Reksadana Saham Masih Layak Dikoleksi

NERACA

Jakarta - Mulai masuknya dana asing serta meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China diyakini akan membawa angin segar bagi pasar saham di Tanah Air. Ivan Jaya, Head of Wealth Management & Retail Digital Business Bank Commonwealth mengatakan, kedua faktor itu mendorong perbaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Untuk itu, investor disarankan kembali mengoleksi reksa dana saham pada bulan ini.”Kami merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan bagi nasabah yang ingin berinvestasi untuk jangka panjang," kata dia di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, di tingkat global para investor melihat China sebagai raksasa ekonomi terbesar kedua di dunia saat ini tengah tumbuh melambat yakni 6,5% year on year (yoy) pada kuartal/III 2018, lebih rendah dari yang diharapkan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS yang positif dan kondisi pasar tenaga kerja yang semakin ketat, meningkatkan peluang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada penghujung 2018.

Kenaikan suku bunga yang disertai oleh pertumbuhan ekonomi, lanjut Ivan, umumnya positif untuk pasar saham sehingga untuk nasabah dengan profil risiko growth masih dapat mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio. Sepanjang Oktober lalu, pasar saham dan pasar obligasi Indonesia mengalami koreksi. IHSG terkoreksi -2,42% atau sebesar -8,24% year-to-date, sedangkan BINDO Index mencatatkan total return -6,28% ytd.

Di sisi lain, ekonomi Indonesia pada kuartal III/2018 tumbuh 5,17% year on year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dari kuartal III/2017 yang sebesar 5,06% yoy, tapi masih lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II/2018 yang sebesar 5,27% yoy. Neraca perdagangan Indonesia pada September lalu juga secara tidak terduga mencatat surplus US$227 miliar, ketika konsensus memperkirakan akan terjadi defisit. Sentimen positif lainnya datang dari laporan keuangan emiten untuk kuartal III/2018 yang tercatat positif.

Mengutip data Infovesta Utama, kinerja rata-rata reksadana saham dalam Infovesta Equity Fund Index turun 0,40% (mom) sepanjang bulan September 2018 lalu. Jika dihitung sejak awal tahun, kinerja rata-rata reksadana saham telah merosot 5,60% (ytd) atau terendah dibandingkan reksadana lainnya.

Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana pernah mengatakan, bulan lalu kinerja reksadana saham terpapar sentimen kenaikan suku bunga acuan AS. Sebelum kenaikan tersebut benar-benar terwujud, para pelaku pasar sudah memberi respons negatif sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tren penurunan.

Tidak hanya itu, reksadana saham juga diserang sentimen tambahan berupa pelemahan nilai tukar rupiah yang juga disebabkan efek kenaikan suku bunga acuan AS. Wawan menambahkan, reksadana saham semakin tertekan mengingat sebagian besar produk reksadana tersebut mengandalkan saham-saham dari sektor perbankan atau keuangan.

BERITA TERKAIT

Bukaka Kuasai 25% Saham Poso Energy

PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) kembali menguasai 25% saham PT Poso Energy. Sebelumnya, Bukaka sempat melepas 4,49% sehingga kepemlikan…

Geliat Bisnis Investasi - PII Agresif Sertakan Saham di Anak Usaha IPC

NERACA Jakarta – PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) yang merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, sampai…

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perumnas Terbitkan MTN Rp 300 Miliar

Danai pengembangan bisnisnya, Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) akan menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN)…

BEI Suspensi Saham Perdana Bangun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) setelah sebelumnya…

Indosat Lunasi Obligasi Rp 224,59 Miliar

Meskipun performance kinerja keuangan masih negatif, kondisi tersebut tidak membuat PT Indosat Tbk (ISAT) untuk nunggak bayar obligasi yang jatuh…