Berkiprah Menembus Fashion Internasional - Designer dan Owner Moslem Fashion Gallery : Jeny Tjahyawati

Neraca. Keragaman budaya Nusantara memang tak surut menginspirasi para desainer dalam Indonesia, termasuk Jeny Tjahyawati, designer berbakat sekaligus pemilik Moslem Fashion Gallery.

Kreativitasnya merancang busana muslimah bahkan mengundang decak kagum kalangan desainer ternama dan pemerhati fashion dunia, saat karyanya dipentaskan di atas catwalk area utama Hall 4 Le Bourget Exhibition Center, Paris-Perancis, Desember lalu.

Pameran busana muslim yang baru kali pertama di gelar di Paris ini, konon disaksikan sekitar 100.000 pengunjung muslim dari berbagai penjuru Eropa. Indonesia memang diundang sebagai tamu kehormatan karena dinilai pantas menjadi kiblat fashion muslim, terlebih Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar.

Jeny menjadi salah satu dari 12 perancang asal Indonesia yang turut dalam ajang ‘International Fair of the Muslim World’. Ia memilih tenun khas Nusa Tenggara Timur sebagai inspirasinya dalam ajang bertemakan ‘Craftlore’ itu.

Dan untuk pagelaran fashion show di Paris, dia mengusung tema Bali Monojuku (Kimono Harajuku) yang mengangkat tenun Bali. Dengan gaya kimono dan harajuku yang terkenal dengan paduan warna gaya khas anak muda.

Ditemui di galerinya di Bilangan Cipinang Cempedak Jakarta Timur, Jeny akrab ia disapa, menuturkan rasa syukur dan kebanggaannya atas perjalanan kariernya sebagai seorang desainer busana muslimah, terlebih dapat tampil bersama koleganya untuk memperkenalkan keunggulan desainer Indonesia di mata dunia, “Alhamdulillah,” ucapnya bersyukur kehadirat Ilahi.

Lulusan terbaik Akademi Seni Rupa Dan Desain Mode ISWI Jakarta tahun 1987 dan pernah menimba ilmu di Sekolah mode Susan Budiarjo ini, mengaku ingin menyajikan kekayaan budaya Indonesia yang terdiri atas berbagai macam suku dan keindahan alam. Dengan merangkum seluruh keindahan itu dalam tema rancangan ‘Culture Rhytim.’

Dalam setiap koleksi, warna biru menjadi palet utama desainer yang selalu tampil modis ini. Menurut Jeny, biru merupakan warna yang bisa dikenakan siapa saja dan memberi kesan anggun dan dewasa pada pemakainya.

Kedua kesan tersebut kian menonjol tatkala ia menggunakan bahan feminin layaknya chiffon silk yang melayang lembut dan membingkai manis tubuh pemakainya. Untuk siluet, dia banyak menghadirkan pola yang cenderung klasik, yakni empire, A-line, dan H-line. “Selain feminin, ada kesan elegan yang begitu kuat,” jelas Jeny.

Untuk menghindari kesan monoton, Jeny pun menampilkan berbagai bentuk gamis, tunik, dengan blus longgar plus rompi sebagai pemanis. Model mix and match-pun masih jadi andalan desainer berkacamata ini untuk memperkaya variasi koleksinya.


Berbusana Muslim

Karya besutan Jeny memang terkesan mewah meski dibuat bergaya dengan memadupadankan secara dinamis, yang memang ditujukan demi memenuhi permintaan busana formal namun tidak berlebihan. “Saya mengedepankan unsur praktis sehingga terlihat elegan, tapi mudah digunakan,” ungkap penggemar tempe dan sambal ini.

Desainer yang memiliki ciri khas permainan potongan pada pola dan detail sebagai ornamen yang dapat menyatu dengan busana ini di sebagian besar rancangannya, menjelaskan bahwa busana kreasinya terbilang fleksibel karena termasuk kategori ready to wear.

