Undisbursed Loan Mandiri Capai 33%

TARUH PALING BAWAH…

NERACA

Jakarta---- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengungkapkan kredit yang belum terserap (undisbursed loan) mencapai Rp68 triliun akhir 2011 atau naik sekitar 33,33% atau sebesar Rp17 triliun dibanding posisi akhir 2010 sebesar Rp51 triliun. "2010, total komitmen kredit baik yang disbursed (terserap) maupun belum itu Rp270 triliun, sedangkan 2011 sebesar Rp341 triliun. Artinya selama 2010 dan 2011 ada sekira 19 persen undisbursed," kata Direktur Strategi dan Keuangan Bank Mandiri Pahala N Mansury di Jakarta,

Menurut Pahala, peningkatan nilainya (undisbursed loan) karena ada peningkatan loan di mana segmen penyumbang undisbursed yang paling besar masih berasal dari korporasi. Dari sisi penyaluran kredit, selama 2011 kredit tumbuh 25,08 persen menjadi Rp273,96 triliun, naik dari sebelumnya sebesar Rp219,03 triliun. Adapun rasio undisbursed loan terhadap total komitmen kredit Bank Mandiri sebesar 18,89% pada 2010, dan meningkat menjadi 19,94% pada 2011.

Di 2011, kucuran kredit perseroan antara lain sebesar Rp116,9 triliun merupakan pinjaman yang terserap (disbursed loan), pembayaran angsuran kredit sebesar Rp41,45 triliun, pelunasan pinjaman sebesar Rp17,97 triliun, pinjaman yang dihapus buku (write off) sebesar Rp1,98 triliun, dan dari FX impact (foreign exchange) sebesar Rp240 miliar.

Lebih jauh Pahala menambahkan Bank Mandiri menargetkan dapat memperoleh kredit hapus buku dari kredit bermasalah sekira Rp1,5 triliun-Rp2 triliun di 2012 sehingga akan mampu berkontribusi terhadap kenaikan pendapatan nonbunga (fee based income). “Kredit hapus buku di 2011 mencapai Rp3,6 triliun, dimana Rp1,4 triliun di antaranya berasal dari penjualan saham Garuda,” ujarnya.

Dikatakan Pahala, penurunan target pendapatan ini dikarenakan sebagian besar aset bermasalah yang dikelola perseroan telah diselesaikan pada tahun lalu. Sehingga, beberapa aset bermasalah yang rencananya akan diselesaikan tahun ini nilainya tidak sebesar 2011. "Kredit hapus buku ini kan masuk ke dalam penerimaa fee based income dan tahun lalu kita cukup besar perolehannya tapi tahun ini kita harapkan sekira Rp1,5 triliun-Rp2 triliun, tidak sebesar tahun lalu," paparnya. **maya

Related posts