Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA

Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, sektor ini menjadi salah satu yang mendapat prioritas pengembangannya agar menjadi pionir dalam era ekonomi digital.

“Salah satu tujuan dari implementasi industri 4.0 adalah menggunakan teknologi terkini, sehingga dapat menghasilkan produk yang premium dan mampu bersaing di pasar global,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Fasilitas Produksi Jus dengan Teknologi High Pressure Processing (HPP) di PT. Sewu Segar Primatama (SSP), Tengerang, Banten, disalin dari siaran resmi.

Menperin menjelaskan, pihaknya terus mendorong industri makanan dan minuman bisa menjadi contoh dalam memasuki era industri 4.0. Pasalnya, sektor ini memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi, dengan didukung oleh sumber daya alam yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar. “Selain itu mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional,” ujarnya.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada PT SSP yang membangun fasilitas produksinya (Real Cold-Pressed Facility/CPF) secara terintegrasi dengan teknologi HPP. Metode HPP ini membuat perusahaan dengan merek dagang produk Re.juve ini menjaga kandungan nutrisi dan memperpanjang masa pajang produk (shelf life) hingga enam kali lebih lama tanpa bahan pengawet.

“Ini adalah pabrik pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan menggunakan teknologi HPP. Tentunya pabrik ini dapat meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri dari sektor holtikultura,” tuturnya. PT SSP selaku industri minuman ringan (jus dalam kemasan botol plastik) ini menyerap bahan baku lokal sebanyak 75 persen.

Menurut Airlangga, peresmian fasilitas PT SSP tersebut menjadi momentum tepat untuk merevitalisasi sektor industri makanan dan minuman di Indonesia agar lebih modern dan berdaya saing global. “Baru sedikit negara di Asia bahkan dunia yang mengadopsi teknologi HPP, sehingga kita harus mengambil keuntungan dari keunggulan tersebut,” tegasnya.

Menperin meyakini, upaya tersebut dapat mewujudkan aspirasi besar Making Indonesia 4.0, yakni menjadikan Indonesia masuk sebagai 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. “Kuncinya di industri 4.0 adalah sumber daya manusia dan teknologi,” tandasnya.

Sejak berdiri pada tahun 2014, PT SSP telah menyerap tenaga kerja di bagian produksi sebanyak 60 orang, serta didukung 200 orang di gerai dan 30 orang di back office. “Dengan adanya investasi ini, diharapkan produk yang dihasilkan tidak hanya dijual di Indonesia, tetapi juga diekspor ke Singapura, Hongkong, dan negara Asean lainnya,” imbuhnya.

Managing Director PT Sewu Segar Primatama Richard Anthony menyampaikan, pengadopsian teknologi HPP merupakan langkah strategis dalam rencana ekspansi Re.juve. “Dengan fasilitas terbaru ini, kami memiliki kapasitas tahunan mencapai 15 juta botol, sehingga bisa merambah pasar di luar Jabodetabek dapat menikmati produk cold-pressed juice yang 100 persen segar, murni, dan alami,” ungkapnya.

Teknologi HPP milik PT SSP dipasok oleh Hiperbaric, penyedia peralatan teknologi HPP terbaik di dunia, yang telah merevolusi industri makanan dan minuman di Amerika Serikat dan Eropa dalam menikmati minuman dan makanan segar, termasuk cold-pressed juice.

“Produk Re.juve 100 persen segar karena terbuat dari hampir 1 kg buah dan sayur per botol (bukan konsentrat), 100 persen murni tanpa air, gula, pemanis buatan, atau pengawet, dan 100 persen alami karena menggunakan bahan mentah tanpa proses pemanasan,” papar Richard.

Pada kesempatan yang sama, Menperin mengemukakan, Indonesia sebagai negara tropis penghasil buah-buahan mempunyai potensi dalam pengembangan industri olahan untuk produk buah dalam kaleng, minuman sari buah, manisan buah, selai dan lain-lain. Untuk itu, diperlukan penerapan teknologi terkini agar dapat meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri dan produk berdaya saing tinggi.

“Konsumsi olahan buah masyarakat Indonesia yang masih rendah memiliki peluang besar untuk terus ditingkatkan seiring dengan meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat dan meningkatnya penghasilan masyarakat,” ujarnya. Apalagi, Indonesia juga dikenal sebagai eksportir utama produk olahan buah di dunia utamanya nanas dalam kaleng.

BERITA TERKAIT

Dukung Perempuan Melek Teknologi, Bupati Tabanan Jadi Pembicara di Kartini 4.0 Indosat Ooredoo

Dukung Perempuan Melek Teknologi, Bupati Tabanan Jadi Pembicara di Kartini 4.0 Indosat Ooredoo NERACA Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari…

Implementasi Industri 4.0 Dongkrak Efisiensi dan Produktivitas

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 dinilai dapat membawa manfaat bagi perusahaan yang menerapkannya, terutama akan terjadinya peningkatan pada produktivitas…

Indonesia Industrial Summit 2019 - Sektor Manufaktur RI Dipandang Siap Menerapkan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Making Indonesia 4.0 merupakan sebuah peta jalan yang diterapkan untuk mencapai tujuan Indonesia menjadi negara 10 besar…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Soal Biodiesel, Indonesia Tak Gentar Lawan Eropa

NERACA Jakarta - Baru satu tahun lalu, Indonesia bisa bernapas lega setelah berhasil memenangkan gugatan terhadap Uni Eropa melalui Organisasi…

Industri Makanan dan Minuman Ditaksir Tumbuh 9 Persen

NERACA Jakarta – Kemenperin memproyeksikan industri makanan dan minuman dapat tumbuh di atas 9 persen pada 2019 karena mendapatkan tambahan…

Pebisnis Muda Pertanian Perlu Kreatif dan Inovatif

NERACA Jakarta – Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Momon Rusmono mengatakan wirausahawan muda…