Mata Uang Digital Di Indonesia Mulai Tumbuh

NERACA

Jakarta - Pakar keuangan dari Skipjack Corporation Profesor Dr Mike Irvan melihat mata uang digital mulai tumbuh dan berkembang di Tanah Air. "Kami melihat mata uang digital baru ini dapat tumbuh di Indonesia. Hal itu menjadi dasar kami melirik Indonesia," ujar Irvan di Jakarta, Jumat (7/12). Pihaknya akan bekerja untuk menaikan dan memperluas pasar di area konsumer dan bisnis, sehingga bisa membuktikan bahwa telah ada regulasi yang baik bagi mata uang digital tersebut. "Masyarakat juga tahu bahwa pemerintah Indonesia memiliki reputasi bagus," tambah dia.

Skipjack Corporation adalah teknologi internet dan perusahaan pembayaran global yang memungkinkan konsumen, bisnis, bank, dan pemerintah menggunakan mata uang digital. Lembaga ini bertujuan memfasilitasi transfer dana elektronik di seluruh dunia melalui sistem Encrypblock.

Encrypblock menghubungkan miliaran orang setiap hari melalui pembayaraan elektronik. "Teknologi ini merupakan inovasi sistem pembayaran terbaru di dunia. Encrypblock mampu mengotorisasi transaksi lebih dari satu juta transaksi per detik," jelas dia. Skipjack Corporation dan E fortune Indonesia melakukan kerja sama untuk mewujudkan sistem pembayaran tercepat di dunia dan membawa "encrypcurrency" rupiah ke Indonesia.

Direktur E Fortune, Munzir, mengatakan kerja sama itu merupakan langkah besar dalam ekspansi. "Kami dengan memilih Indonesia, karena memiliki iklim investasi encryp dan regulasi yang yang jelas," katanya. Munzir menjelaskan kerja sama itu tidak hanya menguntungkan ekonomi lokal, tetapi juga akan membentuk pondasi operasional yang kuat.

Dunia telah cepat berubah. Kebutuhan uang tunai makin berkurang seiring pesatnya pertumbuhan uang digital dan mata uang digital yang terbukti lebih praktis, aman, dan efisien. Siapkah Indonesia akan perubahan-perubahan ini? Di sejumlah negara, mata uang digital sudah menjadi kebutuhan tak terelakkan. China, Kanada, Swedia, dan Uruguay misalnya saat ini menerapkan perubahan dan pemikiran baru untuk menyuplai mata uang digital ke publik. Bank sentral Swedia, Riks bank, bahkan merencanakan versi perdana mata uang digital yang disebut e-krona pada 2019.

Data Riksbank menunjukkan bahwa warga Swedia termasuk salah satu masyarakat yang paling sedikit menggunakan uang tunai di dunia. Tercatat hanya 13% warganya menggunakan uang tunai untuk sebagian besar pembelian terbaru di toko. Publik dunia kini tak terasa juga makin dimanjakan dengan kehadiran uang elektronik (e-money ) yang dihadirkan para penyedia metode pembayaran. Di Indonesia misalnya bermunculan uang elektronik Go-Pay, OVO, DOKU, T-Cash dan LINE Pay. Di China dikenal Ali Pay dan WeChat, India dengan Pay TM, dan Kenya dengan M-Pesa.

Perkembangan uang digital pun tak sekadar non-tunai (cashless). Kemajuan teknologi juga memunculkan mata uang kripto (crypto currency). Penggunaan mata uang digital secara aman juga mengemuka pada The Bali Fintech Agenda yang diluncurkan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bali, Oktober lalu.

BERITA TERKAIT

Bank Mandiri Targetkan Transaksi Digital Tumbuh 30%

      NERACA   Jakarta – SEVP Consumer and Transaction PT Bank Mandiri (Persero) Jasmin menargetkan transaksi digital melalui…

Indonesia Jadi Importir Gula Terbesar di Dunia

NERACA Jakarta – Apapun niat pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, namun bila dilakukan dengan kebijakan impor tentu saja menuai pro…

PDIP: Pidato Kebangsaan Prabowo Menyerang dan Menihilkan Prestasi Indonesia

PDIP: Pidato Kebangsaan Prabowo Menyerang dan Menihilkan Prestasi Indonesia NERACA Jakarta - Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto telah menyampaikan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank BUMN Minta Pengaturan Bunga Deposito

      NERACA   Jakarta - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memandang saat ini industri perbankan masih memerlukan pengaturan…

Realisasi KUR 2018 Capai Rp120 Triliun

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang 2018…

BNI Belum Putuskan Soal Kerjasama WeChat dan Alipay

    NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) masih belum menentukan keberlanjutan kerja sama dengan dua perusahaan…