Jumlah Emisi Obligasi Capai Rp 10,8 Triliun

Neraca

Jakarta- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah total emisi obligasi sepanjang 2012 senilai Rp10,8 triliun dari tujuh emisi enam emiten. Angka tersebut berdasarkan data yang dibukukan BEI terhadap beberapa perusahan yang sudah merilis penerbitan obligasi diantaranya, Bank Maluku, SAN Finance, Japfa Comfeed (JPFA), Perum Pegadaian, dan Astra Sedaya Finance.

Informasi tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/3). Disebutkan, PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) juga mencatatkan obligasi subordinasi berkelanjutan I tahap I 2012 sebesar Rp1,5 triliun.

Obligasi subordinasi Bukopin itu mempunyai jangka waktu tujuh tahun dan mendapatkan peringkat dari lembaga Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) "idA" (Single A). Adapun sebagai wali amanat dalam emisi tersebut adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Dengan pencatatan obligasi subordinasi Bukopin, maka total emisi obligasi, sukuk, Efek Beragun Aset (EBA), yang tercatat di BEI berjumlah 188 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp157,42 triliun dan 80 juta dolar AS yang diterbitkan oleh 98 emiten.

Sementara, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 91 seri dengan nilai nominal Rp752,34, dan empat EBA senilai Rp1,4 triliun. Sebelumnya, BEI menargetkan total dana penerbitan obligasi di 2012 mendatang mencapai Rp 40 triliun. "Kami targetkan akan ada 42 emisi obligasi korporasi di 2012, dengan total dana mencapai sekitar Rp 35 triliun hingga Rp 40 triliun," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito.

Masih terkendalinya suku bunga menjadi faktor tersendiri semakin meningkatnya penerbitan obligasi tahun 2012. Selain itu, perspektif ekonomi Indonesia baik ke depan, maka obligasi masih menjadi alternatif pendanaan yang menarik untuk emiten. Hal itu dikarenakan perusahaan membutuhkan pendanaan dalam jangka menengah dan panjang.

Eddy pernah bilang , sektor keuangan seperti perbankan dan multifinance diperkirakan masih mendominasi. "Sektor keuangan termasuk perbankan dan multifinance merupakan bisnis uang. Sektor tersebut membutuhkan pendanaan untuk menengah dan panjang. Tapi saat ini sektor riil sudah mulai banyak yang masuk juga," jelasnya. (bani)

Related posts