Manfaat Fintech untuk Petani di Pedalaman

Oleh: Archie Flora Anisa, GenBI Universitas Indonesia

Hobat bin Luncat, seorang ketua adat dayak di desa Riam Durian, kecamatan Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah merupakan salah satu contoh petani rakyat yang dulu hidupnya serba kekurangan karena sulitnya memasarkan hasil pertanian, memperoleh sarana produksi dan permodalan akibat daerahnya sangat terpencil jauh dari kota dan bank.Untuk mencapai bank terdekat saja beliau harus menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor, dilanjutkan naik speedboat selama 2 jam dan disambung dengan sepeda motor lagi hingga sampai di bank.

Itu kalau cuaca sedang mendukung, saat musim hujan beliau baru dapat sampai di bank saat bank sudah tutup. Selain masalah waktu, ongkos transport dari rumah menuju bank juga sangat mahal. Beruntung pada awal tahun 2000 jaringan telepon seluler masuk ke desanya. Awalnya oleh pihak bank Hobat diajari cara bertansaksi dengan smsbanking, dan setelah bisa menggunakan internet akhirnya beliau memanfaatkan untuk keperluan cashless lainnya seperti bisnis online dan e-banking.

Sebagai petani beliau mengusahakan berbagai jenis tanaman, antara lain karet, gaharu, dankelapa sawit yangmurni dimiliki sendiri awalnya dikelola ala kadarnya. Namun, setelah mengenalteknologi informasi termasuk internet beliau mulai mengetahui manfaat dari teknologi itu (fintech), seperti e-Banking dan SMS Banking. Sejak saat itu beliau lebih memilih untuk menggunakan fintech daripada datang langsung ke bank. Sebagai ketua KUD, beliau sangat terbantu oleh fintech, dimana yang dulu sering sulit memasarkan hasil pertanian seperti getah gaharu dan barang kerajinan khas dayak, sekarang sudah tidak mengalami kendala lagi.

Pembeli dari berbagai kota sudah biasa membeli barang dari Hobat secara online.Beliau akhirnya juga memperoleh teman bisnis dari berbagai pulau baik sebagai investor maupun partner usaha sehingga skala usahanya semakin besar. Berkat usahanya yang maju sekarang Hobat ke mana-mana naik mobil milik sendiri, bahkan telah dua kali keliling eropa dan mempunyai rumah di kota Malang untuk tempat tinggal anak-anaknya menempuh pendidikan. Dengan demikian, masyarakat desa sebenarnya justru lebih diuntungkan dengan adanya fintech asalkan akses teknologi sudah menjangkau sampai ke pelosok pedalaman. Apalagi jika ada edukasi dari stakeholder.

Seiring dengan perkembangan zaman,teknologi seperti internet dan smartphone semakin marak digunakan oleh masyarakat.Hal ini dapat terlihatdarimenjamurnya kios-kios hapedi berbagai daerah. Antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap penggunaan teknologi ini lah yang kemudian mendorong terciptanya inovasi-inovasi baru untuk mempermudah kehidupan manusiaseperti Fintech. Fintech atau financial technologymerupakan sebuah terobosan baru yang memanfaatkan teknologi informasi di bidang keuangan. Dengan memanfaatkan fintech, masyarakat mendapatkan alternatif model keuangan baru yang dapatmenyaingi bank-bank tradisional yangmemiliki aturan kaku dan mengikat. Walaupun memiliki potensi besar untuk membantu mempermudah kehidupan manusia, banyak yang menganggap bahwa fintech ini justru akan memperbesar ketimpangan.

Salah satu argumen yang sering dikemukakan adalah bahwa masyarakat kota yang lebih mampu menggunakan teknologi akan semakin maju, sedangkan masyarakat desa akan semakin tertinggal karena tidak mampu untuk mengikuti cepatnya arus perkembangan zaman. Buktinya masyarakat desa justru lebih dapat memperoleh nilai tambah seperti kisah Hobat bin Luncat diatas.

Sekedar memberikan gambaran, sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan di Indonesia menampung kurang lebih 100 juta jiwa pekerja dan merupakan ruang bagi rakyat kecil untuk menghidupi kehidupannya. Bayangkan saja, hampir setengah dari penduduk Indonesia yang mayoritas merupakan rakyat kecil mengadu nasibnya ke dalam sektor ini. Jika sektor tersebut tidak diperhatikan dan dikembangkan, maka dampaknya akan berimbas kepada kesejahteraan seluruh masyarakat dalam suatu negara. Kendala-kendala yang masih banyak dihadapi oleh sektor ini antara lain seperti kurangnya produktivitas akibat keterbatasan akses ke pasar, keterbatasan modal, dan rendahnya keterampilan yang dimiliki oleh petani untuk dapat bersaing. Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut pemerintah bersama dengan Bank Indonesia (BI) telah bersama-sama mengerahkan segala upayanya untuk mengeluarkan kebijakan yang dapat mendorong kemajuan sektor ini.

