Pemerintah Percaya Diri IHSG Masih Positif - Sambut Kenaikan BBM

Neraca

Jakarta– Rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada April mendatang, diyakini pemerintah tidak akan memberikan imbas negatif terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Oleh karena itu, indeks masih akan bergerak positif.

Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati menyampaikan optimis, indeks tidak akan bergerak terpuruk akibat sentimen negatif kenaikan BBM. “Kita yakin indeks saham masih akan terus bergerak ke atas dan insya Allah pasar modal akan baik,” kata Anny di Jakarta, Kamis (8/3).

Menurutnya, kenyakinan tersebut dikarenakan kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia masih mencatatkan keuntungan besar. “Pelaku pasar modal ada baiknya tetap optimis IHSG dapat menembus 4.500 pada tahun ini. Kita harus yakin IHSG bisa capai 4.500,” tegas Anny.

Sementara itu, pemberian peringkat investment grade dari Fitch Rating dan Moodys tersebut diharapkan sebagai momentum yang baik untuk pasar modal. Dengan momentum tersebut, lanjutnya, diharapkan dana asing tidak hanya masuk ke investasi portofolio tetapi juga ke sektor riil. “Capital inflow diharapkan bisa masuk ke sektor riil, portofolio itu memang agak sensitif,” pungkasnya.

Hal senada juga pernah disampaikan pengamat pasar modal dari Universal Broker Securities Satrio Utomo, rencana pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) tidak berdampak signifikan terhadap indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI). "Berkaca pada 2003 dan 2005 lalu ketika BBM mengalami kenaikan, IHSG tidak mengalami tekanan justru bergerak meningkat,”ujarnya

Dia meyakini, kondisi ekonomi global yang menunjukkan perbaikkan serta keadaan ekonomi dalam negeri cukup positif menjadi pemicu IHSG masih akan positif. Selain itu, lanjut dia, harga minyak dunia di kisaran 125-130 dolar AS per barel maka keputusan Pemerintah menaikkan BBM dianggap tepat, karena hal itu sudah sesuai prediksi kalangan pelaku pasar "Ada hal yang harus diperhatikan pasar, jika dalam jangka pendek kenaikan harga minyak dunia hanya berhenti di range US$ 115-120 per barel maka dipastikan pasar sudah siap karena sesuai dengan prediksi kenaikan pemerintah yang mencapai 40% dari anggaran harga minyak. Namun jika harga minyak dunia di kisaran US$ 125-130 per barel untuk tiga bulan ke depan, maka akan membuat tekanan terhadap pemerintah sehingga opsi kenaikan BBM yang diambil pemerintah sudah dianggap tepat,”ujarnya.

Sementara analis MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, kenaikan harga BBM yang signifikan, yakni jika mencapai Rp1.500-Rp2.000 per liter, dapat menjadi masalah karena akan membuat laju inflasi menjadi tinggi dan tidak siapnya pelaku pasar menghadapinya. "Ini dapat menjadi masalah dan tentunya acuan prospek inflasi akan berubah. Dampaknya, ini bisa menekan laju IHSG sehingga hanya akan bergerak ke level 4.150 dan sulit menembus level 4.500," ujarnya. (bani)

Related posts