Mengelola Besi Bekas Menimbang Keuntungan

Neraca. Scrap dikenal dengan istilah barang bekas atau rongsokan dalam bahasa Jawa. Sebenarnya scrap tidak hanya besi tua, tetapi plastik bekas, gelas, tembaga, paper, kertas, karet ban dan lainnya. Bisnis ini menawarkan segudang peluang usaha, terutama import scrap dari negara asing. Misalnya Eropa Timur, Canada dan Australia, karena hargs scrap disana relative sangat murah bila dibandingkan dengan harga scrap dalam negeri.

Untuk memulai bisnis scrap, diistilahkan bila, ‘Kalau ingin mendapatkan uang besar, tantangan pun juga besar,’ memang melekat pada bisnis besi bekas. Karena uang kecil, disamakan dengan berbisnis besi mulai dari pemulung besi tua yang berkeliling membeli besi tua dari rumah tangga, industri atau pemilik tangan pertama, lalu menjual lagi ke pengepul menengah, kemudian menjual lagi ke pengepul besar, dan kemudian besi tua disetor pengepul besar ke pabrik peleburan besi.

Biaya yang dikeluarkan pedagang besi tua pun sangat besar. Diperkirakan hanya untung sekitar Rp 50-Rp 150 per kg dari pabrik peleburan besi tua dengan harga beli pabrik untuk besi tua lokal mulai kualitas terendah hingga premium sekitar Rp 3600-Rp 4300 per kg, (harga besi per Mei minggu ke 2 tahun 2011).

Namun bila Anda bermodal besar hingga ratusan miliar rupiah, langkah import besi tua dari luar negeri menjadi pilihan cepat mendapat keuntungan berlipat. Bahkan jauh diatas keuntungan rata rata supplier besar pabrikan.

Caranya? Anda harus siap semua dokumen, seperti izin impor scrap, izin B3, dan membuka L/C, memang terlihat berbirokrasi panjang, namun selanjutnya Anda akan mendapat kemudahan dan keuntungan yang tak berujung.

Di Indonesia, para pelaku bisnis besi tua masih sibuk mencari pasokan dari dalam negeri, memakai cara lama timbang bayar, bahkan ada sekelompok pedagang besi tua yang hanya tertarik untuk import besi tua, namun mereka hanya mau timbang bayar dengan menungggu port of discharge (Pelabuhan di Indonesia).

Para juragan besi tua di Surabaya saja, (yang 99,99% selalu pakai cara timbang bayar di tempat) bersatu dan berkumpul membuat semacam asosiasi atau koperasi, mereka berani membuka L/C atau T/T payments againts documents, sebagai prosedur baku tata cara perdagangan International.

Dan uniknya belum ada perusahaan Indonesia yang bermain dipengelolaan besi tua atau scrap metals processor mencatatkan sahamnya di bursa, meski pun beberapa perusahaan bermodal besar sudah pantas melakukannya.

Padahal mayoritas perusahaan scrap metal processor di Amerika, Eropa, Canada, atau Australia sudah terlisted di Bursa Efek negaranya masing masing, termasuk salah satu pabrikan peleburan besi besar di Sidoarjo Jatim, yang menjadikan pemiliknya sebagai manusia terkaya di dunia dari bisnis besi tua dan manufaktur logam ini.

Bisnis yang sangat likuid atau menguntungkan ini, memang memiliki perputaran uang yang sangat besar, dan sangat disayangkan bila konglomerasi besar di Indonesia tidak bermain di dunia besi tua. Mereka hanya tertarik pada pembangunan manufakturnya, membuat pabrik peleburan besi, sedangkan lahan usaha scrap metal processor yang sangat menguntungkan dibanding pabrik peleburan justru dimiliki bangsa lain di Indonesia.

Related posts