Berharap OJK Tidak Menjadi Lembaga ‘Macan Ompong’ - Orang Bankir Masih Mendominasi

Jakarta - Hasil pengumuman seleksi tahap II yakni seleksi kapabilitas bagi tujuh calon anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK-OJK) telah terlaksana. Dari sebelumnya 290 orang dikerucutkan menjadi 87 orang lalu sekarang 38 orang peserta. Berdasarkan data yang dihimpun Neraca, sebanyak 13 orang atau 34% berasal dari bankir dan mantan bankir. Sebut saja, Achjar Ilyas, I Wayan Agus Mertayasa, Nelson Tampubolon, dan Ogi Prastomiyono (lihat tabel).

Ini menunjukkan bahwa perbankan semakin menunjukkan ‘taring’ dalam persaingan memperebutkan tujuh kursi lembaga pengawas perbankan dan nonbank yang dianggap sebagai ‘malaikat’ ini. Menanggapi hal tersebut, pengamat hukum perbankan Ricardo Simanjuntak menilai meskipun didominasi perbankan janganlah bersikap skeptis.“Ada hal yang memang tidak bisa sepenuhnya ideal. Karena orang-orang yang paham tentang keuangan selama ini memang bergelut di lembaga keuangan, seperti perbankan dan nonbank,” ujar dia kepada Neraca, Rabu (7/3).

Selain itu, Bank Indonesia (BI) sebagai lembaga pengawas memiliki akses langsung ke seluruh bank.

Sayangnya, kata Ricardo, sistem pengawasannya tidak berjalan dengan baik. “Positifnya, jika pengawasan dipindah ke OJK maka BI bisa belajar dari kesalahan sebelumnya agar fungsinya bekerja. OJK itu kan kerjanya seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), yang sangat ditentukan apa yang dikerjakan,” tambahnya.

Tetap independen

Tidak hanya itu, dia juga mengatakan bahwa masalah iuran lembaga keuangan untuk membiayai OJK tidak serta-merta membuat lembaga tersebut tidak independen. Ricardo beralasan karena kewajiban iuran ini tidak bersifat contractual agreement atau komitmen bersama melainkan bersifat regulasi dan proporsional.

“Maksudnya, berapapun jumlah uang uang yang disetor bank atau lembaga nonbank, bukan berarti otomatis memiliki kewenangan untuk mengatur. Karena sudah jelas ada undang-undangnya. Ini sudah jelas rambu-rambunya. Saya yakin OJK bisa independen,” ungkap dia. Namun demikian, Ricardo malah mengkhawatirkan jika iuran resmi dijalankan maka akan menimbulkan masalah lain, yaitu high cost.

“Itu konsekuensinya. Sebelumnya, perbankan punya iuran lain seperti harus menyetor dana cadangannya ke LPS dan lembaga asuransi harus menyetor ke biro mediasi asuransi Indonesia. Tapi, hal itu bisa dikurangi bebannya jika anggaran pengawasan yang selama ini di BI dialihkan ke OJK, sehingga lebih proporsional,” tukas Ricardo.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Nurhaida mengungkapkan jika pihaknya mengajukan anggaran pembentukan OJK untuk tahun fiskal 2012 sebesar Rp 304,8 miliar. Sementara, Gubernur BI, Darmin Nasution mengaku sudah mengalokasikan dana untuk pengalihan fungsi pengawasan perbankan ke OJK sebesar Rp 62,7 miliar.

Adapun dana sebesar itu, lanjut Darmin, untuk persiapan data, sistem informasi dan pengelolaan dokumen, penyiapan sumber daya manusia (SDM), perencanaan aset dan logistik sebesar Rp 7,7 miliar, serta dana investasi sementara sebesar Rp 55 miliar.

Sudah diduga

Di tempat terpisah, pengamat pasar modal Budi Frensidy menegaskan bahwa siapa yang kuat dialah menjadi pemenang. Hal itu bisa dilihat peta kekuatan masing-masing calon peserta seleksi. “Saya melihat asosiasi lebih berpeluang menang. Yaitu, perbankan dan pasar modal. Kalau mau dikecurutkan lagi, ya, perbankan paling besar peluangnya menguasai kursi DK-OJK,” ujar dia kepada Neraca, kemarin.

Alasan Budi memilih perbankan karena berkaitan erat dengan kepentingan BI yang masih nggak ridho dipotong separuh kewenangan pengawasannya oleh OJK. Dosen FEUI ini menuturkan seandainya kursi dewan komisioner direbut BI maka sakit hati bank sentral itu akan terobati. “Tidak hanya bankir aktif tapi juga mantan bankir juga ikut bersaing. Kan bisa dilihat, orang-orang perbankan lebih banyak jumlahnya. Dari sini arah alurnya akan ketahuan. Selain pelaku perbankan dan pasar modal, lainnya hanya ikut meramaikan saja,” paparnya.

Sebagai informasi, pascalolos seleksi tahap II atau seleksi kapabilitas, otomatis seluruh calon akan masuk seleksi tahap III atau tes kesehatan yang akan dilakukan pada 9-10 Maret 2012. Lalu, pada 14 Maret 2012 akan diumumkan siapa saja yang lolos masuk ke seleksi tahap IV atau seleksi kompetensi yang akan dilakukan pada 15-17 Maret 2012. Terakhir, pada 22 Maret 2012 akan diumumkan 21 nama calon anggota DK-OJK yang akan disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. [ardi]

Berikut nama-nama bankir dan mantan bankir yang lolos seleksi tahap II:

No

Nama

Posisi Sebelumnya

1

Achjar Ilyas

Mantan Deputi BI/Komisaris Independen BNI Syariah

2

Deswandhy Agusman

Komisaris Independen PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)

3

Endang KT Subari

Direktur Direktorat Pengawas Bank II BI

4

I Wayan Agus Mertayasa

Mantan Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

5

Kusumaningtuti S Soetiono

Direktur BI

6

Muliaman Darmansyah Hadad

Deputi Gubernur BI

7

Mulya Effendi Siregar

Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI

8

Purwantari Budiman

Mantan Direktur Investigasi dan Mediasi Perbankan BI

9

Nelson Tampubolon

Mantan Direktur Direktorat Internasional BI

10

Peter Benyamin Stok

Komisaris Utama PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BBNI)

11

Riswinandi

Wakil Direktur Utama BMRI

12

Ogi Prastomiyono

Direktur Kepatuhan dan Sumber Daya Manusia BMRI

13

Umar Juoro

Ketua Badan Supervisi BI

Sumber: www.pansel.ojk.go.id, litbang Neraca

Related posts