Kesiapan Industri Sepeda Motor Indonesia Menuju Standar Euro-3 - Seminar Forwot

Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) menggelar diskusi bertema “Kesiapan Industri Sepeda Motor Indonesia Menuju Standar Euro-3 yang Ramah Lingkungan dan Hemat BBM”.

Selain itu seminar ini juga membahas peraturan mengenai kendaraan bermotor di dunia sebagian besar mengacu ke regulasi yang dikeluarkan oleh UN-ECE (United Nation – Economic Commission for Europe). Khusus untuk regulasi emisi gas buang, acuan yang banyak dipakai adalah regulasi menggunakan baku mutu EURO. Untuk sepeda motor (termasuk mobil) yang diterapkan disini menggunakan UN-ECE R40.

Menurut Ketua Forwot Eri Haryoko bahwa diskusi ini digelar untuk mendorong percepatan program standardisasi mesin dengan Euro-3 di Indonesia. Kegiatan ini diharapkan mampu memberi masukan kepada industri otomotif khususnya yang beroda-dua.

Sedangkan menurut Ketua AISI (Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia) Gunadi Sindhuwinata menyatakan bahwa anggota AISI siap memasuki era Euro3 untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik di Indonesia.

Sebagai anggota AISI, produsen sepeda motor Honda telah siap menyambut era Euro3 dengan melakukan sejumlah pengembangan teknologi sepeda motor mereka. Salah satunya lewat penggunaan sistem injeksi bahan bakar yang pertama kali di Indonesia untuk sepeda motor.

Gunadi Sindhuwinata menambahkan bahwa sampai 2025, pasar sepeda motor di Indonesia tetap tumbuh. Bahkan pada 2013, pasarnya diprediksi masuk dalam club 10 juta unit dan mempunyai arti penting, karena berada dalam posisi tiga besar dunia setelah China dan India.

“Bahwa kendaraan roda dua tak akan bisa diganti oleh mobil karena beberapa aspek. Di antaranya, sampai kini motor masih menjadi transportasi yang praktis, cepat dan ekonomis. Selama kemacetan belum bisa diatasi dengan baik. Kemudian, kredit macet bisa ditekan jadi 1,27% lantaran sistem pembayaran yang dipermudah, di antaranya bisa melalui telepon seluler,” paparnya.

Produsen sepeda motor Yamaha juga tidak mau ketinggalan. Untuk memasuki standar Euro3 Yamaha menyiapkan sistem injeksi YMJET-Fi (Yamaha Mixture Jet-Fuel Injection) yang akan digunakan pada semua motor yang diproduksinya.

Demikian pula dengan produsen sepeda motor Suzuki yang menyatakan kesiapan mereka untuk memasuki era Euro3 lewat pengembangan teknologi yang akan diterapkan pada seluruh produk sepeda motornya.

Akan tetapi program ini tidak akan bisa berjalan semestinya jika ketersediaan bahan bakar yang memenuhi standar Euro-3 masih belum merata di Indonesia. Hal ini terungkap lewat data yang disodorkan oleh pihak Pertamina.

SPBU Pertamina yang menyediakan Pertamax yang memang telah memenuhi standar Euro-3 sangat terbatas. Di Pulau Jawa saja prosentase SPBU yang menjual Pertamax telah mencapai 66%, sementara di luar Jawa SPBU yang menyediakan Pertamax kurang dari 50%. Di Sumatera saja hanya 29% SPBU Pertamina yang menyediakan Pertamax, sementara di Kalimantan baru 46%, sedangkan di Sulawesi tercatat 36%, NTT 31%.

Mananggapi hal itu Divisi Retail Fuel Marketing Pertamina, Windrian menjelaskan bahwa pada dasarnya, Pertamina siap memasuki era Euro-3. Prinsipnya Pertamina tinggal mengganti tangki Premium yang masih Euro-2 menjadi tangki Pertamax yang sudah Euro-3.

Sementara Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan KLH MR Karliansyah, dalam sambutannya mengatakan pertumbuhan kendaraan yang mencapai 12% per tahun dengan komposisi terbesar roda dua sampai 73%, tak cuma menimbulkan masalah kemacetan, juga kebisingan dan polusi udara. Untuk yang terakhir ini, katanya, sektor transportasi diperkirakan menyumbang 76 persen dari total emisi pencemar oksida nitrogen. Sedang emisi hidrokarbon (HC) dan karbon monoksida (CO) justru menjadi kontributor utama (lebih dari 90 persen).

Dari hasil studi KLH dengan BTMP dan JARI tahun lalu terkait studi penentuan faktor emisi kota Jakarta menunjukkan volume sepeda motor pada hari kerja mencapai 39,4% dan hari libur 28,8%. Mengenai sepeda motor berstandar Euro-3, Karliansyah mengatakan sejak tahun lalu KLH sudah menyusun draft peraturan menteri LH tentang baku mutu emisi gas buang sepeda motor Euro-3. Dengan pemberlakukan 2 tahun, diperkirakan 2012 ini segera finalisasi dan bisa diumumkan.

”Ada empat keuntungan yang didapat dengan standar Euro3. Di antaranya, produk kita bisa bersaing dengan Eropa dan terbuka peluang ekspor. Kemudian membuka peluang baru, investasi baru, dan penyerapan tenaga kerja baru,” ungkapnya.

Ambang batas gas buang standar Euro-3 dapat dilihat sebagai berikut :

Kapasitas mesin di bawah 150 cc :

Kadar CO : 2.0 gram/km

Kadar HC : 0.8 gram/km

Kadar NOx: 0.15 gram/km

Kapasitas mesin di atas 150 cc :

Kadar CO : 2.0 gram/km

Kadar HC : 0.3 gram/km

Kadar NOx: 0.15 gram/km

Kecepatan motor di bawah 130 km/h :

Kadar CO : 2.62 gram/km

Kadar HC : 0.75 gram/km

Kadar NOx: 0.17 gram/km

Kecepatan motor di atas 130 km/h :

Kadar CO : 2.62 gram/km

Kadar HC : 0.33 gram/km

Kadar NOx: 0.22 gram/km

(resa/agus)

Related posts