PTBA Bakal Bagikan Dividen Sebesar Rp 1,54 Triliun - Bidik Pendapatan 14 Triliun di 2012

Neraca

Jakarta - Mencatatkan laba bersih Rp 3,085 triliun di akhir tahun 2011 atau naik 54,25% dari Rp 2 triliun di tahun 2010 lalu, menjadi pertimbangan bagi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk membagikan dividen payout ratio 50%-60% tahun buku 2011.

Direktur Utama PTBA Milawarman mengatakan, dengan laba Rp 3,08 triliun maka kisaran dividen perseroan akan mencapai Rp 1,54 triliun. "Biasanya memang kami tawarkan dividen sekitar 50% hingga 60%," katanya di Jakarta, Selasa (6/3).

Namun, belum diketahui pasti dividen yang akan dibagikan sampai ada RUPS tahunan yang diselenggaran PTBA kemudian. Kenaikan laba bersih perseroan juga ikut mengerek laba bersih saham perseroan yang naik menjadi Rp 1.339 per lembar dari sebelumnya Rp 872 per lembar.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan penjualan mencapai Rp 10,581 triliun di akhir tahun 2011, dari sebelumnya di 2010 sebanyak Rp 7,909 triliun. Beban pokok penjualan juga ikut naik, dari Rp 3,65 triliun menjadi Rp 5,302 triliun.

Rasio beban terhadap penjualan pun ikut naik meski hanya tipis sehingga tidak terlalu berpengaruh kepada perolehan pendapatan. Laba kotor emiten berkode PTBA itu pun terkerek menjadi Rp 5,278 triliun dari sebelumnya Rp 3,650 triliun.

Ditahun 2012, PTBA membidik pertumbuhan omset 70% tahun 2012 menjadi Rp 13,5 triliun-Rp 14 triliun, dari periode sebelumnya Rp 10,58 triliun. Kata Milawarman, peningkatan harga batu bara dan produksi yang bertambah menjadi pemicu peningkatan pendapatan bersih BUMN pertambangan ini sepanjang 2012. "Kita harapkan bisa Rp 13,5 triliun. Dengan segitu aja bisa naik 70%," tandasnya.

Dia menjelaskan, produksi batu bara perseroan tahun ini diprediksi mencapai 17,42 juta ton, atau naik dari periode sebelumnya 12,95 juta ton. Sedangkan total penjualan naik 39% menkadi 18,66 juta ton dari periode sebelumnya 13,5 juta ton.

Kemudian harga batu bara yang dikirim mulai tahun 2012 diperkirakan naik pada kisaran 3%-10%. "Harga batu bara waktu itu ada indikasi turun, karena China turun. Tapi dari terakhir, Indikasi malah kebalikan. Mulai ada peningkatan harga batu bara. Masih menunggu produsen Australia yang akan kirim batu bara dalam jumlah besar dengan perusahaan Jepang, “jelasnya.

Selanjutnya, adanya indikasi minyak dunia naik karena pembatasan perdagangan minyak Iran akan mengerek juga penjualan batu bara PTBA. Karena, saat ini juga sudah banyak perusahaan China yang berburu batu bara ke PTBA, dan produksi juga sudah full operation.

Dia menambahkan, volume angkutan juga diharapkan naik, karena adanya komitmen dari PT Kereta Api. Distribusi emas hitam ini akan naik menjadi 15,6 juta ton. Masing-masing 12,9 juta ton ke Pelabuhan Tarahan di Bandar Lampung, kemudian 2,7 juta ton ke Dermaga Kertapati di Palembang.

Sengketa Pertambangan

Perseroan mengakui berpotensi kehilangan dana sekitar US$2,3 miliar, setara Rp21,13 triliun, dari lahan tambang seluas 26.000 hektar di wilayah Kabupaten Lahan, Sumatera Selatan, yang dicaplok oleh 34 perusahaan swasta. "Karena kita perusahaan negara, maka potensi kehilangannya sekitar US$2,3 miliar," kata Milawarma.

Dia menceritakan waktu itu, bupati Tanjung Enim terdahulu membagi-bagikan KP milik PTBA seluas 26.000 hektar kepada 34 perusahaan swasta. Dari lahan seluas itu, sekitar 2.700 hektar atau senilai US$230 juta dibeli oleh anak perusahaan PT Adaro Energy Tbk, yakni PT Mustika Indah Permai (MIP). "Kami menuntut Bupati dan perusahaan swasta, termasuk anak perusahaan Adaro yang juga disomasi," ujarnya.

Disebutkannya, dari 34 perusahaan swasta tersebut terdapat 10 perusahaan yang sudah menuai keuntungan. Di Tanjung Enim, perusahaan batubara pelat merah ini memiliki KP seluas 66.000 hektar.

Untuk diketahui, sebelumnya ADRO memberikan informasi tentang pembelian saham PT Mustika Indah Permai (MIP), di mana ADRO melalui suratnya memberitahukan bila wilayah IUP MIP tidak bertumpang tindih dengan wilayah izin pertambangan pihak manapun khususnya PTBA.

Selanjutnya, izin KP/IUP yang diterbitkan oleh Bupati Lahat kepada PT MIP seluas 2.742 Ha seluruhnya tumpang tindih dengan KP eksplorasi milik PTBA (KP wilayah sengketa).

MIP adalah salah satu perusahaan yang semula selaku tergugat atas gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) yang diajukan PTBA pada Pengadilan Negeri Lahat, terbanding atas putusan sela PN Lahat, pemohon kasasi atas putusan Pengadilan Tinggi Palembang, dan sekarang sebagai pemohon Peninjauan Kembali (PK) atas putusan kasasi MA yang saat ini masih dalam proses PK di Mahkam

Pada perdagangan Selasa kemarin, hingga pukul 10.10 waktu JATS, harga saham PTBA stagnan di Rp 20.900 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 68 kali dengan volume 420 lot senilai Rp 4,4 miliar. (bani)

Related posts