BI rate Ditahan Guna Tekan Dampak BBM

NERACA

Jakarta--- Langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya (BI rate) pada kisaran 5,75% sudah diperkirakan banyak kalangan. Masalahnya ada agenda vital yakni kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Keputusan BI dinilai tepat karena inflasi bakal meroket. “Keputusan BI menahan BI rate tetap 5,75% sudah tepat karena ekspektasi inflasi di bulan-bulan mendatang bakal meroket pasca kenaikan harga BBM bersubsidi ditambah kenaikan TDL 10%,” kata Pengamat Perbankan Ryan Kiryanto di Jakarta,8/3

Menurut ekonom Bank BNI ini, salah satu alas an BI tetap mempertahankan BI rate adalah akan mengambil langkah drastis pada semester kedua. “Di semester kedua ada kemungkinan BI rate naik karena inflasi hampir pasti naik signifikan karena kombinasi dampak kenaikan BBM dan TDL secara bersamaan," ujarnya

Lebih jauh kata Ryan lagi, Menurutnya, jika BI dan pemerintah gagal mencegah dampak negatif kenaikan harga BBM dan TDL, maka inflasi akan naik secara dramatis pada range 5,5%-6,5%. "Kalau bisa sukses dikendalikan, maka BI rate bisa ditahan di 6,0% hingga akhir tahun ini," tukas dia.

Sama halnya dengan pengamat ekonomi Tony Prasetiantono yang juga mendukung keputusan BI ini. Alasan kata dia expected inflation sudah tinggi, seiring dengan kepastian pemerintah menaikkan harga BBM. "Sekarang ini expected inflation sekitar 6% , melebihi inflasi yoy 3,6%," jelasnya.

Selain itu, rupiah sedang tertekan cukup berat, hingga mendekati 9.200 rupiah per dollar AS. "Jika BI rate turun, BI akan keluar banyak ongkos untuk intervensi," katanya.

Dari sisi eksternal kata dia, menahan BI rate juga dimaksudkan untuk membendung dampak negatif perekonomian global yang masih diombang-ambingkan oleh krisis zona euro. Meski Yunani sudah di-bailout, namun masih ada negara zona euro yang bermasalah seperti Spanyol dan Portugal. Akibatnya, modal asing portofolio di Indonesia volatile dan bisa sewaktu-waktu kabur. Karena itu amat riskan menurunkan BI rate di saat situasi global tidak menentu. "Lebih aman BI rate ditahan. Jadi, kebijakan BI ini justified. Argumentasinya kuat," imbuhnya.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuannya alias BI Rate di posisi 5,75%. Bank sentral memandang BI Rate masih sesuai dengan sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah. "Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal 8 Maret 2012 memutuskan untuk menahan BI Rate di posisi 5,75%," ungkap Juru Bicara BI Difi Johansyah dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (8/3/2012).

Keputusan ini menurut Difi dinilai masih konsisten dengan tekanan inflasi dari sisi fundamental yang masih terkendali ke depan serta tetap kondusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari dampak penurunan kinerja perekonomian dunia. "Bank Indonesia juga akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta koordinasi kebijakan dengan Pemerintah baik melalui forum Tim Pengendalian Inflasi di tingkat pusat (TPI) maupun Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk membawa inflasi tahun 2013 menuju kisaran 4,5% ± 1%. ," tutur Difi.

Pada Februari 2012 kemarin, BI memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps. Saat ini BI Rate bertengger di 5,75% terendah sejak beberapa tahun terakhir. **bari/cahyo

Related posts