Kontribusi Ekonomi Digital Bisa Mencapai 8,5% PDB

NERACA

Jakarta-Presiden Jokowi optimistis kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini bisa mencapai 8,5%, lebih tinggi dibandingkan realisasinya tahun lalu, yakni 7,3%.

Presiden mengatakan, mengingat pertumbuhan kontribusi ekonomi digital terhadap PDB diperkirakan tembus 16,44%. Padahal, pertumbuhan ekonomi RI secara keseluruhan cuma meningkat di kisaran 5% hingga akhir tahun nanti. "Tahun 2018, kontribusi ekonomi digital ke PDB bisa mencapai 8,5%. Alhamdulillah, ini lompatan yang cukup bagus. Apalagi, sebagian besar ekonomi digital banyak bergerak di bidang sociopreneur," ujarnya di Jakarta, Jumat (7/12).

Menurut Jokowi, pertumbuhan ekonomi digital menjadi tren di hampir seluruh negara di dunia. Mengutip riset McKinsey Global Institute bahwa 10% PDB dunia berasal dari ekonomi digital pada 2016 lalu. Presiden juga mengutip riset Oxford yang menyebut bahwa besaran ekonomi digital dunia pada tahun lalu sudah mencapai US$11,5 triliun atau 15,5% dari PDB dunia. Bahkan, pada 2025 mendatang, ekonomi digital bisa menyentuh US$23 triliun atau 24% dari PDB dunia. "Kalau itu dirupiahkan, silahkan hitung sendiri berapa besarannya," ujarnya seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Jokowi meyakini sektor ekonomi digital Indonesia akan berkembang cukup pesat. Hal tersebut sudah dirasakan saat ini. Seperti empat dari tujuh perusahaan rintisan dengan kelas Unicorn di Asia Tenggara berasal dari Indonesia, yakni Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.

Adapun, perusahaan rintisan berkelas unicorn menandakan bahwa valuasi aset masing-masing perusahaan itu sudah di atas US$1 miliar. "Saya juga ingin lebih banyak unicorn yang lahir di Indonesia, yaitu dengan mengekspor teknologinya ke negara-negara lain, intervensi ke negara-negara lain. Kemarin saya senang waktu Go-Jek buka Go-Viet di Vietnam. Saya dengar lagi katanya mau buka di Singapura, namanya Go-Sing. Mungkin ya namanya seperti itu, saya menebak-nebak saja," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memperkirakan kontribusi ekonomi digital terhadap PDB bisa mencapai US$130 miliar. Dengan proyeksi PDB Indonesia mencapai US$1,2 triliun pada tahun itu, maka kontribusi ekonomi digital bisa mencapai 11% dari PDB Indonesia. "Dan itu bahkan lebih besar dibandingkan ukuran-ukuran ekonomi beberapa negara di Asia Tenggara lainnya," ujarnya.

Pada bagian lain, Jokowi mengimbau pelaku usaha digital dan perusahaan rintisan (startup) membantu pemasaran produk pelaku usaha mikro dan ultra mikro. Berkaca pada hasil blusukannya ke beberapa kawasan pedesaan, menurut Presiden, produk-produk yang dihasilkan pelaku usaha mikro dan ultra mikro cukup menarik. Namun, jangkauan pemasarannya terbatas hanya pada skala rumahan saja.

Makanya, dia meminta pelaku usaha digital tak melulu berfokus pada pemanfaatan daring (online), namun juga membantu usaha mikro dan ultra mikro dari segi pengemasan produk, strategi promosi, hingga membuat merek dagang yang kuat (branding).

"Ini harus dimulai oleh yang muda-muda ini untuk membangunkan brand untuk mereka. Yang simpel, yang gampang diingat. Usaha mikro dan ultra mikro Indonesia sudah bagus, tapi perlu disentuh sedikit. Pemerintah tidak mungkin mampu, ini harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa," ujarnya.

Apalagi, tren ekonomi digital dan perusahaan rintisan kini sudah bergerak menuju arah sociopreneur. Artinya, berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat bisa dipecahkan dengan jiwa kewirausahaan.

Jika kemitraan ini bisa terjalin dengan baik, Jokowi yakin pelaku usaha digital akan mendapat pahala melimpah. Sebab artinya, pelaku usaha digital juga ikut membantu peningkatan kesejahteraan pelaku usaha mikro dan ultra mikro yang berada di perkampungan.

Secara terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Indonesia belum sepenuhnya menerapkan Revolusi Industri 4.0 karena masih ada industri yang menggunakan teknologi revolusi pertama, kedua, dan ketiga.

"Dalam praktiknya, kita ini masih ada bagian yang masih di Revolusi Industri Pertama, Kedua, dan Ketiga. Semua orang bermimpi untuk 4.0, padahal masih ada yang pertama, masih ada petani kita yang menggunakan cangkul," ujarnya di Bandarlampung seperti dikutip Antara, Sabtu (8/12).

Menurut JK, memasuki era revolusi industri keempat bukan berarti Indonesia telah selesai dengan perkembangan industri sebelumnya. Ia pun menambahkan, pada beberapa bidang industri di Tanah Air masih menerapkan teknologi lama, seperti penggunaan mesin uap, pengerjaan manufaktur dengan listrik dan komputerisasi. mohar

BERITA TERKAIT

Songsong Era Digital, Kemenperin Beri Pengarahan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menyambut kehadiran 375 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hasil rekrutmen tahun 2018. Jumlah tersebut terdiri…

Perlu Aturan Uang Digital

Di tengah makin maraknya peredaran uang digital, hingga saat ini baik Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlihat…

Dunia Usaha - Otomatisasi dalam Revolusi Industri 4.0 Tidak Bisa Dihindari

NERACA Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai Revolusi Industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus dijalani.…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PENYEBAB PERTUMBUHAN EKONOMI TAK BISA TUMBUH TINGGI - Bappenas: Produktivitas SDM Masih Rendah

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro kembali mengingatkan, pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia…

Pemerintah Perbaiki Regulasi untuk Tekan Kecelakaan Kerja

NERACA Jakarta - Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) akan memperbaiki regulasi untuk memastikan tingkat kepatuhan perusahaan dalam rangka untuk menekan angka…

Atasi Defisit, Perjanjian Dagang Perlu Digalakkan

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyatakan pembahasan dan perundingan perjanjian perdagangan dengan berbagai negara lain untuk melesatkan…