Masyarakat Diimbau Tidak Beli Produk Otomotif Palsu

Masyarakat Diimbau Tidak Beli Produk Otomotif Palsu

NERACA

Jakarta - Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) mengimbau pada masyarakat agar tidak membeli berbagai produk palsu, termasuk yang berkaitan dengan otomotif, sebab penggunaan produk "abal-abal" tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi konsumen.

"Misalnya yang harus kita buat sadar itu konsumennya, apa sih risiko pakai disc brake palsu? Orang berhenti harusnya satu meter, mungkin jadi tiga meter (karena menggunakan produk otomotif palsu)," ujar Ketua MIAP Justisiari P Kusumah, di Jakarta, Kamis (15/11).

"Oleh karena itu harus dibuat sadar bahwa menghemat uang itu mungkin penting, tapi menyelematkan nyawa itu jauh lebih penting," tambah dia.

Justisiari mengatakan hal tersebut saat ditemui disela-sela diskusi terbatas bertajuk "Penanggulangan Peredaran Produk Palsu/Ilegal Sebagai Upaya Perlindungan Konsumen di Indonesia", yang diselenggarakan oleh MIAP bekerjasama dengan International Trademark Association (INTA).

Saat ini praktik pembuatan produk otomotif palsu masih marak dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Salah satunya adalah produksi pelumas palsu. Banyak produsen nakal yang masih melakukan praktik pengoplosan pelumas palsu, dengan modus memproduksi pelumas daur ulang yang dikemas dan ditempelkan merek tertentu tanpa hak. Pelumas aspal (asli tapi palsu itu) itu dibuat semirip mungkin dengan yang asli, sehingga mampu menipu masyarakat awam.

Justisiari mengatakan masyarakat yang merasa dirugikan oleh perbuatan oknum nakal tersebut dapat membawa persoalan itu ke ranah hukum."Kalau (pelumas) didaur ulang, pakai merek orang, kemudian tidak disampaikan kepada konsumen, itu sudah ada upaya penipuan dan menyebabkan konsumen jadi korban... Itu bisa melakukan upaya hukum dengan undang-undang perlindungan konsumen," ucap Justisiari.

Justisiari mengakui bahwa saat ini peredaran produk otomotif palsu atau ilegal memang masih sulit dibendung. Selama permintaan dari masyarakat tinggi, maka keberadaan produk-produk semacam itu akan terus eksis di pasaran.

Terlebih dengan perkembangan teknologi informasi yang telah menciptakan pasar baru, di mana kini peredaran produk palsu atau ilegal tidak lagi hanya terjadi di pasar konvensional, tetapi juga melalui platform e-commerce, marketplace dan kanal penjualan daring lainnya. Hal itu membuat distribusi produk otomotif palsu semakin luas.

Oleh karena itu, Justisiari mengimbau kepada masyarakat untuk menjadi konsumen yang cerdas dalam memilih produk. Dia juga mengajak para pelaku sektor industri, termasuk pegiat bisnis daring (e-commerce, marketplace, toko daring, dan lain sebagainya) untuk turut aktif mencegah peredaran barang palsu atau ilegal. Ant

BERITA TERKAIT

Halte TransJakarta Tidak Manusiawi

Kami melihat di semua halte bus TransJakarta tidak ada Toilet khusus untuk kencing. Hal ini tentu sangat berisiko bagi penumpang…

Otomotif - Kemenperin Optimistis Ekspor Mobil Tembus 1 Juta Unit Tahun 2025

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian optimistis jumlah ekspor mobil produksi Indonesia akan mencapai 1 juta unit pada tahun 2025. Agar…

Tidak Ada Ketentuan Mewajibkan Pimpinan KPK dari Institusi Tertentu

Tidak Ada Ketentuan Mewajibkan Pimpinan KPK dari Institusi Tertentu NERACA Jakarta - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

Polri: Aspek Keamanan Modal Utama Negara Jaga Kedaulatan

Polri: Aspek Keamanan Modal Utama Negara Jaga Kedaulatan NERACA  Jakarta - Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal mengatakan dalam…

Korupsi Kredit Fiktif Bank Riau Kepri Rugikan Negara Rp32,4 Miliar

Korupsi Kredit Fiktif Bank Riau Kepri Rugikan Negara Rp32,4 Miliar NERACA Pekanbaru - Empat terdakwa dugaan korupsi kredit fiktif Bank…

KPPU Berharap Notaris Bantu Tekan Persekongkolan Tender

KPPU Berharap Notaris Bantu Tekan Persekongkolan Tender   NERACA Medan - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) meminta para notaris ikut membantu…