Jumlah Investor di Kepri Tumbuh 58.86% - Minat Investasi di Pasar Modal

NERACA

Batam - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investasi sektor pasar modal semakin diminati masyarakat Provinsi Kepulauan Riau. Dimana hal tersebut dilihat makin tingginya pertumbuhan investor di provinsi yang berbatasan dengan empat negara tetangga itu.”Pasar modal tumbuh 58,86% dan masyarakat Kepri yang berminat transaksi di pasar modal, terutama di saham sangat tinggi," kata Kepala OJK Kepri, Iwan M Ridwan di Batam, Kepri, kemarin.

Disampaikannya, jumlah investor pasar modal di Kepri sudah mencapai 14.545 investor, meningkat hingga 58,86% (ytd) dibandingkan data Desember 2017 yang mencapai 9.156 investor. Dengan pertumbuhan tersebut, Iwan optimistis, pertumbuhan pasar modal di Kepri akan terus meningkat pada 2019.

Dari seluruh investor pasar modal di Kepri itu, sebanyak 74,28% di antaranya berada di Kota Batam, dan hanya 25,72% berada di kabupaten kota lain di Kepri. Menurut dia, banyaknya masyarakat Batam yang berminat menanamkan modalnya di pasar modal karena di kota itu terdapat kantor perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tiga galeri investasi yang berlokasi di kampus-kampus.

Masih dari data OJK, persentase pertumbuhan investasi pasar modal terbesar pada Surat Berharga Negara yang mencapai 98,88%, dilanjutkan investor reksadana yang tumbuh 74,71% dan investor saham tumbuh sebesar 46,01%. Sebagian besar investor pasar modal di Kota Batam yaitu sebesar 74,28% investor dengan porsi kepemilikan saham emiten sebesar Rp625,79 miliar atau 80,53% dari total kepemilikan saham di Provinsi Kepulauan Riau.

Selanjutnya komposisi investor di Kepri, 46% berinvestasi di saham, 46% pada efek reksadana dan 8% berinvestasi pada efek Surat Berharga Negara.”Sampai dengan saat ini, sektor pasar modal di Kepri terdapat 9 kantor cabang perusahaan efek di Kota Batam dan 3 kantor cabang manajer investasi, 46 agen penjual efek reksadana (APERD) dan 3 galeri investasi," kata dia.

Disamping itu, lanjut Iwan, hingga menjelang akhir tahun 2018 belum menemukan praktik investasi bodong di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.”Belum ada laporan investasi bodong. Kami imbau masyarakat agar apabila ada penawaran investasi, pastikan memiliki perizinan. Bukan hanya izin dari OJK, tapi juga otoritas berwenang lainnya,"ungkapnya.

Disampaikannya, Satuan Tugas Waspada Investasi Daerah (Satgas SWID) Kepri rutin melakukan beberapa kegiatan pencegahan melalui sosialisasi agar masyarakat terhindar dari praktik yang merugikan itu. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

Relasi Pasar Domestik dan Pasar Internasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Fenomena globalisasi dan liberalisasi yang ditopang oleh sistem ekonomi digital yang marak…

Tunjang Bisnis Tangki Terminal - AKR Corporindo Pertebal Modal Anak Usaha

NERACA Jakarta – Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melakukan peningkatan modal pada entitas anak perseroan…

Danai Untuk Modal Kerja - Asiaplast Beri Pinjaman TBE Rp 1,3 Miliar

NERACA Jakarta - Emiten produsen plastik, PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) memberikan pinjaman kepada PT Tiga Berlian Electric (TBE) untuk…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…