Pemerintah Kritik Unicorn Yang Belum IPO - Berikan Payung Hukum Khusus

NERACA

Jakarta – Desakan pemerintah lewat Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara agar empat perusahaan starup dengan status unicorn atau nilai pasar lebih Rp 1 triliun untuk go public belum direspon oleh pelaku starup tersebut.”Kita punya Gojek, Bukalapak, Traveloka dan Tokopedia yang tergolong unicorn, tapi belum satu pun yang IPO,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, dengan perkembangan bisnis yang terjadi di empat perusahaaan berbasiskan teknologi informasi, maka tidak menutup kemungkinan menjadi perusahaan dengan nilai pasar lebih dari US$ 10 miliar atau dekacorn,”Kalau sudah keburu jadi decacorn, maka timbul pertanyaan lagi siapa yang akan menyerap emisinya. Saya khawatir pasar tidak sanggup,”ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen mengatakan, payung hukum untuk menerbitkan saham bagi perusahaan rintisan seperti Gojek Cs telah tersedia. “Hanya saja, IPO itu keputusan manajemen. Kita tahu, perusahaan itu punya strategi sendiri, misalnya terkait waktu dan harganya saat IPO,” ujar Hoesen.

Sedangkan terkait payung hukum pencatatan saham dan perdagangan saham di pasar sekunder, menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, pihaknya telah merampungkan rancangan peraturan terkait pencatatan saham perusahaan rintisan.“Dalam rancangan peraturan I-A, yang tengah kami ajukan ke OJK telah mengakomidir perusahaan rintisan untuk tercatat di bursa, Mudah mudahan segera disetujui OJK dan diterapkan pada awal tahun depan,” kata dia.

Sebelumnya, President dan Co-Founder Go-Jek, Andre Soelistyo pernah bilang, pihaknya berminat untuk menawarkan saham perdana atau initial public offering (IPO), namun masih terkendala peraturan yang dinilai tidak fleksibel.”Secara aspirasi, sangat ingin sekali go public lebih cepat. Apalagi consumer kami bisa jadi pemegang saham, “ujarnya.

Menurutnya, saat ini ada dua isu yang masih menjadi kendala. Pertama, perusahaan sejenis Go-Jek masih muda, termasuk dari segi historical financial. Kedua, ada pula tantangan dari sisi regulasi. Menurut Andre, aturan IPO di luar negeri terbilang fleksibel, terutama dalam hal profitabilitas. Andre juga menyebut soal klasifikasi kepemilikan saham. "Atau perusahaan bisa memiliki kelas saham yang berbeda,”tuturnya.

Sementara manajemen Bukalapak dan Tokopedia menegaskan, IPO bukan menjadi tujuan utama. Head of Financial and Payment Servise Bukalapak, Destya Danang Pradityo mengatakan, pihaknya tidak ingin menjadikan IPO sebagai tujuan final perusahaan. Untuk diketahui, Tokopedia terakhir mengumumkan mendapatkan pendanaan baru sebesar US$ 1,1 miliar atau setara dengan Rp15,95 triliun, sehingga setelah suntikan dana tersebut valuasi Tokopedia naik menjadi US$ 7 miliar atau Rp101,5 triliun. Sementara Gojek menerima pendanaan kolektif dari Google, Temasek, dan JD.com, dengan nilai US$ 1,5 miliar dollar atau senilai Rp 20,8 triliun. Pendanaan baru itu meningkatkan valuasi Go-Jek menjadi US$ 5 miliar dolar atau setara Rp 69,4 triliun.

BERITA TERKAIT

Pujian dan Kritik Untuk Film ‘After’

Pujian dan Kritik Untuk Film ‘After’ NERACA Jakarta - Kalau ada film yang dinantikan dan sekaligus dikritik adalah ‘After’ yang…

Berikan Pengalaman Pasar Modal - IPB Gandeng BEI Bangun Mini Bursa

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan investor pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB,…

KPK: 36 Tahanan KPK Berikan Hak Suara

KPK: 36 Tahanan KPK Berikan Hak Suara NERACA Jakarta - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan terdapat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Bersih Siantar Top Naik 17,95%

NERACA Jakarta – Di tahun 2018 kemarin, PT Siantar Top Tbk (STTP) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 17,95% secara…

LMPI Targetkan Penjualan Rp 523,89 Miliar

NERACA Jakarta – Meskipun sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Langgeng Makmur Industri Tbk (LMPI) masih mencatatkan rugi sebesar Rp 46,39…

Bumi Teknokultura Raup Untung Rp 76 Miliar

PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) membukukan laba bersih Rp76 miliar pada 2018, setelah membukukan rugi bersih sebesar Rp31,48 miliar…