Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor - Penilaian Menteri

NERACA

Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa menjadi momentum bagi pengusaha nasional guna meningkatkan produksi dan ekspor.

"Fenomena 'trade war' antara China dengan Amerika, saya berharap seluruh pelaku bisnis perikanan Indonesia mengambil momen ini untuk lari, untuk loncat meningkatkan produksi dan ekspor," kata Susi Pudjiastuti dalam siaran pers, disalin dari Antara.

Susi menekankan jangan sampai mengulangi era tahun 2000-2004, di mana AS menerapkan antidumping kepada sejumlah negara seperti China dan Thailand, seharusnya bisa membuat budidaya Indonesia menjadi bangkit, tetapi ternyata udang nasional banyak dijual kepada berbagai pihak yang terkena antidumping tersebut yang berupaya menjualnya ke Amerika.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyoroti dampak lanjutan dari perang dagang yang dapat memberikan efek negatif bagi Indonesia. Dalam seminar nasional Institute for Development of Economics and Finance (Indef) di Jakarta, Rabu (28/11), Darmin menjelaskan bahwa perang dagang akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi dari dua negara yang terlibat, yaitu Amerika Serikat (AS) dan China. Darmin mengatakan dampak lanjutan yang menerpa Indonesia tidak mudah ditemukan solusinya karena harus mencari pasar ekspor lain untuk tetap menjual bahan baku tersebut.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan Indonesia harus menyiapkan materi dan posisi yang jelas serta negosiator yang unggul dalam menghadapi era perang dagang bilateral dan melemahnya mekanisme solusi multilateral yang makin kompleks.

Sri Mulyani menjelaskan hal tersebut patut dilakukan karena pemulihan ekonomi yang masih belum merata serta kebijakan ekonomi antara negara yang makin tidak sinkron dan tidak searah diperparah oleh kebijakan konfrontasi perdagangan.

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan Pemerintah Indonesia mendorong perbaikan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan China, khususnya di bidang ekonomi, sehingga berdampak baik pada kondisi perekonomian di Indonesia.

"Kita harapkan hubungan (AS) dengan China ya tahap demi tahap akan membaik, karena kalau merusak kedua belah pihak, maka akan berimbas pada negara lain termasuk Indonesia," kata Wapres Jusuf Kalla melalui konferensi pers lewat video di sela-sela kunjungannya ke Argentina dalam rangka menghadiri KTT G20, sebagaimana disalin dari Antara.

Wapres mengatakan Indonesia berperan dalam mendorong perbaikan hubungan dagang AS dan China karena dengan peningkatan hubungan kedua negara tersebut, maka nilai ekspor Indonesia akan membaik.

"Di situ letaknya posisi Indonesia, bagaimana kita harapkan ekonomi perdagangan dunia ini lebih baik. Kalau industri Amerika dan industri China menurun, pasti harga ekspor kita akan menurun," tambahnya.

Pembicaraan hubungan dagang antara AS dan China menjadi salah satu fokus Wapres Jusuf Kalla dalam menghadiri KTT G20 tersebut, selain juga membahas peningkatan hubungan perekonomian di dunia.

Wapres berharap konflik perang dagang AS dan China tersebut dapat selesai di forum KTT G20. "Sampai hari ini diharapkan bisa selesai, apa bisa selesai hari ini atau apa, itu belum ada bayangan karena masih bicara para menteri, diwakili oleh Menkeu dan juga Wamenlu nanti bicara," katanya.

G20 merupakan forum kerja sama di bidang perekonomian yang diikuti oleh 19 negara dengan ekonomi terbesar dan strategis, ditambah organisasi supranasional Uni Eropa. Selain dorongan kebijakan untuk menekan potensi perang dagang tersebut, Indonesia juga membawa sejumlah isu perekonomian antara lain komitmen sistem perdagangan multilateral, pembentukan sistem pajak internasional, peningkatan partisipasi ekonomi negara berkembang, serta peningkatan koordinasi dan sinergi kebijakan makro ekonomi.

KTT G20 mengambil tema Membangun Konsensus untuk Pembangunan yang Berkelanjutan dan Adil, dengan mengusung tiga agenda prioritas yaitu meningkatkan inklusivitas dan mengurangi kesenjangan melalui pemanfaatan teknologi, investasi pendidikan dan pelatihan, serta kebijakan fiskal dan reformasi struktural.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, beberapa hal yang patut diperhatikan adalah menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan menjaga neraca perdagangan agar tidak mengalami defisit. “Pemerintah perlu memprioritaskan neraca perdagangan agar jangan sampai defisit,” kata Assyifa disalin dari siaran resmi.

BERITA TERKAIT

Pasar Ekspor Meningkat - KPAS Tingkatkan Kapasitas Produksi 300%

NERACA Jakarta – Tahun depan, emiten produsen kapas PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) berencana meningkatkan kapasitas produksi sebesar 300% menjadi…

KPPU Jamin Semua Orang Bisa Menjadi Pengusaha

KPPU Jamin Semua Orang Bisa Menjadi Pengusaha NERACA Tasikmalaya – Anggota KPPU Kodrat Wibowo di awal kuliah umum yang diselenggarakan…

Penetrasi Bisnis LNG Skala Kecil Pertamina ke Industri Wisata dan Horeka - Sangat Strategis

Penetrasi Bisnis LNG Skala Kecil Pertamina ke Industri Wisata dan Horeka Sangat Strategis NERACA Jakarta - Penetrasi bisnis gas alam…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

Ekspor Melalui Kuala Tanjung Ditargetkan Capai 1.000 TEUS

NERACA Jakarta – Ekspor langsung melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, ditargetkan bisa mencapai hingga 1.000 TEUs saat dioperasikan pada…