Intervensi ke Rupiah Jadi Ringan

NERACA

Jakarta---Nilai tukar rupiah yang terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyebabkan Bank Indonesia (BI) harus merogoh cadangan devisa untuk melakukan intervensi. Karenanya, langkah BI menahan suku bunga acuannya (BI rate) dinilai sudah tepat. "Rupiah sedang tertekan cukup berat, hingga mendekati Rp9.200 per USD. Jika BI rate turun, BI akan keluar banyak ongkos untuk intervensi," kata ekonom UGM, Tony Prasetiantono di Jakarta,8/3

Menurut Toni, dirinya melihat adanya ekspekatsi inflasi sudah cukup tinggi, seiring dengan kepastian pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). "Sekarang ini expected inflation sekira 6,0 persen, melebihi inflasi year on year (yoy) 3,6%," ujarnya

Toni menambahkan, perekonomian global juga masih diombang-ambingkan oleh krisis zona euro. Meskipun, saat ini Yunani sudah di-bailout, namun masih ada negara zona euro yang bermasalah seperti Spanyol dan Portugal. "Akibatnya, modal asing portofolio di Indonesia volatile, bisa sewaktu-waktu kabur. Karena itu amat riskan menurunkan BI rate di saat situasi global tak menentu. Lebih aman BI rate ditahan. Jadi, kebijakan BI ini justified. Argumentasinya kuat," paparnya

Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur BI menetapkan suku bunga acuan alias BI Rate tetap dipertahankan pada kisaran 5,75%. Tingkat BI Rate tersebut dinilai masih konsisten dengan tekanan inflasi dari sisi fundamental yang masih terkendali ke depan serta tetap kondusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari dampak penurunan kinerja perekonomian dunia.

Menyoroti rencana kebijakan Pemerintah di bidang energi, yakni kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), BI memperkirakan dampaknya pada inflasi bersifat temporer (one-time shock) dan inflasi akan kembali menurun sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian.

Sejalan dengan itu, BI akan mengambil langkah kebijakan yang diperlukan untuk mengantisipasi dampak inflasi jangka pendek tersebut melalui penguatan operasi moneter untuk mengendalikan ekses likuiditas jangka pendek, dengan tetap menjaga konsistensi kebijakan suku bunga dengan prakiraan makroekonomi ke depan.

Padahal sejak awal, rupiah diprediksi masih belum bisa angkat kaki dari level Rp9.000-an, bahkan rupiah berpotensi menduduki level Rp9.200 per USD jika belum ada kepastian kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi

Treasury Analyst Telkom Sigma Rahadyo Anggoro memprediksi, rupiah berada di range Rp9.140-9.200 per USD. "Namun Bank Indonesia (BI) BI akan terus melakukan intervensi untuk melindungi pelemahan rupiah agar fluktuatifnya tidak terlalu lebar," katanya

Rupiah pada penutupan perdagangan kemarin memang terpantau mengalami melemah dan hampir menyentuh level Rp9.200. Menurut kurs tengah BI, rupiah diperdagangkan dikisaran Rp9.190 per USD dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.144-Rp9.236 per USD. **cahyo

.

Related posts