Bilateral dan Multilateral

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

KTT ASEAN ke-33 pada 11-15 Nopember lalu di Singapura membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi kawasan itu ke depan. Indonesia juga berkepentingan dengan agenda ini bukan saja dalam koridor jalinan kerjasama bilateral, tetapi juga multilateral. Terkait ini maka kepemimpinan ASEAN oleh Indonesia pada tahun 2011 lalu yang ditetapkan dalam KTT ASEAN ke-17 pada 28-30 Oktober 2010 di Hanoi, Vietnam haruslah menjadi proses pembelajaran. Artinya,Indonesia harus memetakan semua persoalan yang ada, tidak saja problem internal tapi juga eksternal, termasuk juga kesiapan industri dalam negeri untuk bersaing di AFTA - ACFTA yang mulai berlaku 1 Januari 2010.

Selain itu, ASEAN yang memasuki tahun ke-51 pada 8 agustus 2018 tidak bisa mengelak dari tuntutan era global dan desakan HAM. Oleh karena itu, kasus di Myanmar yang berlarut menjadi ancaman serius bagi eksistensi ASEAN ke depan. Selain itu, konflik yang berkembang di internal juga harus diwaspadai agar tidak makin berlarut sehingga memicu kerentanan terhadap stabilitas ASEAN dalam jangka panjang. Komitmen ini tentu sangat beralasan sebab kasus perseteruan internal tentu bisa memicu riak-riak stabilitas di kawasan itu.

Babak baru pergerakan ASEAN nampaknya semakin kuat. Paling tidak, ini terlihat dalam serangkaian pelaksanaan KTT dengan sejumlah mitra yaitu baik secara bilateral ataupun multilateral. Terkait hal ini salah satunya yang terpenting dipenghujung tahun 2003 lalu yaitu KTT ASEAN -Jepang pada 11-12 Desember di Tokyo yang menghasilkan deklarasi yakni Tokyo Declaration for a Dynamic and Enduring ASEAN-Japan Partnership in the New Millennium. Selain itu, juga ditanandatangani akses Jepang ke Treaty of Amity and Cooperation (TAC). Bagaimana sebenarnya prospek ASEAN ke depan dan khususnya bagi Indonesia? Bagaimana peluang pasca KTT ASEAN ke-33 terutama di tahun 2019?

Proses

Mengacu urgensi jalinan multilateral, petinggi ASEAN menegaskan bahwa esensi ASEAN yaitu untuk bertindak bersama dan juga maju bersama sebagai semangat yang mendasari kerja sama di masa mendatang. Oleh karena itu sangat beralasan jika deklarasi Tokyo itu memuat 4 hal penting menyangkut kerja sama pada bidang politik keamanan, ekonomi, pembangunan dan sosial budaya. Tentu ada banyak agenda yang bisa dimanfaatkan dari pelaksanaan KTT. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika semua potensi kemanfaatan tersebut digali oleh semua delegasi. Terkait ini, forum tahunan seperti ASEAN Ministerial Meeting (AMM) dan ASEAN Regional Forum (ARF), selain KTT, tidak boleh dilewatkan dan harus bermanfaat bagi regional ASEAN terutama mengacu prospek ke depan. Selain itu, perang dagang AS – China harus juga diwaspadai dalam konteks jalinan multilateral, termasuk juga menguatnya hubungan bilatearal ASEAN – Jepang sebagai mitra dialog.

Lepas dari harapan itu, setidaknya ada beberapa hal utama yang digaribawahi. Pertama: bahwa ASEAN dan Jepang merupakan mitra penting dan akan terus menjalin hubungan sebagai mitra penting satu sama lainnya. Kedua: nilai utama yang esensi yaitu komitmen untuk bisa menciptakan Komunitas Asia Timur bersama. Hubungan ASEAN-Jepang akan menjadi pilar utama dari komunitas Asia Timur. Ketiga: persetujuan kemitraan ekonomi antar anggota dan dengan mitra dialog. Keempat: hubungan ASEAN-Jepang bertumbuh menjadi hubungan kemitraan yang dialogis bukan sebagai donor dan penerima bantuan. Kelima: dalam hal keamanan dan politik. Jadi, ada aspek utama terkait AMM, ARF dan APEC, juga KTT ASEAN ke-33 diharapkan menjadi momentum bagi proses ke depan dan keenam: kerja sama antar masyarakat sebagai suatu simbol riil atas kesejahteraan dan kemakmuran bersama, tidak hanya kawasan regional tapi juga kemakmuran era global.

