ADB Pertahankan Pertumbuhan Asia Tenggara

NERACA

Jakarta - Bank Pembangunan Asia (ADB) mempertahankan perkiraan pertumbuhannya untuk Asia Tenggara sebesar 5,1 persen pada 2018 dengan asumsi konsumsi dan investasi infrastruktur yang kuat, kata sebuah laporan ADB yang dirilis pada Rabu.

Dalam suplemen Asian Development Outlook (ADO) 2018 yang diperbarui, ADB mengatakan bahwa perkiraan penurunan dalam pertumbuhan Asia Tenggara pada 2018 dipertahankan. "Tapi sekarang pertumbuhan diperkirakan akan tetap di 5,1 persen pada 2019 sehubungan dengan revisi turun untuk Indonesia, Laos, Malaysia dan Thailand," kata laporan itu.

Selain itu, ia mengatakan bahwa "laju pertumbuhan telah dipertahankan sejak rilis pembaruan pada September, tetapi beberapa risiko penurunan untuk ekonomi-ekonomi Asia Tenggara secara individu telah meningkat." Laporan itu mengatakan bahwa permintaan domestik yang kuat terus mendorong pertumbuhan di sub regional. Misalnya, dikatakan bahwa belanja infrastruktur tetap kuat di Brunei, Indonesia, Filipina, dan Thailand tetapi menurun di Malaysia.

"Konsumsi meningkat meskipun harga makanan dan transportasi meningkat di beberapa negara," kata laporan itu. "Moderasi dalam permintaan global untuk ekspor, namun demikian, mengurangi prospek pertumbuhan untuk sub regional, dan khususnya untuk Malaysia dan Thailand, pada 2018 dan 2019," kata laporan itu.

Di sisi produksi, laporan itu mengatakan bahwa Myanmar dan Thailand diuntungkan dari peningkatan hasil pertanian, yang lesu di Indonesia, Laos dan Filipina di tengah bencana alam dan cuaca buruk. Selain itu, laporan juga mengatakan bahwa manufaktur di Malaysia dan Thailand diperlemah oleh berkurangnya permintaan dari mitra-mitra dagang, tetapi meningkat di Kamboja dan Vietnam.

Sementara itu, laporan mengatakan kedatangan wisatawan yang lebih rendah menyeret pertumbuhan jasa-jasa di Myanmar dan Thailand. Laporan itu mengatakan, pihaknya mempertahankan perkiraan pertumbuhan untuk Indonesia pada 2018 di 5,1 persen. Namun, dikatakan bahwa perkiraan pertumbuhan untuk 2019 diturunkan sedikit dari 5,3 persen menjadi 5,2 persen.

Laporan itu mengatakan, pihaknya juga membuat revisi turun untuk perkiraan pertumbuhan PDB Malaysia pada 2018 dari 5,0 persen menjadi 4,7 persen. "Faktor domestik dan eksternal juga mendorong sedikit penurunan ke perkiraan pertumbuhan 2019 dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen," kata laporan itu.

Prediksi pertumbuhan Thailand untuk 2018 juga turun dari 4,5 persen dalam laporan pembaruan menjadi 4,3 persen, karena pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga melambat menjadi 3,3 persen dari yang kuat 4,6 persen pada kuartal kedua. ADO adalah publikasi ekonomi tahunan utama ADB. Publikasi ini memberikan analisis komprehensif tentang masalah makroekonomi di negara-negara berkembang Asia, termasuk proyeksi pertumbuhan untuk negara-negara besar.

BERITA TERKAIT

BI PERTAHANKAN SUKU BUNGA ACUAN

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) didampingi Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kanan) memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur…

Pemkot Palembang Pertahankan Tingkat Konsumsi Ikan Masyarakat

Pemkot Palembang Pertahankan Tingkat Konsumsi Ikan Masyarakat NERACA Palembang - Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, Sumatera Selatan berupaya mempertahankan tingkat konsumsi…

Pertumbuhan Lambat Perbankan Syariah Di Kalbar

  NERACA Pontianak – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Barat, Mochamad Riezky F Purnomo, mengatakan pertumbuhan perbankan syariah…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Pertahankan Suku Bunga

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar enam persen…

OJK Sebut DP 0% Gairahkan Sektor Produktif

      NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim kebijakan penghapusan uang muka kendaraan bermotor pada perusahaan…

SMF Kerjasama Operasional dengan Bank Penyalur KPR FLPP

    NERACA   Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama operasional dengan bank penyalur…