Fintech Pengaruhi Ketersediaan Lapangan Pekerjaan Perbankan

NERACA

Jakarta - Guru Besar Fakultas Ekonomi UI Rhenald Kasali memproyeksi bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan di sektor keuangan, seperti perbankan akan berkurang seiring dengan mulai menjamurnya layanan jasa keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) di Indonesia. Rhenald memaparkan setidaknya sudah ada 200 layanan fintech baru yang bermunculan yang mengakibatkan bank tidak lagi perlu membuka kantor cabang baru, serta merekrut pegawai bank "teller" lebih banyak.

"Dalam jangka pendek, fintech akan naik, sampai nanti mulai optimal, kemudian lapangan kerja di bank akan mulai berkurang," kata Rhenald. Ia menjelaskan pada tahap awal memang bank tidak mengurangi jumlah karyawan, namun perlahan kinerja dan operasional perusahaan menjadi kurang eifisen. Laporan keuangannya pun akan mengalami perubahan, hingga akhirnya bank tidak lagi melakukan ekspansi dengan membuka kantor cabang baru.

Melalui layanan fintech, masyarakat tidak lagi perlu pergi ke bank untuk melakukan transaksi sederhana, yakni cukup melalui telepon pintar "smartphone" yang terhubung dengan aplikasi fintech. Mesin anjungan tunai mandiri (ATM) juga akan mulai berkurang karena masyarakat hanya akan mengandalkan smartphone.

Rhenald memproyeksi nantinya perbankan tidak lagi memerlukan banyak tenaga kerja, namun akan membuat anak usaha dengan merangkul fintech yang hanya memerlukan karyawan 30-50 orang. "Nanti akan banyak usaha baru seperti fintech yang dikerjakan dari rumah, dari kedai kopi, tapi menggunakan teknologi, diambil alih oleh fintech," kata dia.

Dalam sambutannya, Rhenald menekankan bahwa gelombang pergeseran pekerjaan "shifting" akibat disrupsi teknologi melanda di semua sektor. Oleh karena itu, seluruh pihak harus mampu membaca arah perkembangan teknologi. Menurut dia, kuncinya adalah dengan melakukan peningkatan keterampilan "upskilling" dan pelatihan tenaga kerja sehingga bisa memiiki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan era teknologi.

Ia menambahkan bahwa pekerjaan-pekerjaan lama bisa saja tetap dibutuhkan, sepanjang pelaku bisa memperkaya diri dengan aplikasi teknologi. Oleh karena itu, semua pihak harus bergerak, termasuk pemerintah pusat dan daerah.

Hasil penelitian Kantor jasa konsultan internasional atau Pricewaterhouse Coopers (PwC) Indonesia juga menyatakan perkembangan fintech menjadi salah satu risiko bagi industri perbankan nasional. Ini berdasarkan laporan Indonesia Banking Survei 2018 terhadap 65 responden dari 49 bank di Indonesia. Sebanyak 41% responden dari bank besar menyatakan fintech akan menjadi ancaman serius dalam lima tahun ke depan.

Keberadaan fintech diuntungkan dengan perilaku masyarakat yang semakin gemar melakukan transaksi secara digital. Tren bertransaksi di jalur digital di perbankan naik hingga 35%. Padahal, tiga tahun lalu, 75% bankir memperkirakan lebih dari separuh transaksi dilakukan di kantor cabang. Kini angkanya turun menjadi 34%.

"Lima tahun lalu, menggunakan aplikasi mobile menjadi hal yang baru. Tapi kini itu sudah jadi hal biasa. Fintech memanfaatkan hal ini. Oleh karenanya, jika perbankan tidak segera berbenah, maka akan ketinggalan," ujar Advisor PwC Indonesia Chan Cheong.

BERITA TERKAIT

OJK dan Aparat Diminta Awasi Rentenir Berkedok Fintech

    NERACA   Jakarta - Anggota DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ecky Awal Mucharam menginginkan Otoritas Jasa…

Fintech Ilegal Berasal dari China, Rusia dan Korsel

  NERACA   Jakarta - Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan fakta bahwa mayoritas perusahaan layanan finansial berbasis…

KERJASAMA PEMANFAATAN LAYANAN PERBANKAN

Direktur Utama Bank DKI, Wahyu Widodo (kiri) menyaksikan Direktur Keuangan Bank DKI Sigit Prastowo (kedua kiri) bersama Direktur Utama PT…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Holding BPR Bisa Terjadi

      NERACA   Padang – Pemerintah sedang gencar untuk menyatukan perusahaan-perusahaan BUMN yang satu lini bisnis. Seperti misalnya…

Suku Bunga Acuan Ditahan

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) untuk keempat-kalinya secara berturut-turut mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse…

BI Jamin Longgarkan Likuiditas dan Kebijakan Makroprudensial

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menjamin kondisi likuiditas yang longgar bagi perbankan dan akan memberikan stimulus…