Genjot Kredit Tumbuh 25%, Bank Pilih Cari Dana Di Pasar Modal

Neraca

Jakarta–Proyeksi pertumbuhan kredit perbankan akan melesat tajam 20%-25% pada dua tahun mendatang, memaksa perbankan untuk mencari sumber pendanaan lebih banyak lagi dan salah satunya dengan melakukan aksi korporasi di pasar modal.

Country Head UBS Indonesia Rajiv Louis mengatakan, dua tahun mendatang banyak perbankan yang akan melakukan aksi korporasi di pasar modal. Pasalnya, valuasi perbankan di pasar modal Indonesia masih tetap menarik. “CAR (capital adequancy ratio) perbankan Indonesia termasuk bagus. Namun, pertumbuhan kredit 20%-25% tentu butuh tambahan modal. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, misalnya, dengan menerbitkan obligasi jangka panjang, obligasi subordinasi atau right issue, “kata Rajiv di Jakarta, Selasa (6/3).

Oleh karena itu, dirinya memperkirakan dalam 24 bulan kedepan bank-bank besar akan melakukan salah satu atau ketiga tersebut guna memenuhi pendanaan. Selain itu, Rajiv juga menyakini, penawaran umum saham perdana alias Initial Public Offering (IPO) masih tetap menarik dilakukan tahun ini.

Dia menjelaskan, ada faktor penting yang harus diperhatikan dalam IPO, yaitu likuiditas. “Jika hanya menawarkan US$ 100 juta-US$ 150 juta, itu hanya menawarkan sedikit likuiditas. Kalau mau IPO minimal US$ 200 juta, bukan tidak bisa dibawah itu, tapi akan lebih menarik jika minimal segitu,” ujarnya.

Rajiv menanuturkan, selain itu, bila ada perusahaan yang melakukan penawaran umum saham perdana, poin yang harus diperhatikan yakni poin jual seperti rencana penggunaan dana dan track record.

Pihaknya mengharapkan tahun ini dapat mencapai target lebih tinggi pada 2012 dari bisnis penjamin emisi. Saat ini, PT UBS Securities akan menangani satu perusahaan sektor keuangan. Kata Rajiv, kemungkinan penawaran umum saham perdana untuk perusahaan di sektor keuangan tersebut dapat mencapai lebih dari Rp1 triliun. “Masih on track tahun ini. Tapi tergantung pasar,”jelasnya.

Sebagai informasi, perseroan sebagai penjamin emisi telah menangani total emisi US$ 700 juta pada 2011 dan penjaminan emisi yang telah ditangani UNTR, Atlas, dan Alfamart. Sementara Head of Research UBS Indonesia, Joshua Tanja menambahkan, untuk beberapa bank besar tampaknya sementara waktu ini tidak akan melakukan tambahan modal besar-besaran.

Hal ini dikarenakan lima bank besar di Indonesia memiliki likuiditas yang besar dan rasio kecukupan modal yang besar pula. Bank-bank yang dimaksudnya antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Danamon Tbk (BDMN). (bani)

Related posts