Bunga KPR Disebut Bakal Naik di 2019

NERACA

Jakarta - Ekonom Andry Asmoro mengemukakan, kenaikan suku bunga acuan akan semakin meningkatkan potensi kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA) pada 2019. "Tantangan ke depan adalah lebih kepada suku bungan KPR yang kemungkinan naik pada 2019," kata Andry Asmoro dalam peluncuran Rumah.com Property Outlook 2019 di Jakarta, Kamis.

Namun, meski mengalami kenaikan, perkembangan properti diperkirakan terus naik tahun depan. Hal tersebut dapat terindikasi antara lain dari masih banyaknya promo dari perbankan terkait KPR/KPA. Apalagi, ia mengingatkan bahwa KPR masih menjadi salah satu andalan warga dalam membeli rumah. "Jadi memang KPR masih kencang untuk pembiayaan rumah sehingga juga tetap akan menarik bagi perbankan ke depannya," ujarnya.

Sementara itu, Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan menyatakan, harga dan pasokan properti, terutama untuk sektor residensial, diperkirakan akan meningkat pada tahun 2019. Menurut dia, diprediksi bahwa permintaan pasar pada tahun depan akan tetap stabil, sedangkan permintaan untuk properti kelas menengah atas bakal meningkat.

"Pemerintah meningkatkan anggaran infrastruktur sebesar 6 persen dari tahun sebelumnya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sejumlah kebijakan pemerintah lainnya seperti pelonggaran 'loan to value' (LTV), serta program Sejuta Rumah membantu memudahkan masyarakat, terutama kelas menengah dan bawah untuk memiliki hunian," tambah Ike.

Pembicara lainnya, Ketua Umum DPP Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan (Himperra) Endang Kawidjadja menyatakan, penjualan rumah subsidi di berbagai tempat dinilai tidak goyah dengan volatilitas kondisi ekonomi. Menurut Endang, salah satu penjelasan kenapa rumah subsidi atau tempat tinggal untuk menengah-bawah tidak goyah antara lain karena adanya "trickling effect".

Hal yang dimaksud dengan itu adalah adanya efek semakin mahalnya harga properti mewah sehingga membuat kalangan yang mampu juga lebih memilih untuk membeli rumah yang lebih murah seperti rumah subsidi. Sebelumnya, Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute, Riski Wicaksono menekankan pentingnya agar penyelenggaraan Pemilu 2019 dapat berjalan dengan lancar karena akan berdampak kepada semakin kondusifnya kondisi perekonomian nasional di tengah iklim global yang masih tidak menentu.

"Penyelenggaraan Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif memiliki skala yang lebih luas dibandingkan dengan Pilkada 2018," kata Riski Wicaksono di Jakarta, Kamis (19/7). Menurut dia, pihaknya msmproyeksikan bahwa Pemilu 2019 jika berjalan kondusif akan beriringan dampaknya dengan kondisi peekonomian serta berpotensi meningkatkan pertumbuhan di beberapa sektor perekonomian.

Salah satu bank yang siap untuk menaikkan bunga adalah PT Bank Mandiri. Bank Mandiri mulai menaikkan suku bunga kredit konsumsi, khususnya kredit pemilikan rumah, pada tahun depan. Consumer Loan Head Group Bank Mandiri Ignatius Susatyo mengatakan, pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) sejauh ini masih mengalami perlambatan, dari sisi pencairan kredit. Namun, hal itu bukan disebabkan oleh kenaikan suku bunga KPR. “Suku bunganya masih bagus, coba bayangkan BI rate naik terus, suku bunga KPR di Mandiri itu, yang fix itu masih di bawah 7%, Mandiri masih jual 6,88% di fix 3 tahun,” katanya.

Dia menuturkan, peningkatan bunga baru akan dilakukan pada tahun depan. Bunga fix yang ditawarkan perseroan akan dikerek ke kisaran 7% pada tahun depan. “Bunganya juga pasti saya adjust, tahun depan mungkin sekitar 7% lah.” jelasnya. Meski akan menaikkan suku bunga KPR, perseroan akan mengimbangi kenaikan tersebut dengan kerja sama bersama pengembang agar penyaluran kredit tetap bisa tumbuh. Salah satunya dengan menjalin kerja sama melalui paket penjualan dan diskon harga. Selain itu, perseroan akan memaksimalkan potensi pasar rumah murah di bawah Rp500 juta.

Menurutnya, pembeli pada segmen tersebut tak rentan terhadap efek tahun politik. Hal itu tidak seperti segmen rumah harga di atas Rp1 miliar. Segmen pembeli rumah pertama, lanjutnya, saat ini mencapai lebih dari 60% dari komposisi KPR perseroan. Sebaliknya, segmen rumah investasi yang tadinya mencapai 55% kini mulai berkurang menjadi sekitar 35%. Pergeseran juga terjadi pada golongan debitur. Dia menuturkan, segmen karyawan atau pekerja yang tadinya baru mencapai sekitar 50% dari total debitur KPR, akan didorong hingga mencapai kisaran 60% hingga akhir tahun ini dan berlanjut hingga 2019.

Selain menggeser target pasar ke segmen menengah dan bawah, perseroan juga akan memanfaatkan timing untuk menggenjot penyaluran kredit. Misalnya, perseroan mengincar penyaluran KPR secara intensif menjelang waktu pembagian bonus, ataupun tunjangan hari raya para pekerja.

BERITA TERKAIT

Ex-Officio Disebut Bakal Gerus Investasi di Batam

  NERACA   Jakarta - Peneliti Insitute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus menegaskan wacana pemerintah…

Badan Kehormatan Dewan Tertibkan Pengawasan Seluruh Anggota - Masukan Program Dalam Paripurna DPRD Kota Depok 2019

Badan Kehormatan Dewan Tertibkan Pengawasan Seluruh Anggota Masukan Program Dalam Paripurna DPRD Kota Depok 2019 NERACA Depok - ‎Badan Kehormatan…

OJK Siapkan Lima Kebijakan Dorong Pertumbuhan 2019

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan lima inisiatif kebijakan untuk mendukung pembiayaan sektor-sektor prioritas pemerintah,…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank BUMN Minta Pengaturan Bunga Deposito

      NERACA   Jakarta - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memandang saat ini industri perbankan masih memerlukan pengaturan…

Realisasi KUR 2018 Capai Rp120 Triliun

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang 2018…

BNI Belum Putuskan Soal Kerjasama WeChat dan Alipay

    NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) masih belum menentukan keberlanjutan kerja sama dengan dua perusahaan…