi. Deflasi tertinggi terjadi di Sumenep dan Jayapura. Sumbangan inflasi terbesar dari laju inflasi 0,13% berasal dari ikan segar.

Bahan makanan seperti cabai, beras, dan daging ayam yang biasanya menyumbang inflasi, pada bulan lalu justeru deflasi. Sumbangan terbesar dari ikan segar 0,03% terhadap laju inflasi disebabkan oleh gelombang tinggi sehingga nelayan tak bisa melaut.

Dengan inflasi Februari sebesar 0,13%, laju pada tahun kalender mencapai 1,03%, sedangkan laju tahunan atau Februari 2011 terhadap Februari 2010 sebesar 6,84 %. Berarti inflasi year on year yang pada Januari 7,02% turun menjadi 6,84%. Sementara itu inflasi inti dari laju inflasi 0,13% sebesar 0,31% atau lebih tinggi dari inflasi umum.

Dari sisi kelompok barang, inflasi terjadi pada kelompok makanan jadi, minum­an, rokok, dan tembakau sebesar 0,47%. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,40%; kesehatan 0,69%; pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,13%. Sementara deflasi disumbang oleh komoditas cabai merah 0,10%, beras 0,07%, daging ayam ras 0,04%, tomat 0,02%, dan emas perhiasan 0,02%. Deflasi pada bahan pangan dinilai positif setelah harga mencapai puncaknya pada akhir 2010 dan awal 2011.

Ada empat penyebab deflasi menurut teori moneter, yaitu menurunnya persediaan uang di masyarakat, meningkatnya persediaan barang, menurunnya permintaan akan barang, dan naiknya permintaan akan uang

Deflasi dapat menyebabkan menurunnya persediaan uang di masyarakat dan akan menyebabkan depresi besar (seperti dialami Amerika dulu) dan juga akan membuat pasar investasi (saham) akan mengalami kekacauan. Ini dikarenakan harga barang mengalami penurunan, konsumen memiliki kemampuan untuk menunda belanja mereka lebih lama lagi dengan harapan harga barang akan turun lebih jauh. Akibatnya aktivitas ekonomi akan melambat dan memberikan pengaruh pada spiral deflasi (deflationary spiral).

Sebelumnya, pemerintah optimistis ha­sil panen akan menyumbang deflasi pa­da Februari. Menko Perekonomian Ha­tta Rajasa menyatakan, inflasi Februari bakal lebih rendah dibandingkan dengan in­flasi Januari 0,89%. Sehu­bungan de­ngan target inflasi dalam APBN 2011 se­besar 5,3%, pemerintah berjanji bekerja lebih keras menjaga stabilitas harga pangan sehingga tidak mendorong laju inflasi. BPS sendiri berharap dengan laju tahun kalender 1,03% target inflasi 2011 bisa ter­capai. Pasalnya, Maret biasanya ting­kat inflasi rendah karena panen masih terjadi.

Namun, sebagian ekonom memperkirakan inflasi tahun ini tetap tinggi. Tekanan terbesar datang dari komoditas pangan pokok yang harganya bergejolak. Sejumlah ekonom memperkirakan, inflasi tahun ini dapat mencapai 7%. Artinya, target pe­merintah menjaga inflasi di tingkat 5,3% per tahun bakal meleset. Pe­nyebabnya, distribusi berbagai kebutuhan pokok tidak bagus. Ada keterkaitan antara kualitas infrastruktur dan inflasi. Saat ini nilai bisnis logistik lebih tinggi ketimbang volumenya akibat kualitas infrastruktur buruk.

Kalau saja pemerintah serius membenahi infrastruktur, inflasi diprediksi dapat menurun hingga separuh dari sekarang. Selain itu, pemerintah perlu berhati-hati meluncurkan kebijakan yang berpotensi mendorong tingkat inflasi. Misalnya pembatasan BBM bersubsidi dan pencabutan batas atas tarif listrik. Semoga!

BERITA TERKAIT

Bersikap Move On dan Tetap Rukun Pasca Pemilu

  Oleh: Hariqo Wibawa Satria, Pengamat Media Sosial Masyarakat terutama pendukung dan tim kampanye diharapkan dapat kembali bangkit membangun kebersamaan…

Polemik Pemilih Tetap, Kemendagri Tidak Bisa Intervensi

  Oleh : Ahmad Bustomi, Pemerhati Sosial Politik dan Ekonomi Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh dikritik oleh…

Wagub Sumsel: Pemanfaatan Dana Desa Harus Tepat Sasaran

Wagub Sumsel: Pemanfaatan Dana Desa Harus Tepat Sasaran   NERACA Palembang - Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Selatan (Sumsel), Mawardi Yahya mengatakan,…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Menggugah "Shadow Economy"

Oleh: Johana Lanjar Wibowo, Pemeriksa Pajak Pertama, Ditjen Kemenkeu Realisasi penerimaan pajak tahun 2018 mencapai Rp1.315,9 triliun. Angka ini sebesar…

Pilpres 2019: Benahi Ekonomi, Hapus Oligarki

Oleh: Sarwani Pilpres 2019 usai sudah.  Indonesia akan memiliki presiden hasil pilpres pada Oktober tahun ini. Banyak harapan yang dipikulkan…

Persatuan Bangsa Pasca Pemilu 2019 Mutlak Dibutuhkan untuk Kemajuan

  Oleh:  Aziz Kormala, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan   Kemerdekaan yang diperoleh Indonesia bukanlah pemberian tetapi hasil berjuang dengan penuh pengorbanan…