BI prediksi pertumbuhan Kredit bisa 24%

NERACA

Jakarta—Bank Indonesia memprediksi dan bahkan optimis pertumbuhan kredit perbankan 2012 optimistis mencapai sekitar 24%. Agaknya pertumbuhan pada 2012 tak jauh beda dengan pertumbuhan 2011. "Pertumbuhan kredit ini harus didukung penguatan permodalan dan likuiditas. Dua hal ini harus menjadi perhatian perbankan. Kalau tidak, akan sulit," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad di Jakarta,7/3

Terkait kenaikan bahan bakar minyak (BBM) terhadap industri perbankan, Muliaman mengaku hingga saat BI masih terus melakukan pengkajian. Namun, menurutnya dampak terhadap pertumbuhan kredit perbankan tidak signifikan.

Berdasarkan catatan Desember 2011, BI mencatat pertumbuhan kredit (tidak termasuk kredit channeling) sebesar 24,5% dibandingkan tahun 2010. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada 2010 sebesar 22,9%. Adapun jumlah penyaluran kredit sampai dengan Desember 2011 bertambah sebesar Rp 48 triliun dari posisi sebelumnya hingga mencapai Rp 2.199 triliun.

Sebelumnya, Gubernur BI, Darmin Nasution menilai, pertumbuhan kredit saat ini telah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang ada dan tidak terlalu tinggi. "Kenapa terlalu tinggi, tahun lalu pada waktu pertumbuhan ekonomi kita 6,2%, pertumbuhan kredit kita juga 23%. Jadi kalau naik jadi 6,5% pertumbuhan ekonominya, masa terlalu tinggi," ujarnya

Darmin menilai, pertumbuhan kredit malah memiliki peluang untuk tumbuh di atas RBB 2011. "Masih, malah sebetulnya kita melihat masih ada ruang untuk sedikit lebih tinggi. Ya, gak banyaklah," ungkapnya. "Rencana Bisnis Bank itu 24%, saya kira sih waktu lihat RBB, itukan sebenarnya kita sudah perhitungkan pertumbuhan akan sedikit lebih tinggi thun ini dibanding tahun lalu. Jadi tidak cukup atau tidak ada dasar untuk menganggap 23% itu pertumbuhan kredit ketinggian," tambahnya.

Sebelumnya, BI mencatat adanya penurunan suku bunga kredit sebesar 2 bps. Penurunan rata-rata suku bunga kredit tersebut didorong oleh Bank Asing yang menurunkan bunga kredit konsumsinya hingga 80 bps atau 0,8%. Bank sentral juga mencatat penurunan rata-rata suku bunga deposito 1 bulan sebesar 3 bps.

Dalam laporan Bank Indonesia mengenai suku bunga yang tertuang dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) Juni 2011 menyebutkan suku bunga perbankan (deposito dan kredit) cenderung tidak berubah dari bulan sebelumnya. Data realisasi per April 2011 menunjukkan rata-rata suku bunga deposito 1 bulan turun tipis sebesar 3 bps dari bulan sebelumnya, sementara rata-rata suku bunga kredit yang rata-rata dari suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Investasi (KI) dan Kredit Konsumsi (KK) hanya turun sebesar 2 bps dari bulan sebelumnya. **maya

Related posts