Pasar Modal Syariah Tumbuh Signifikan

NERACA

Jakarta- Positifnya kinerja industri pasar modal juga seirama dengan perkembangan industri pasar modal syariah di tahun ini. Bahkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, pasar modal syariah terus tumbuh signifikan di tengah tantangan perekonomian nasional dan global.”OJK memiliki inisiatif untuk eksplorasi pasar modal syariah dan pengembangan investornya,”kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, perkembangan industri pasar modal syariah salah satunya dapat dilihat dari saham syariah. Pada 23 November 2018, OJK telah menerbitkan daftar efek syariah yang berisi 407 saham dan berlaku efektif pada tanggal 1 Desember 2018. Jumlah itu meningkat 6,5% dibandingkan akhir tahun 2017 dengan jumlah 382 saham.

Sementara untuk konstituen indeks saham syariah Indonesia (ISSI) sebesar 391 saham. Jumlah itu meningkat 7,1% sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD). Sebaliknya, dari segi kapitalisasi pasar terjadi penurunan sebesar 3,7% menjadi Rp3.567 triliun pada akhir November. Untuk sukuk, kata Hoesen, terdapat peningkatan jumlah sukuk "outstanding" sebesar 36,7% (YTD) dan nilai sukuk "outstanding" meningkat 45,2%.

Kata Hoesen, saat ini terdapat 108 sukuk korporasi "outstanding" dengan nilai 22,8 triliun rupiah. Jumlah itu lebih besar dibandingkan 'outstanding' pada tahun 2017 dengan jumlah 79 sukuk dan nilai Rp15,7 triliun. Peningkatan juga terjadi pada instrumen reksa dana syariah. Hoesen memaparkan jumlah reksa dana syariah meningkat 21,4% YTD dan nilai aktiva bersih reksa dana syariah meningkat 19,8%.

Saat ini, dirinya menambahkan, terdapat 221 reksa dana syariah dengan nilai aktiva bersih sebesar Rp33,9 triliun. Jumlah itu meningkat dibandingkan 2017 dengan jumlah 182 reksa dana syariah dan nilai aktiva bersih Rp28,3 triliun. Kemudian memasuki tahun 2019, lanjut Hoesen, terdapat berbagai tantangan baik dari domestik maupun eksternal yang perlu dihadapi, mulai dari Bank Sentral Amerika Serikat yang menaikan suku bunga menjadi 2,25% dan faktor perang dagang.

Sedangkan pada sisi domestik, lanjut dia, Indonesia menghadapi tantangan defisit neraca transaksi berjalan. Hingga kuartal ketiga 2018 terdapat defisit transaksi berjalan sebesar US$ 22,4 miliar. Menurut dia, dalam rangka menghadapi tantangan itu, diperlukan kerja sama antar berbagai "stakeholders" untuk mengeksplorasi instrumen-instrumen baru dan mengembangkan basis investor pasar modal syariah.”Pada tahun 2018 terdapat tiga sukuk yang diterbitkan dengan akad wakalah. Penambahan jenis akad itu diharapkan dapat mempermudah dan mendukung penerbitan sukuk korporasi," kata Hoesen.

Saat ini, lanjut dia, OJK juga sedang melakukan kajian terkait sukuk wakaf, terdapat 435.944 hektare tanah wakaf yang mayoritas bukanlah aset wakaf produktif. “Berdasarkan 'benchmark' dari negara lain, dengan memanfaaatkan sukuk, terdapat potensi untuk mengubah aset tersebut menjadi aset produktif," ujar Hoesen.

BERITA TERKAIT

Pemilu Berjalan Damai - Pelaku Pasar Modal Merespon Positif

NERACA Jakarta – Pasca pemilihan umum (Pemilu) 2019, data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan kemarin menunjukkan respon positif,…

Berikan Pengalaman Pasar Modal - IPB Gandeng BEI Bangun Mini Bursa

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan investor pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB,…

Konsumsi Pasar Global Meningkat - Penjualan Mark Dynamics Berpeluang Tumbuh

NERACA Deli Serdang – Permintaan sarun tangan karet global yang terus meningkat tiap tahunnya, menjadi berkah tersendiri bagi PT Mark…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Bersih Siantar Top Naik 17,95%

NERACA Jakarta – Di tahun 2018 kemarin, PT Siantar Top Tbk (STTP) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 17,95% secara…

LMPI Targetkan Penjualan Rp 523,89 Miliar

NERACA Jakarta – Meskipun sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Langgeng Makmur Industri Tbk (LMPI) masih mencatatkan rugi sebesar Rp 46,39…

Bumi Teknokultura Raup Untung Rp 76 Miliar

PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) membukukan laba bersih Rp76 miliar pada 2018, setelah membukukan rugi bersih sebesar Rp31,48 miliar…