Ringkasnya Meraup Keuntungan dari Besi Bekas

Tingginya kebutuhan besi dan tergiur keuntungan yang melimpah, mengundang kalangan pebisnis mengimpor besi bekas. Tak aneh, ratusan container memadati pelabuhan Jakarta. Dari sekadar besi bekas untuk keuntungan yang membekas.

Neraca. Kecurigaan pihak Bea dan Cukai tak terbendung, mereka membidik 113 kontainer dari Belanda dan Inggris yang datang dua minggu lalu. Pada Sore hari, 10 Februari lalu, disaksikan pejabat Bea Cukai, Departemen Keuangan RI dan media massa, dua dari ratusan konteiner itu lalu dibuka.

Mereka pun terkejut mendapati limbah sampah logam bercampur tanah dan aspal. Siapa pula yang ingin mengimpor sampah logam ke Tanah Air? Lalu apa keuntungannya? Sebuah pertanyaan besar tertanam di banyak instansi pemerintahan.

Derasnya impor scrap (besi atau logam bekas) ke Indonesia memang bukan tanpa sebab. Bisnis besi bekas disinyalir sangat menguntungkan. Terlebih dengan realitas kebutuhan besi di Indonesia yang terus meningkat. Saat ini kebutuhan besi domestik sekitar 8–12 juta metrik ton per tahun, sementara produsen lokal hanya mampu mensuplay sekitar 4–6 juta metrik ton per tahun.

Defisit yang besar dengan harga yang menggiurkan, tentu saja mengundang banyak pemain besi bekas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Bahkan PT Krakatau Steel, produsen besi baja kebanggaan republik ini tak kalah gelisah dengan keharusannya terus menerus mengimpor bahan baku bijih besi untuk diolah guna memenuhi kebutuhan domestik dengan pelbagai ukuran.

Kalkulasi siapa di balik impor besi bekas skala besar sempat pula mengarah pada Pabrik Besi Ispatindo di sepanjang Sidoarjo Jatim dan sejumlah anak perusahaanya. Kerajaan besi milik konglomerat dunia Mittal Steel Group oleh Laksmi Nivas Mittal asal India ini konon memproduksi total 40 juta metrik ton pada tahun 2008 lalu, Mittal memang membutuhkan banyak bahan baku untuk membuat Plain Steel Bar (Besi Beton Polos), Deform Steel Bar (Besi Beton Ulir), Steel Round Bar (Besi Tulangan Beton Polos), Deform Steel Bar (Besi Tulangan Beton Ulir), dan lainnya, namun kalkulasi hanyalah kalkulasi.

Bisnis Pantai Timur

Beberapa informasi menyebutkan, bahwa beberapa pemain besi bekas yang berada di Ambon, Sulawesi dan Ternate cukup tangkas menangkap peluang ini. Mereka mengurus besi tua yang dikirim ke Surabaya untuk dijualkan ke pabrik besi di Wilayah Sidoarjo-Jawa Timur.

Seorang sumber menyebutkan, bahwa bila di Ternate dan Ambon ada barang yang sudah siap kirim, mereka lalu menghubungi pedagang pengepul besi tua di Surabaya.

Mayoritas mereka adalah juragan dan bos orang Madura yang sudah dikenal baik. “Untuk minta back up dana senilai barang yang akan kita terima, mereka siap,” ucap sumber yang tak mau menyebut jati dirinya.

Ia ilustrasikan. Bila ada dua kontainer, masing-masing 25 ton dan harga per kg besi antara Rp 3000-3800/kg maka terkumpul Rp 115.000.000, uang tersebut belum termasuk biaya transpor ke lokasi, biaya truk, kontainer, buruh bongkar muat, dan lainnya. “Lalu uang dari bos Madura ditransfer ke Ternate atau Ambon,” ungkapnya. Calon pembeli langsung terbang ke lokasi barang, untuk memastikan benar tidaknya barang.

“Cara ini terbilang sangat konvensional, tetapi terbukti sangat ampuh untuk menghindari penipuan dan kerugian yang besar,” ujar dia.

Setelah meneliti keberadaan barang, lanjutnya, besi tua ditimbang lalu uang dibayarkan, setelah uang diterima pemilik barang atau pemasok kami, kemudian barang dikirim lewat laut dan sekitar 5-8 hari kemudian barang sampai Surabaya langsung dikirim ke pabrik besi di daerah Sepanjang dan Sidoarjo.

“Setelah barang ditimbang kemudian 1-2 hari kemudian dibayar oleh pabrik tergantung jam dan hari kerja, bisa juga langsung dibayar cash keras, tidak ada istilah bayar ngutang di besi tua, jadi kami cuma dapat uang jasa atau komisi yang relatif tidak banyak dari rekanan di luar pulau,” ungkapnya.

Lalu berapa kebutuhan modal untuk bisnis besi tua antar pulau? Dia menuturkan bahwa modal yang dibutuhkan sekitar Rp 130-150 juta per putaran, karena dengan asumsi dua kontainer per kirim, maka modal yang dibutuhkan sekitar angka tersebut.

“Kadang sering terjadi, saat barang masih on the way ke Surabaya (masih di tengah laut), rekan kami mengabarkan mereka butuh dana lagi, karena ada barang lain yang sudah siap, jadi sekali lagi kita kontak bos Madura untuk meminta tambahan back up dana, lalu kita terbang lagi ke lokasi barang dan kita lakukan rutinitas seperti sebelumnya,” ujarnya bercerita.

Menurut dia, satu bulan bisnis besi tua dapat terjadi 3 hingga 4 putaran. “Karena meski barang belum tiba di Surabaya, barang yang lain sudah siap dikapalkan,” ujarnya yang mengaku mendapat biaya jasa sekitar 5-15%. “Begitu timbang bayar di pabrik uang modal plus profit langsung kami transfer kembali ke rekening Investors, begitu seterusnya ritual trading besi tua antar pulau,” ungkapnya.

Menurutnya mengapa harga besi terlalu mahal? Karena mata rantai bisnis besi tua sebelum berakhir di pabrik peleburan besi tua sangatlah panjang, mulai dari pemulung besi, pengepul besi tua kecil, pengepul besi tua menengah, pengepul besi tua besar dan pengepul besi tua supplier besar pabrik, setelah itu baru besi tua diterima pabrik peleburan besi.

Mata rantai yang sangat panjang tidak efisien, ungkapnya, dan mengandung konsekuensi harga sangat mahal. Para pedagang besi tua, lanjutnya, 99% mengandalkan pasokan besi tua dari pengepul lokal, jual beli besi antar pulau, penjual besi langsung dari pemakai, rumah tangga dan industri dan lain-lain.

“Mereka belum sadar bahwa harga besi di belahan dunia lain misalnya Eropa Timur, Kanada, Amerika dan bahkan negara terdekat Australia relatif lebih murah, meskipun untuk masuk ke Indonesia banyak birokrasi yang harus dilakukan,” tandasnya.

“Mendatangkan besi tua atau impor besi sangat memungkinkan,” ungkapnya, karena para supplier, penjual, dan pemilik foundries, termasuk pemilik scrap yard atau junk yard (tempat sampah besi) di luar negeri, terus terang mengaku bahwa sebagian besar besi bekas mereka diekspor ke negara-negara Asia, termasuk 113 kontainer asal Belanda dan Inggris yang berlabuh di dermaga Tanjung Priok-Jakarta.

Related posts