BI rate diprediksi Naik Mei 2012

NERACA

Jakarta—Rencana pemerintah menaikkan BBM dan TDL membuat Bank Indonesia tentu berpikir ulang menurunkan BI rate. Bahkan BI dalam jangka pendek ini akan tetao menahan BI rate pada posisi 5,75%. Namun diperkirakan pada Mei 2012 kemungkinan besar bisa naik. “Paling cepat, BI akan melakukan penyesuaian BI rate pada awal Mei nanti," kata Direktur Eksekutif Indef, Ahmad Erani Yustika di Jakarta,6/3

Menurut Erani, kebijakan kenaikan harga BBM rencananya akan mulai berlaku per 1 April. Sehingga, BI akan melihat seberapa besar dampak inflasi akibat kenaikan harga BBM ini. "BI juga menunggu implementasi kebijakan kenaikan harga BBM untuk melihat arah inflasi ke depan," tambahnya

Sementara itu, Ekonom BCA David Sumual menilai, inflasi Februari yang tercatat 0,05% memang cukup rendah. Namun BI akan melihat dulu bagaimana ekspektasi inflasi ke depan. "Kalau melihat kebijakan pemerintah yang akan menaikkan harga BBM dan TDL, maka ekspektasi inflasi ke depan akan cukup tinggi," terangnya

Menurut David, ekspektasi inflasi ke depan yang cukup tinggi justru membuat peluang BI untuk menurunkan BI rate semakin kecil. Menurutnya, bank sentral juga akan mempertimbangkan banyak hal dalam membuat keputusan BI rate. Sehingga, pasar juga tidak salah dalam menangkap sinyal yang diberikan BI. "Dengan ekspektasi inflasi yang akan meningkat, karena kenaikan harga BBM dan TDL, maka BI akan kembali menahan suku bunga acuannya di level 5,75%," ungkapnya.

Sebelumnya, ekonom Mirza Adityaswara menilai kondisi suku bunga Pinjaman Uang Antar Bank (PUAB) saat ini sekitar 4,5% dinilai sebagai momentum untuk menurunkan BI rate. Anehnya, BI rate masih bertengger di angka 6%. Padahal mestinya bisa turun. "Kalau dilihat begini, sebenarnya BI Rate bisa diturunkan 4,5%, karena suku bunga PUAB-nya di bawah 6% yaitu 4,5%," ujarnya

Menurut Mirza, suku bunga PUAB yang di bawah BI rate menunjukkan adanya ekses likuiditas jangka pendek. Karena itu bank sentral sebenarnya berpotensi ingin menurunkan BI rate di angka 4,5% dan hal ini dapat dilihat dari kebijakan BI yang menurunkan koridor suku bunga. "Penurunan ini menunjukkan BI ingin 4,5% tapi mungkin ada pertimbangan lain seperti inflasi," tambahnya.

Lebih jauh Mirza sendiri mengaku heran mengapa BI hingga saat ini belum juga ada tanda-tanda ingin menurunkan BI Rate. Tapi suku bunga PUAB tak ditarik ke 6 %. "Ini mestinya ditanyakan kepadam BI, karena BI berhati-hati menurunkan BI Rate. Ini juga menunjukkan terjadi likuiditas jangka pendek," imbuhnya

Menyinggung soal kemungkinan LPS Rate akan turun, Mirza menambahkan dalam menentukan tingkat suku bunga simpanan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) saat ini masih menggunakan acuan suku bunga atau BI Rate. Pasalnya BI Rate dinilai paling pas untuk menjadi acuan suku bunga jangka pendek."Ini kan kalau jangka panjang bisa pakai Surat Utang Negara (SUN) sebagai patokan bunga. Namun kalau Dana Pihak Ketiga (DPK) atau simpanan yang reasonable itu pakai BI rate," ujarnya. **cahyo

Related posts