E-KTP Tercecer di Tahun Politik

Oleh: Siswanto Cemonk

Lagi-lagi publik dibuat geger dengan penemuan kembali ribuan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) yang tercecer. Peristiwa ini terjadi disekitar permukiman warga Duren Sawit Jakarta Timur pada hari Sabtu (8/12/2018) lalu. Saat diperiksa warga setempat, e-KTP itu ditemukan dalam kondisi tidak terpotong-potong dan terisi dengan data pribadi warga. Meski demikian, sebagian e-KTP ditemukan dalam kondisi rusak.

Bukan kali ini terjadi, pada 26 Mei 2018 dimana ribuan e-KTP jatuh dari truk di wilayah Bogor, serta pernah juga pada 11 September di Serang, Banten. Tercecernya puluhan ribu e-KTP dalam kurun waktu satu tahun terakhir tentu saja membuat publik bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di tahun politik ini?

Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin angkat bicara. Menurutnya Sebanyak 2.005 e-KTP terbuang di Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, PKS menduga permasalahan ini berkaitan dengan urusan Pilpres 2019. Suhud lalu berbicara soal praktik jual-beli blangko e-KTP. Menurut dia, praktik tersebut bisa berpotensi memunculkan pemilih penyusup di Pemilu 2019, apalagi bersamaan dengan adanya 31 juta data baru yang akan dimasukkan dalam data pemilih.

Menanggapi hal ini, menurut Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Zudan Arif Fakrulloh menegaskan kalau temuan ribuan KTP elektronik di Duren Sawit bukan karena tercecer, melainkan ada pihak tertentu yang sengaja membuang dokumen berisi identitas itu di pinggir sawah. Hal yang sama juga disampaikan Mendagri Tjahjo Kumolo. Menurutnya, tercecernya e-KTP beberapa hari lalu diduga ada indikasi kepentingan politik, namun Tjahjo mengaku tidak mau mendahului pihak kepolisian, walaupun telah melakukan investigasi.

Yang menjadi tanya kini, mengapa ribuan e-KTP yang tercecer itu tidak dimusnahkan oleh Kemendagri? Apa iya ada rencana lain yang sengaja tengah disiapkan oleh pihak tertentu? Tidak bisa dipungkiri pilpres yang akan di gelar 4 bulan lagi membuat apapun yang terjadi selalu dikaitkan dengan politik.

Sebelumnya juga ramai diberitakan penemuan praktik jual beli blanko e-KTP oleh keluarga mantan pejabat pemerintah serta penjualan e-KTP bekas di pasar konvesional maupun online yang menuai kontroversi. Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai, praktik jual beli maupun pemalsuane-KTP perlu diusut sampai tuntas. Ia juga menegaskan beredarnya blanko dipasaran dinilainya dapat berakibat fatal, apalagi di tahun politik bisa disalahgunakan seseorang untuk mengikuti Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Tidak bermaksud mendiskreditkan pemerintah, namun melihat penemuan tercecernya e-KTP yang terus terulang dan penemuan praktik jual beli blanko E-KTP terbersit suatu pertanyaan, apakah peristiwa ini menjadi bukti bahwa lemahnya tingkat keamanan data penduduk oleh pemerintah? Pasalnya, KPU sebagai penyelenggara gelaran tersebut telah mewanti-wanti betapa bahayanya jika ada KTP yang beredar tanpa dipastikan keasliannya. Lantas, apakah masyarakat tidak perlu khawatir dengan kasus ini jelang Tahun Pemilu? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Wako Tangerang: Angkot Dilengkapi AC Beroperasi Tahun Depan

Wako Tangerang: Angkot Dilengkapi AC Beroperasi Tahun Depan   NERACA Tangerang - Wali Kota (Wako) Tangerang, Arief R Wismansyah mengatakan, angkutan…

Defisit BPJS Kesehatan Tahun Ini Diprediksi Meningkat

      NERACA   Jakarta – Defisit BPJS Kesehatan pada tahun ini diprediksi semakin meningkat. Hal itu seperti dikatakan…

PERINGATAN 100 TAHUN TK AISYIYAH BUSTHANUL ATHFAL

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (tengah) berfoto bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Gunawan  Suryoputro (kiri) dan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Utang Makin Besar, Kemampuan Biayai Pembangunan Berkurang

Oleh: Riza Annisa Pujarama, Peneliti INDEF Postur APBN 2020 terdapat ekspansi untuk memperbaiki perekonomian tetapi secara secara asumsi makro tidak terlihat…

Ibu Kota Baru di Kalimantan, Bukan Soal Pemerataan Saja

Oleh:  Fransina Natalia Mahudin, Studi S2 bidang Kebijakan Publik Pemerintah akhirnya memilih memindahkan ibu kota dengan alternatif ketiga, yaitu pilihan…

Stop Rasisme dan Hargai Perbedaan Demi Keutuhan NKRI

  Oleh : Edward Krey, Mahasiswa Papua, tinggal di Yogyakarta   Wajar kiranya apabila kita marah ketika martabat bangsa dilecehkan,…