Adanya fakta itu, 51 tahun eksistensi ASEAN dan KTT ASEAN ke-33, di tengah kemajuan atau persoalan intern yang dihadapi, forum dialog dan kerja sama ASEAN memasuki fase baru. Oleh karenanya deklarasi hasil KTT ASEAN di Bali tahun 2004 yaitu Bali Concord II dengan semua rentetan kegiatan tindak lanjut menjadi paradigma baru, embrio untuk menggeser ASEAN bergerak ke sebuah komunitas dan identitas baru yang lebih mengikat dan kuat. Konsep komunitas keamanan, komunitas ekonomi, dan juga komunitas sosial budaya menjadi tiga pilar yang diusung menjadi paradigma baru untuk membangun kawasan baru yang lebih maju se arah tuntutan perubahan di masa datang. Oleh karena itu, forum tahunan AMM, ARF dan juga KTT harus memberikan penyegaran baru bagi harapan kesejahteraan. Jadi, hasil dari KTT ASEAN ke-33 di Singapura memberikan arah perubahan yang dinamis bagi kawasan tersebut ke depan menatap tantangan globalisasi.

Jaminan

Terkait itu, diakui ASEAN mengutamakan dialog dan konsultasi daripada pemaksaan dan konfrontasi, memilih aksi quiet diplomacy dan juga menghindari megaphone diplomacy. Organisasi ini memerhatikan kehormatan bersama dan juga saling memahami situasi dan kesulitan negara anggota lainnya sebagai sesuatu yang mendasar bagi perdamaian dan stabilitas regional dan juga demi masa depan ASEAN sendiri. Dalam ASEAN, isu bilateral diselesaikan secara bilateral tanpa diperumit campur tangan regional atau internasional yang tak perlu. Seperti organisasi regional lainnya, ASEAN sangat berpegang teguh pada konsensus bahwa organisasi tidak mengambil sikap yang akan mengancam kepentingan vital negara anggotanya. Artinya, ancaman konflik internal di ASEAN memang ada.

Kajian terhadap pentingnya forum tahunan AMM, ARF, dan refleksi 51 tahun ASEAN juga pelaksanaan KTT ASEAN ke-33 ini menunjukan bahwa agenda tantangan yang harus dihadapai kawasan ini sangat kompleks, tidak saja intern tapi juga ekstern. Dalam pemahaman ini kita bisa memprediksi bahwa dekade mendatang akan terjadi pergeseran paradigma dari kewilayahan menjadi format lain yang mempunyai cakupan luas dan komprehensif dengan melibatkan kesatuan pemahaman makro yaitu pencapaian shared prosperity dan safety.

Indikasi ke arah new paradigm ini sudah terlihat dari komitmen ASEAN-10 untuk menerima ‘10 mitra dialog’: Australia, Kanada, AS, Jepang, Selandia Baru, Uni Eropa, Korsel, India, China, dan Rusia, serta aktualisasi ASEAN +3 (ASEAN plus 3). Oleh karena itu, ASEAN harus melihat tantangan itu dalam format makro, sebab bukan tidak mungkin dalam perkembangan selanjutnya ASEAN menjadi lebih kuat lagi dan sekaligus memacu perbaikan ekonomi internal. Jadi, refleksi 51 tahun ASEAN dan KTT ASEAN ke-33 kali ini menjadi cambuk untuk terus berbenah demi penguatan regional menuju tahun 2019.

BERITA TERKAIT

Relasi Pasar Domestik dan Pasar Internasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Fenomena globalisasi dan liberalisasi yang ditopang oleh sistem ekonomi digital yang marak…

Rig Tender dan Petrus Sepakat Berdamai

Perkara hukum antara PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS) dengan PT Petrus Indonesia akhirnya menemui kata sepakat untuk berdamai. Dimana…

BPOM Perketat Aturan Perdagangan Obat dan Kosmetik Daring

BPOM Perketat Aturan Perdagangan Obat dan Kosmetik Daring NERACA Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan memperketat aturan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mewaspadai Politisasi Agama di Tahun Politik

Oleh : Ricky Renaldi, Pengamat Sosial Politik Gerakan politik berpotensi muncul apabila terdapat gerakan massa, tidak hanya dalam gerakan jalan…

Ingat KPK, Ingat Teror Pemberantasan Korupsi

Oleh: Desca Lydia Natalia Menghitung risiko saat bekerja di KPK adalah hal pertama yang dilakukan oleh Laode M Syarif setelah…

Infrastruktur: Katakan Apa Adanya Meski Pahit

Oleh: Sarwani Bank Dunia tengah mendapatkan sorotan publik terkait sikapnya yang plin plan menanggapi laporan yang dibuat oleh lembaga itu…