BEI Kaji Penambahan Indeks Tahun Depan

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan penyesuaian di indeks-indeks yang ada di BEI. Salah satu cara penyesuaian yang akan dilakuan oleh BEI adalah kemungkinan penambahan indeks di tahun-tahun mendatang. "Dengan jumlah emiten yang semakin meningkat, jangan-jangan kebutuhan basketnya lebih besar. Maka mungkin saja keluar indeks yang berisi 70 hingga 80 emiten," kata Hasan Fawzi, Direktur BEI di Jakarta, kemarin.

Menurut Hasan, penambahan indeks ini juga merupakan masukan dari beberapa manajemen investasi seiring dengan kebutuhan yang meningkat saat ini. Bursa juga akan memastikan bahwa indeks ini tak hanya sekadar angka saja tapi bisa menjadi acuan dan aturan bagi manajer investasi. Terkait dengan penambahan indeks ini, Hasan mengaku bahwa saat ini bursa tengah melakukan pengujian terkait dengan pembuatan indeks tersebut. Yang jelas, BEI juga menerima masukan dari beberapa institusi terkait dengan rencana penambahan indeks ini.

Hasan mengatakan, nantinya indeks-indeks baru tersebut juga akan mempertimbangkan variabel yang akan coba ditambahkan yakni variabel free float atau saham yang bereda di publik dan tidak hanya melihat sisi likuiditas dan fundamental saja. Saat ini, beberapa indeks racikan BEI adalah LQ45, IDX30, IDXHIDIV20, IDXBUMN20, JII70, ISSI, JII, IDXSMC-LIQ dan IDXSMC-COM.

Sebelumnya, mantan direktur utama BEI, Tito Sulistio memberikan pandangan terhadap usaha IDX melakukan penyesuaian metode perhitungan LQ 45 dengan konsentrasi kepada Free Float (FF) terutama karena ini telah menjadi common practice di bursa dunia lain adalah hal positif.

Menurut Tito yang saat ini menjabat Dirut CMNP, hal itu adalah kebijaksanaan bursa efek sebagai regulator member. Usaha agar FF bertambah juga strategis patut dilakukan bursa. Hanya perlu diingat bahwa menambah porsi FF langsung berhubungan dengan unsur pendorong lain di pasar seperti besarnya permintaan, kekuatan pemodal, fasilitas perpajakan sampai usaha terbuka bursa dalam mempromosikan kelebihan investasi di pasar modal."Apakah emiten peduli dengan peranan kapitalisasi pasar dan kekuatan mereka di besaran LQ atau indek?, kata Tito.

Tito menjelaskan, benefit untuk perseroan dan sebagai pribadi pemegang saham mungkin lebih berperan. Ini suatu tantangan.Tantangan lain adalah fakta dependensi / ketergantungan IHSG kepada beberapa saham besar.

BERITA TERKAIT

Hakim Vonis Debi Laksmi Dua Tahun Penjara

Hakim Vonis Debi Laksmi Dua Tahun Penjara NERACA Jakarta - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis dua tahun…

Tahun Politik, Serangan Siber Intai Jaringan Telekomunikasi

Industri telekomunikasi seringkali menjadi sasaran empuk para peretas untuk melancarkan serangan siber karena perusahaan umumnya memiliki pusat data (data center)…

Indeks Kemudahan Berusaha Turun, Pemerintah Diminta Perbaiki Izin

      NERACA   Jakarta - Pemerintah diminta memberi kepastian pengurusan perizinan konstruksi gedung dan properti. Kepastian pengurusan izin…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Lima Emiten Belum Bayar Listing Fee

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah emiten yang mengalami gangguan keberlangsungan usaha atau going concern dan berakibat tidak mampu…

Rayakan Imlek - Kobelco Berikan Special Promo Konsumen

NERACA Jakarta - Rayakan Imlek 2570, PT Daya Kobelco Construction Machinery Indonesia (DK CMI),  menggelar  customer gathering dari seluruh Indonesia.…

WSBP Pangkas Utang Jadi Rp 4,7 Triliun

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) telah menerima pembayaran termin pada Januari 2019 yang digunakan perseroan untuk pelunasan pinjaman perseroan.…