“Tidak semuanya dibuat model gamis, tapi ada juga yang dipadupadankan dengan rompi, celana, rok panjang, syal, dan lainnya,” terangnya.Termasuk untuk jilbab, yang dibuat mudah digunakan, “Penggunaannya lebih praktis, karena bisa dikreasikan dengan berbagai macam model seperti turban, atau yang bisa digunakan untuk syal,” ungkap perempuan kelahiran Kota Malang ini.

Untuk mempercantik kreasi busananya, Jeny menggunakan berbagai aksesori. Seperti kalung yang terbuat dari kumpulan sisa benang jahit yang dirangkai menjadi satu atau batu-batu alam yang umum digunakan sebagai aksesori/. “Untuk menonjolkan keistimewaan batu-batu tersebut, maka kita bungkus dengan kumpulan benang-benang jahit beraneka warna,” ujarnya.

Sifatnya yang fleksibel, praktis, elegan dan dapat dipadupadankan dengan berbagai busana lainnya, ternyata tak hanya dapat dikenakan oleh kaum muslim saja. “Busana ini juga bisa digunakan untuk non muslim, karena semua busana ini tidak harus diset dengan jilbab, dan semua bagiannya terpisah,” ungkapnya menjelaskan.

Sosok yang aktif dalam kepengurusan APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) pada Divisi Pameran Luar Negeri dan Dalam Negeri ini, menilai bila pangsa pasar dan segmentasi usia yang dibidik melalui hasil rancangannya adalah kalangan perempuan dengan usia 17-45 tahun. Untuk memfasilitasi keinginan target marketnya, ia pun memilih menggunakan warna kain yang cerah seperti biru muda, kuning, atau hijau, dengan harga berkisar Rp 200.000 hingga Rp 4,5 juta, mulai busana cassual hingga gaun muslimah resmi nan mewah.

Bersama desainer lainnya, seperti Taruna Kusmayadi, Anastasia, Sofie dan sejumlah Industri Kecil Menengah (IKM), ia pun membangun industri fashion bermerk, RENEO, yang diharapkan mampu mendobrak pangsa pasar di dunia internasional melalui acara fashion yang mereka ikuti disejumlah negara.

Bahkan untuk lebih menggairahkan perempuan Indonesia menggunakan busana muslimah, ia bersama lima orang designer busana muslim lainnya membentuk Hijabers Mom Community melalui jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, November 2011 lalu. “Baru dua bulan, follower kita sudah 1500 orang,” ujarnya. Bahkan sudah mulai merambah kesejumlah daerah dengan membentuk cabang Hijabers Mom Community, dibawah sebuah organisasi, ‘Yayasan Komunitas Hijabers Mom.’

Yayasan Komunitas Hijabers Mom, jelas Jeny, merupakan kumpulan perempuan berjilbab terutama para ibu yang berasal dari berbagai latar belakang. “Setiap bulan, kami menggelar acara pengajian dan setiap tiga bulan kita mengadakan event besar, baik talk show, bazaar, fashion show, dan lain-lain,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa Yayasan Komunitas Hijabers Mom telah menjalin kerjasama dengan BNI Syariah, dengan harapan akan memberi manfaat bagi semua anggotanya. “Semua anggota Hijabers Mom kelak akan memiliki kartu BNI Syariah,” ungkapnya. Hijabers Mom kini sudah berkembang berbagai kota di seluruh Indoensia, antara lain; Bandung, NTB, Yogyakarta, Palembang, dan lainnya.

Ia berharap, melalui Hijabers Mom Community, kelak akan lebih menggairahkan kaum perempuan untuk menggunakan busana muslimah. “Melihat potensi dan keragaman seni budaya, kami bertekad untuk mengangkat dengan mengemasnya dengan lebih baik, sehingga dapat lebih diterima, bukan hanya bagi masyarakat tersebut namun bagi masyarakat luas bahkan internasional,” ujarnya berharap. (ade)


Related posts