Pertumbuhan vs Paradoks Ekonomi

Senin, 07/03/2011

Beberapa waktu lalu Bank Indonesia mengungkapkan jumlah cadangan devisa sudah menembus US$ 100 miliar saat ini, bahkan pada akhir 2011 diprediksi mencapai US$ 120 miliar. Ini pertanda bagus bagi perekonomian negeri ini, namun banyak masalah yang harus diselesaikan oleh tim menteri ekonomi kita.

Jika dilihat dari sumbernya, peningkatan devisa Indonesia didominasi arus modal yang mengalir deras masuk ke negeri ini. Dari modal yang masuk tersebut separuh di antaranya berasal dari investasi portofolio, menyusul investasi langsung dan lainnya.

Data neraca pembayaran Indonesia (NPI) menunjukkan, sepanjang 2010 tambahan devisa ternyata 80% lebih berasal dari surplus di capital/financial account, sedangkan sisanya berasal dari surplus transaksi perdagangan dan transfer. Hal ini sama dengan data tahun-tahun sebelumnya.

Fakta ini berbeda sekali dengan China yang cadangan devisanya sebagian besar bersumber dari surplus neraca perdagangan. Malaysia, yang pada 2007 cadangan devisanya sudah mencapai level seperti Indonesia, sekarang malah memiliki sumber utama dari surplus neraca perdagangan.

Dari gambaran tersebut, terlihat jelas bahwa sebenarnya pencapaian devisa bukan dari peningkatan level daya saing Indonesia dalam menghasilkan barang dan jasa. Terdongkraknya cadangan devisa terjadi akibat tambahan modal masuk yang ternyata didominasi investasi portofolio asing (hot money).

Karena itu, kita perlu mewaspadainya dari sudut stabilitas, mengingat dominasi hot money berpotensi menimbulkan kerawanan karena investasi ini sangat mudah untuk kembali mengalir keluar secara tiba-tiba, dan terjadi dalam waktu relatif cepat.

Tentu saja ada pandangan yang optimistis bahwa derasnya arus modal asing masuk ke Indonesia memperlihatkan, bahwa perekonomian negeri kita semakin dipercaya pihak luar. Pengelolaan ekonomi yang menunjang stabilitas, pertumbuhan perekonomian, dan perbaikan iklim investasi, membuat investor merasa aman dan ingin menanamkan dana di Indonesia.

Tapi patut diingat bahwa investasi bentuk ini suatu saat akan mengalir kembali keluar, setidaknya dari transaksi pembayaran bunga atau profit yang akan memengaruhi neraca berjalan. Sebab itu perlu ada kebijakan untuk menjaga agar dana-dana yang masuk ke Indonesia dapat bertahan lama, yakni dengan iming-iming suku bunga tinggi. Namun, ini akan membebani neraca Bank Indonesia.

Di sisi lain, kita perlu mencermati pertumbuhan ekonomi 2010 yang mencapai 6,1%, sementara terdapat kesenjangan semakin melebar dari pendapatan per kapita. Ini berarti indeks pembangunan manusia tidak menunjukkan perbaikan berarti, karena secara sektoral, telekomunikasi, jasa, perdagangan, dan keuangan tumbuh pesat, tetapi manufaktur, pertambangan, dan pertanian justeru semakin menyusut.

Meski Indonesia kaya sumber daya alam dan manusia, daya saing Indonesia tidak meningkat signifikan. Menurut survei indeks daya saing dunia, peringkat kita memang meningkat ke posisi ke-44 tahun 2010, tetapi tak ada perubahan mendasar untuk menjalankan usaha di Indonesia.

Karena itu tidak mudah menjaga pertumbuhan yang berkualitas, jika setiap pergantian menteri kerap disertai perubahan kebijakan. Artinya, jangan ada kesan paradoks ekonomi Indonesia terpengaruh oleh kekuatan politik tertentu, padahal pemerintahan saat ini mendapat dukungan mayoritas dari rakyat, yang sejatinya lebih kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depan.