Tekanan Mereda, IHSG Berupaya Bangkit Dari Zona Merah

Neraca

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 17,82 poin atau 0,45% ke posisi 3.967,08. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 4,74 poin atau 0,69 persen ke posisi 685,86 poin.

Kata analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono, pelemahan indeks dipengaruhi negatifnya data makro ekonomi Amerika Serikat dan Eropa, “Sentimen negatif dari buruknya data makro ekonomi AS dan Eropa menjadi katalis negatif bagi bursa regional termasuk IHSG," katanya di Jakarta, Selasa (6/3).

Selain itu, proyeksi pemerintah China akan melambatnya pertumbuhan ekonomi juga menjadi sentimen negatif bagi pasar. Kendatipun demikian, kata Purwoko, IHSG Rabu akan bergerak positif dengan alasan tekanan indeks mulai mereda.

Dia menuturkan, indeks BEI diproyeksikan akan bergerak pada kisaran support-resistance` di level 3.940-4.000 poin. Pada perdagangan kemarin, beberapa saham unggulan terlihat sudah turun cukup dalam pada dua hari terakhir perdagangan sebelumnya.

Kemudian, rencana bailout Yunani mengalami hambatan. Pasalnya, pihak swasta yang diharapkan berpartisipasi dalam penukaran surat utang kini belum memberikan jawaban. Padahal, penukaran surat utang itu merupakan bagian dari syarat untuk pemberian dana talangan sebesar Rp 1.560 triliun. Kabar tersebut membuat bursa-bursa di Eropa terkena koreksi.

Indeks pun ikut terkoreksi berbarengan dengan amblesnya bursa-bursa di Asia. Pelemahan kali ini dipimpin oleh saham-saham berbasis infrastruktur dan finansial. Tak satu pun indeks sektoral di lantai bursa yang bisa menguat, semuanya kompak bergerak di teritori negatif. Tekanan jual banyak dilakukan oleh investor lokal dan asing.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) tipis senilai Rp 1,658 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 88.983 kali pada volume 4,975 juta lot saham senilai Rp 3,343 triliun. Sebanyak 82 saham naik, sisanya 148 saham turun, dan 113 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Mayora (MYOR) naik Rp 550 ke Rp 15.800, Indocement (INTP) naik Rp 300 ke Rp 17.000, Surya Esa (ESSA) naik Rp 230 ke Rp 1.760, dan Petrosea (PTRO) naik Rp 225 ke Rp 4.625.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.000 ke Rp 42.150, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 ke Rp 56.500, Sarana Menara (TOWR) turun Rp 500 ke Rp 12.500, dan Unilever (UNVR) turun Rp 350 ke Rp 18.650.

Menutup perdagangan sesi I, IHSG turun 28,362 poin (0,71%) ke level 3.956,535. Sementara Indeks LQ 45 melemah 6,712 poin (0,97%) ke level 683,889. Investor berniat keluar sejenak dari lantai bursa sambil menunggu situasi pasar membaik. Hingga saat ini belum ada sentimen positif yang bisa membawa indeks ke zona hijau.

Saham-saham konsumer menjadi pemberat bursa dengan koreksi sektornya sebanyak lebih dari satu persen. Tak satu pun indeks sektoral yang mampun menguat. Seluruhnya terpaksa memerah akibat aksi jual.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 46.303 kali pada volume 1,243 miliar lembar saham senilai Rp 1,368 triliun. Sebanyak 48 saham naik, sisanya 141 saham turun, dan 85 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 350 ke Rp 53.150, Petrosea (PTRO) naik Rp 250 ke Rp 4.650, Surya Esa (ESSA) naik Rp 150 ke Rp 1.680, dan Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 150 ke Rp 2.300.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.550 ke Rp 41.600, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 56.250, Unilever (UNVR) turun Rp 300 ke Rp 18.700, dan Waran Royal Oak (RODA) turun Rp 205 ke Rp 235.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka turun 20,18 poin atau 0,51% ke posisi 3.969,01, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 3,95 poin atau 0,657% ke posisi 686,65 poin. "Bursa Asia pagi ini (Selasa) kembali dibuka melemah termasuk IHSG memfaktorkan sentimen negatif dari koreksi di bursa AS semalam," kata analis Samuel Sekuritas, Christine.

Dia menambahkan, bursa AS dan Eropa melemah tadi malam dipicu sentimen negatif dari China yang hanya menargetkan pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) sebesar 7,5% di 2012, terendah sejak 2004.

Selain itu, lanjut dia, rilis data "factory orders" AS pada Januari yang turun satu persen turut menjadi sentimen negatif bagi bursa global. Sementara menurut analis MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, pelemahan indeks selain dipicu sentimen global juga khawatiran investor soal rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) selain kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), “Investor saat ini menunggu berapa persen kenaikan TDL dan kapan waktu kenaikannya,”katanya.

Sedangkan pengamat pasar modal dari Financorpindo Nusa, Edwin Sinaga menambahkan, saat ini sentimen yang cukup berpengaruh selain dari global yakni rencana kenaikan BBM, dimana banyak spekulasi yang sudah berkembang dari pelaku pasar.

Pelaku pasar, lanjut dia, sudah memprediksi dampak yang terjadi jika kenaikan terealisasi. Dampak itu nantinya akan berpengaruh ke inflasi, suku bunga, maupun pertumbuhan ekonomi.

Dia menambahkan, mengenai kondisi regional khususnya Yunani, belum juga dapat dikatakan positif. meskipun beberapa waktu lalu dana "bailout" sebesar 130 miliar euro disetujui, namun hal itu belum bisa menjamin negara itu dalam keadaan positif.

Tercatat bursa regional diantaranya indeks Hang Seng melemah 300,07 poin (1,41%) ke level 20.965,24, indeks Nikkei-225 turun 42,22 poin (0,44%) ke level 9.656,37 dan Straits Times melemah 23,82 poin (0,80%) ke level 2.967,98. (bani)

Related posts