Pasar Modal di 2019 Lebih Menggairahkan - Tekanan Sudah Mereda

NERACA

Jakarta – Bila sebagian pelaku pasar menilai tahun politik di 2019 mendatang, menjadi kondisi yang cukup mengkhawatirkan di industri pasar modal. Namun tidak sebalik menurut pandangan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Fauzi Ichsan. Dimana dirinya menilai, kondisi pasar modal di 2019 akan lebih menarik sejalan dengan berkurangnya tekanan dari pasar global.

Kata Fauzi Ichsan, ada dua faktor yang menyebabkan kondisi pasar finansial dalam negeri akan kondusif. Yakni faktor konvensional dan nonkonvensional. Faktor konvensional adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS). Sedangkan faktor nonkonvensional adalah tensi perang dagang antara AS dengan negara lain, terutama China.

Kata dia, IMF telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,9% menjadi 3,7%. Di sisi lain, sejumlah analis pasar global memperkirakan pertumbuhan ekonomu akan berada di kisaran 3,5%."Tapi tidak ada satupun yang memprediksi adanya resesi ekonomi seperti 2008 lalu. Kala itu pertumuhan ekonomi negatif. Saat ini meskipun diprediksi turun tapi masih 3,5% minimal," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, dari sisi kenaikan suku bunga, menurutnya AS tidak akan agresif pada tahun depan. Sebab, banyak pihak memproyeksikan inflasi di AS akan turun sehingga kenaikan Fed Fund Rate pada tahun depan lebih terbatas. Setidaknya, negara tersebut hanya akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 3% pada akhir tahun depan. Pada intinya, kata Fauzi, kenaikan suku bunga di AS belum akan memicu kenaikan suku bunga global secara tajam. "Sehingga keadaan investasi sekarang masih jauh lebih baik dibandingkan 2008,"tuturnya.

Dia menambahkan, yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar adalah faktor nonkonvensional yakni perang dagang. Jika perang dagang antara AS dan China berkembang, maka akan menjadi perang dagang global yang berdampak buruk pada pasar keuangan dunia.”Ini yang sulit diprediksi. Tapi jika trade war mereda investor pasti akan kembali masuk dan memeprbesar investasinya di pasar,"jelasnya.

Di sisi lain, dia memastikan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat di mana LPS memprediksi PDB pada 2018 akan berada di kisaran 5,2% dan pada 2019 sebear 5,3%. Adapun inflasi diperkirakan 3,4% pada akhir tahun depan. Sebelumnya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi pernah bilang, tidak ada dampak memanasnya kontestasi politik terhadap indeks saham. “Masyarakat sudah mengerti indeks, mana hal yang mempengaruhi dan mana yang tidak,” tuturnya.

Inarno menjelaskan, kilas balik kepada Pilpres pada tahun-tahun sebelumnyapun tak didapati koreksi pada IHSG. Sebagai contoh, pada 2004 indeks di level 1.000,23 atau tumbuh 44,56% terhadap setahun sebelumnya yang hanya di level 691,90. Selanjutnya pada2009, IHSG tercatat menguat 86,98% ke level 2.534,36 setelah pada 2008 ada di level 1.355,41. Pada tahun politik 2014, indeks saham naik 22,29% menjadi 5.226,95 dari tahun sebelumnya 4.274,18.

BERITA TERKAIT

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

Dinas: Pembebasan Lahan Bandara Sukabumi Mundur Jadi 2019

Dinas: Pembebasan Lahan Bandara Sukabumi Mundur Jadi 2019 NERACA Sukabumi - Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi menyatakan jadwal pembebasan lahan untuk…

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…