LBH: Sanksi Susu Kental Manis Masih Ringan

LBH: Sanksi Susu Kental Manis Masih Ringan

NERACA

Jakarta - Pengacara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pratiwi Febry mengatakan sanksi terkait pelanggaran produk susu kental manis (SKM) atas peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) No 31/2018 masih ringan.

"Per-BPOM belum ada sanksi. Hanya 1 hingga 2 pasal yang sifatnya administratif," kata dia di acara diskusi publik "Menyoal per-BPOM No 31/2018, Kemajuan ataukah Kemunduran Polemik Susu Kental Manis" di Jakarta, Jumat (16/11).

Dia menjelaskan pelanggaran oleh industri SKM selama ini adalah pada aspek pariwara. Dalam iklannya, SKM terus dipromosikan sebagai produk bernutrisi tinggi dengan segala kebaikan susu. Iklan seharusnya tidak boleh menyembunyikan kandungan sejati dari SKM yang didominasi gula."Ini salahnya pariwara dan peraturannya yang masih mengkategorikan SKM sebagai susu," ujar dia.

Dia menyebutkan dengan sanksi yang ringan itu membuat industri tidak takut dan tetap melaju dengan promosi SKM sebagai produk susu yang bernutrisi tinggi. Promosi produk SKM yang memiliki nutrisi utama susu, sebutnya harus dikendalikan sehingga masyarakat tidak terkecoh dengan bahan pangan itu.

Adapun pasal sanksi tersebut, Tiwi mencontohkan terdapat pada Pasal 71. Di dalamnya tertulis sanksi penghentian sementara kegiatan prouksi dan atau peredaran SKM. Kemudian terdapat penarikan pangan dari peredaran oleh produsen dan/atau pencabutan izin. Dalam undang-undang tersebut juga tidak disebutkan pihak yang mengeksekusi atas pelanggaran industri dalam mempromosikan SKM."Siapa yang melaksanakan.? Tidak ada dalam UU ini. Harusnya BPOM tapi tidak tercantum," kata dia.

Sementara itu, Ketua Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) Arif Hidayat menyebutkan industri SKM telah lama mengelabui masyarakat umum sejak lama. SKM tidak memiliki nutrisi yang bermanfaat untuk tubuh kecuali gula berlebih."SKM sejak dulu zaman Belanda hingga kini dipromosikan sebagai susu yang bernutrisi tinggi. Bahkan dalam iklannya mengikutsertakan gambar anak kecil atau balita," lanjut dia.

Menurut dia, promosi SKM itu mampu menggempur masyarakat dengan pesan mengenai susu kental manis yang memiliki manfaat susu murni secara terus menerus. Dengan begitu, pesan mengenai SKM bernutrisi tinggi itu terpatri kuat diingatan publik dari segala usia.

Dampaknya, kata dia pemahaman mengenai SKM sebagai nutrisi bergizi dengan manfaat susu terus melekat tetapi sejatinya salah kaprah. Padahal, tambah dia, kata susu yang disematkan dalam SKM tidak tepat karena susu kental manis sejatinya banyak didominasi komposisi gula.

"SKM ini malah dipromosikan sebagai minuman, padahal ini lebih tepat disebut toping. SKM ini menurut saya sirup kental manis daripada susu kental manis karena kadar gulanya sangat tinggi yang tidak baik untuk tubuh, terutama anak-anak," jelas dia. Ant

BERITA TERKAIT

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Kerjasama Sinergis Sany - MNC Leasing Berikan Pembiayaan DP Ringan

NERACA Jakarta – Bisnis penjualan alat berat di Indonesia semakin prospektif dan bahkan mengalami lonjakan permintaan yang cukup besar. Lonjakan…

Suku Bunga Acuan Masih Akan Naik di 2019

P { margin-bottom: 0.08in; }A:link { }       NERACA   Jakarta – Chief Economist Bank Mandiri Anton Gunawan…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0 NERACA Jakarta - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Dr Prasetyo Hadi mengatakan…

Mitra Pengemudi Laporkan Grab ke KPPU

Mitra Pengemudi Laporkan Grab ke KPPU NERACA Jakarta - Mitra pengemudi melaporkan Grab ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan…

Hoax: Jokowi Kalah di Media Sosial - Fakta Data dari Lembaga Analisa Media Sosial Politicawave

Hoax: Jokowi Kalah di Media Sosial Fakta Data dari Lembaga Analisa Media Sosial Politicawave Oleh : Rofiq Al Fikri (Koordinator…