Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui percepatan implementasi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 tidak hanya berpotensi luar biasa dalam merombak industri manufaktur, tetapi juga mengubah berbagai aspek kehidupan manusia.

“Kita telah melihat banyak negara, baik yang maju maupun berkembang, telah memasukkan gerakan ini ke dalam agenda nasional mereka sebagai salah satu cara untuk meningkatkan daya saing di pasar global. Oleh karena itu, kita telah meluncurkan Making Indonesia 4.0,” paparnya.

Salah satu target di dalam peta jalan terebut, yakni Indonesia menjadi pemain utama industri makanan dan minuman di dunia. “Fokus produk pada 3-5 tahun ke depan salah satunya adalah olahan buah dan sayuran dengan tujuan utama mengurangi ketergantungan impor bahan baku produk pertanian meningkatkan efisiensi di seluruh rantai nilai industri melalui penerapan industri 4.0,” jelas Airlangga.

Selain itu, dengan menguasai teknologi yang menjadi ciri khas era Industri 4.0, antara lain artificial intelligence, internet of things, big data, advanced robotics dan 3D printing. “Diharapkan, industri makanan dan minuman, mampu menjadi pengungkit dalam memacu pertumbuhan industri manufaktur nasional, termasuk menciptakan lapangan kerja,” imbuhnya.

Kemenperin mencatat, industri minuman mampu menunjukkan kinerja yang membanggakan, dengan pertumbuhan sebesar 10,19 persen pada periode Januari-September tahun 2018. Capaian ini jauh di atas pertumbuhan industri nasional yang mencapai 5,17% di periode yang sama.

Peran industri makanan dan minuman dalam perekonomian Indonesia juga sangat signifikan. Hal ini terlihat dari kontribusi sektor makanan dan minuman sebesar 35,73 persen terhadap PDB industri non-migas pada triwulan III tahun 2018.

Sementara itu, pertumbuhan ekspor periode Januari-September tahun 2018 untuk industri makanan tumbuh sebesar 3,22 persen dan untuk industri minuman tumbuh sebesar 13,00 persen. Bahkan, industri makanan dan minuman mendominasi penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur, yakni sebanyak 3,3 juta orang atau sebesar 21,34 persen dari total pekerja di bidang industri.

Sebelumnya, diwartakan, Kementerian Perindustrian bersama Yayasan Upaya Indonesia Damai atau United in Diversity (UID) dan Tsinghua University telah menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan yang bertajuk Collective Creative Learning and Action for Sustainable Solution (Co-CLASS) dengan tema "The Fourth Industrial Revolution System Transformation". Program strategis ini bertujuan untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) kompeten dalam menghadapi perkembangan era industri 4.0.

“Guna mewujudkan visi Making Indonesia 4.0, pengembangan ekosistem industri 4.0 sangatlah penting. Program diklat ini telah berhasil menyatukan visi berbagai pemangku kepentingan sehingga membuka ruang inovasi dan kolaborasi yang lebih nyata,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam sambutannya ketika menutup program Co-CLASS angkatan pertama di Jakarta.

Menperin menjelaskan, selain perlu penguasaan teknologi, SDM terampil juga berperan penting dalam upaya menyukseskan implementasi industri 4.0. Sebab, melalui wawasan dan pengetahuan, akan dapat memahami peluang serta mampu menghadapi tantangan saat ini. Bahkan, mereka akan menjadi agen perubahan dalam mentransformasi ke arah ekonomi digital.

“Jadi, soft skills dalam hal pengembangan kemampuan pribadi dan kepemimpinan juga diperlukan untuk dapat mengambil keuntungan dari penerapan industri 4.0. Maka itu, materi program Co-CLASS memang dititikberatkan pada peningkatan kapasitas SDM dalam bidang inovasi dan entrepreneurship leadership untuk industri 4.0. Ini menjadi prototipe dan perlu dilanjutkan,” paparnya.

Airlangga menambahkan, salah satu langkah prioritas dan menjadi kunci implementasi dari peta jalan Making Indonesia 4.0 adalah membangun SDM berkualitas. Apalagi, Indonesia akan menikmati dominasi jumlah penduduk usia produktif pada 10 tahun ke depan. Bonus demografi ini diyakini dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan, peningkatan produktivitas pada era ekonomi digital juga difokuskan pada kemudahan access to market sektor IKM. Oleh karena itu, program e-smart IKM yang digagas oleh Kemenperin, menjadi platform e-commerce untuk membangun sistem database IKM yang diintegrasikan melalui beberapa marketplace.

BERITA TERKAIT

INDUSTRI GITAR RUMAHAN TEMBUS MANCANEGARA

Perajin menyelesaikan proses pembuatan gitar di industri gitar rumahan Ari Arya, Klapanunggal, Bogor, Jawa Barat, Selasa (15/1/2019). Gitar listrik dan…

Dongkrak Kemampuan Mekanik di Era Revolusi Industri 4.0

Dongkrak Kemampuan Mekanik di Era Revolusi Industri 4.0 NERACA Jakarta - Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) kembali menggelar Kontes Mekanik…

Dunia Usaha - Industri Manufaktur Nasional Sumbang PDB Tertinggi di ASEAN

NERACA Jakarta – Pemerintah bertekad untuk terus meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional agar lebih produktif dan kompetitif di pasar…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - Otomatisasi dalam Revolusi Industri 4.0 Tidak Bisa Dihindari

NERACA Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai Revolusi Industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus dijalani.…

Baru 11 Persen Sawah Terima Air dari Bendungan

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan terus membangun bendungan untuk pengairan, mengingat baru 11 persen atau sekitar…

Kawasan Industri Kendal Serap 50 Investor dan 5.000 Naker

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada Kawasan Industri Kendal (KIK) yang telah mampu menarik 50 investor dengan target…