Salah satu bentuk upaya untuk mengatasi masalah permodalan yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah dengan mengeluarkan kebijakan nomor 17/12/PBI/2015 yang mengatur Bank Umum untuk paling tidak memberikan 20% dari total kredit atau pembiayaan yang dimilikinya untuk UMKM. Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, juga mengeluarkan peraturan No. 8 tahun 2015 tentang pedoman pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk meningkatkan pelaksanaan KUR. Kedua kebijakan tersebut terbukti mendorong bank-bank umum untuk meningkatkan penyaluran dananya dan menyelenggarakan edukasi untuk UMKM.Tercatat sebesar Rp57,62 triliun per Mei 2018 dana bank umum yang terealisasi disalurkan kepada UMKM.

Namun, walaupun kebijakan tersebut telah terbukti membantu mengembangkan UMKM secara umum, masih banyak petani yang belum tercakup didalamnya (terutama petani yang berada di luar pulau Jawa). Banyak dari petani kecil belum dapat memperoleh kredit dari bank karena dinilai tidak bankable.Petani kecil yang benar-benar mandiri tidak akan semudah itu mendapatkan perusahaan penjamin atau memberikan jaminan untuk bank seperti peraturan yang ada. Selain itu, mereka juga sangat jarang memiliki laporan keuangan, mempunyai kemampuan terbatas untuk mengelola uang, susah untuk diawasi secara langsung, memiliki risiko gagal panen/ternak, dan lain-lain. Di sisi lain, Bank membutuhkan hal-hal tersebut untuk mempertimbangkan kelayakan pemberian pinjaman.

Dalam kasus ini, produk fintech seperti crowdfunding dan Peer to Peer Lending (P2P)dapat menjadi solusi bagi masalah pembiayaan para petani. Fintech, berbeda dengan bank umum, memiliki aturan yang lebih fleksibel dan dapat mendorong inklusi keuangan di daerah. Penilaian kelayakan yang dilakukan oleh fintech berbeda dengan bank tradisional, yaitu melalui machine learning berdasarkan data dan informasi terkait profil individu, rencana usaha, kuisioner psikologis serta analisis persepsi yang semuanya dilakukan secara online.

Jika sebelumnya petani harus berusaha untuk mempelajari bagaimana cara membuat laporan keuangan dan mencari perusahaan penjamin, kini mereka hanya perlu dapat mengakses internet dan menemukan platform fintech yang tepat untuk mencari pembiayaan. Sebagai tambahan, petani juga tidak perlu takut lagi untuk pergi ke bank karena kurang percaya diri dengan penampilan mereka. Perlu diketahui, sudah terdapat banyak platform fintechdi Indonesia yang menyediakan jasa pembiayaan khusus untuk pertanian sepertiiGrow, Investree dan Vestifarm.

Selain itu,dorongan penggunaan internet oleh petani dapat memberi peluang bagi mereka untuk membuka wawasan dan akses ke pasar. Mereka tidak perlu lagi menjual hasil panennya melalui rantai produksi tradisional yang mengharuskan mereka ke pasar tradisional, yang kemudian mengakibatkan harga semakin mahal hingga sampai ke tangan konsumen, atau pun tergiur untuk menjual produk mereka kepada tengkulak karena sudah memiliki kesempatan untuk langsung menjual sendiri ke tangan konsumen.

BERITA TERKAIT

Dirut PT SMART Disebut Setujui Suap untuk DPRD Kalteng

Dirut PT SMART Disebut Setujui Suap untuk DPRD Kalteng NERACA Jakarta - Direktur Utama (Dirut) PT SMART Tbk Jo Daud…

Menteri Sosial - Pengawalan Bansos untuk Capai 6T

Agus Gumiwang Kartasasmita Menteri Sosial Pengawalan Bansos untuk Capai 6T  Jakarta - Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kerja sama…

Ford Gandeng Mahasiswa Untuk Riset Teknologi Swakemudi

Ford Motor Company Amerika meneken kesepakatan dengan Michigan State University (MSU) untuk menggelar penelitian bersama terkait teknologi kendaraan masa depan,…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Waspadai Upaya KKB Ganggu Kinerja Pemerintah di Papua

  Oleh:  Aditya Pratama, Mahasiswa Universitas Indonesia Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) diperkirakan akan menjadi  penghambat bagi pembangunan di wilayah…

Vietnam Jadi Sorotan dalam Peta Wisata Kawasan

Oleh: Mohammad Anthoni Forum pariwisata negara-negara Asia Tenggara (ASEAN Tourism Forum/ATF) tahun 2019 yang mengangkat tema "ASEAN - The Power…

Debat Capres Apa Masih Menarik?

Oleh: Sigit Pinardi Debat calon presiden-calon wakil presiden pertama dalam rangkaian Pemilihan Umum 2019 akan digelar di Hotel Bidakara, Jakarta,…