Kesehatan APBN Jadi Perhatian - Terkait Kenaikan Minyak Dunia

NERACA

Jakarta---Masalah kenaikan harga minyak mentah dunia membuat negara harus bisa mengelola APBN secara bijak. Karena ini menyangkut keuangan negara dan perekonomian nasional. Sehingga bisa tetap dapat berjalan dengan baik. "Urusan jangka pendek ini tidak hanya berkaitan dengan sisi ekonomi, ada pula aspek politik sosial dan keamanan. Mari kita lihat secara utuh maka ketika memilih opsi, tepat," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta,7/3

Kepala Negara menambahkan masalah minyak ini tersebut penanganannya sangat kompleks dan tidak hanya terkait dengan ekonomi dan anggaran semata. "Minggu terakhir ini harga minyak dunia kembali meroket, tentu memiliki pengaruh dan dampak penting bagi kesehatan APBN, subsidi dan fiskal, masalah ini harus kita kelola, cari opsi dan pilihan yang tepat," tambahnya

Lebih jauh Presiden mengungkapkan saat ini momentumnya sangat tepat di tengah terjadinya masalah energi khususnya minyak mentah yang harga jualnya di pasaran dunia terus meningkat akibat sejumlah masalah internasional. "Sisi lain dari tren dan realitas ini, energi akan menjadi sumber pertentangan, sumber konflik yang bisa menimbulkan krisis di dunia. Bila kita cerdas dan bijak mari kembangkan kebijakan energi baik secara nasional dan global strategi agar terhindar dari konflik terbuka," ungkapnya

SBY menjelaskan pada tingkat domestik, ada kecenderungan permintaan terhadap energi semakin meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan juga pertumbuhan ekonomi. "Konteks nasional, tahun terakhir ini ada raising domestik demand. Kita bisa ukur potensi yang kita miliki untuk sumber energi dan kapasitas riil yang dimiliki dan peluang dimasa depan. Untuk memenuhi permintaan ini, kita berkepentingan miliki sebuah kebijakan nasional dan implementasi yang tepat," kata Presiden.

Yang jelas pemerintah melakukan perombakan total asumsi perhitungan APBN 2012 dalam APBN Perubahan. Dalam perubahan tersebut, inflasi 2012 diasumsikan mencapai 7% dari sbelumnya 5,3%. Alasanya, hal ini terkait dengan rencana kebijakan administered price di bidang energy. Selain inflasi, pemerintah juga merevisi pertumbuhan ekonomi di tahun 2012 dari 6,7% menjadi 6,5%.

Meskipun fundamental ekonomi domestik cukup baik dan didukung dengan rencana pemanfaatan SAL (sisa anggaran lebih) untuk tambahan belanja infrastruktur, namun tekanan dari perlambatan ekonomi dunia dan dampak inflationary kebijakan di bidang energi diperkirakan cukup siginifikan, sehingga pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mengalami koreksi menjadi sebesar 6,5%

Asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga melemah dari semula Rp 8.800/US$ dalam APBN 2012 menjadi Rp 9.000/US$. Suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan menurun dari 6% menjadi 5%.

Sementara asumsi harga minyak juga berubah dari awalnya US$ 90 per barel dalam APBN 2012 menjadi US$ 105 per barel, dan lifting atau produksi minyak melemah dari 950 ribu barel per hari menjadi 930 ribu bph.

Seiring dengan tren pergerakan harga minyak internasional yang diprediksi akan meningkat, harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) pada tahun 2012 diperkirakan mengalami peningkatan hingga mencapai US$ 105 per barel, atau naik US$ 15 per barel jika dibandingkan dengan rata-rata harga minyak ICP yang diasumsikan dalam APBN 2012 sebesar US$ 90 per barel

Seperti diketahui, dalam APBN Perubahan 2012 ini pemerintah mengajukan kenaikan harga BBM subsidi Rp 1.500 menjadi Rp 6.000/liter. **mohar/cahyo

Related posts