Strategi Memperbaiki Layanan BPJS Kesehatan

Oleh: Aura Nabila, Mahasiswi Ekonomi Syariah UII

Pemerintahan era Joko Widodo telah berupaya mengatasi defisit keuangan BPJS Kesehatan melalui berbagai kebijakan yang dapat menunjang pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Hal tersebut direalisasikan dengan menetapkan Peraturan Presiden dan kebijakan internal di BPJS Kesehatan untuk dapat memperoleh dana hingga Rp 9,23 triliun. Salah satu langkahnya dengan mendisiplinkan pemerintah daerah melalui PMK Nomor 183 Tahun 2017 yang mengatur mekanisme penyelesaian tunggakan iuran jaminan kesehatan Pemda, melalui pemotongan dana bagi hasil ke masing-masing Pemda yang mangkir membayar iuran peserta warganya sebagaimana telah didaftarkan melalui program Jaminan Kesehatan Daerah. Berdasarkan data BPJS Kesehatan menyebutkan beberapa Pemda telat membayar iuran dan cenderung mendaftarkan penduduk yang memiliki penyakit risiko tinggi sehingga berimbas pada defisit keuangan BPJS Kesehatan.

Tidak hanya demikian, cara lain yang diupayakan oleh pemerintahan Jokowi untuk menambal defisit yakni melalui PMK 222/ 2017 tentang penggunaan, pemantauan dan evaluasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau. Dana senilai Rp1,48 triliun dari cukai hasil tembakau ini diharapkan dapat membantu mendukung fasilitas kesehatan. Kementerian Keuanganpun juga akan memotong pajak rokok dari seluruh daerah sebesar 10 persen, yang diambil dari total pendapatan cukai rokok, sebagaimana tertera dalam Perpres 82/2018. Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo mengatakan dalam Perpres, terdapat aturan yang memerintahkan menteri keuangan untuk bisa memotong sesuai dengan PMK berupa 75 persen dari 50 persen penerimaan pajak rokok daerah, yang digunakan untuk JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Kebijakan ini diharapkan cukup untuk menambal kas BPJS Kesehatan sebesar Rp 5,51 triliun yang selama ini bocor bahkan bisa menghemat dana operasional sebesar Rp 200 miliar.

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo juga telah memerintahkan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) untuk mengaudit permasalahan defisit ini sesuai prosedur dan akuntabilitas. Serta, mengintruksikan Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris beserta para direksi untuk memperbaiki sistem, baik verifikasi, dan sistem keuangan. Karena BPJS tidak hanya melayani pusat saja melainkan menjangkau sampai ke Kabupaten, Kota, Provinsi hingga seluruh Tanah Air. Tentunya Ini bukan suatu hal mudah untuk mengontrol bahkan memonitor klaim dari rumah sakit.

Strategi lainnya adalah perbaikan manajemen klaim fasilitas kesehatan berupa mitigasi fraud, sehingga dapat menghemat anggaran sebesar Rp 750 miliar serta penyelarasan BPJS Kesehatan dengan jaminan sosial lain seperti BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, Asabri, dan Jasa Raharja. Selain itu, Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris juga merancang upaya lain dengan memperbaiki sistem rujukan dan rujuk balik lewat sistem online, yang diharapkan bisa menghemat dana hingga Rp 500 miliar serta memberikan kemudahan bagi masyarakat agar tidak perlu megantri lama untuk mendapatkan pelayanan BPJS di setiap rumah sakit.

Joko Widodo menjelaskan terdapat empat jenis penyakit yang menyedot pengeluaran anggaran BPJS kesehatan sangat besar, yakni jantung dengan biaya pengeluaran Rp 9,5 triliun, kanker sebesar Rp 3 triliun, ginjal Rp 2,2 triliun dan katarak mencapai Rp 2,6 triliun. Dengan demikian, Presiden mengatakan perlu adanya solusi dalam menciptakan kota/kabupaten yang sehat sehingga pengeluaran oleh BPJS Kesehatan dapat ditekan melalui program PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) untuk menciptakan masyarakat yang sehat.

Untuk merealisasikan program PHBS ini, Presiden mengajak semua pihak untuk melakukan pembangunan yang dimulai dari infrastruktur sehat, serta sanitasi yang bersih dan sehat sehingga tak muncul wabah penyakit. Lalu industri yang masih membuang limbah ke selokan, harus mulai ditata dan ditegaskan agar tak lagi mencemari lingkungan secara sembarangan.

Berbagai upaya perbaikan BPJS era Presiden Joko Widodo telah digulirkan, hal tersebut semata-mata demi masyarakat Indonesia untuk bisa mendapatkan pelayan kesehatan sebaik baiknya dari pemerintah dan menunjukkan kinerja yang nyata dari pemerintahan Indonesia saat ini.

BERITA TERKAIT

Niaga Komoditas - Penyerapan Biodiesel Strategi Hadapi Diskriminasi Sawit Eropa

NERACA Jakarta – Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta menilai penyerapan biodiesel di dalam negeri…

Pasca Pemilu 2019 - Trafik Layanan Data Ikut Terkerek Naik

NERACA Jakarta – Momentum pemilihan umum (Pemilu) menjadi berkah tersendiri bagi emiten operator telekomunikasi. Pasalnya, trafik layanan data mengalami pertumbuhan…

KPK Sosialisasikan Pencegahan Korupsi Usaha Jasa Keuangan-Kesehatan

KPK Sosialisasikan Pencegahan Korupsi Usaha Jasa Keuangan-Kesehatan NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mensosialisasikan panduan pencegahan korupsi untuk dunia…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mewujudkan SDM Berkualitas untuk Kelola Investasi

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak Terdapat spekulasi bahwa nilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen, dianggap bukan prestasi…

Rajut Kembali Perdamaian dan Persatuan Setelah Persaingan

  Oleh : Elita Simorangkir, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Berbagai umbul – umbul bendera partai, baliho maupun stiker kampanye telah diturunkan.…

BUMN Penerbangan, Maunya Apa?

Oleh: Pril Huseno Sengkarut dunia penerbangan Indonesia, agaknya tidak menyurutkan langkah Menteri BUMN Rini Suwandi untuk merencanakan membentuk apa yang…