Waspadai Fluktuasi Rupiah

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam rentang perjalanan beberapa pekan terakhir menguat signifikan. Dari posisi terlemahnya sejak 1998 di level Rp15.260, rupiah kemudian beranjak menguat ke level Rp14.500. Namun, dalam pekan terakhir rupiah kembali melemah signifikan. Apakah rupiah memasuki era penguatan yang berkelanjutan atau justru memasuki era fluktuasi yang liar?

Memang tak bisa dipungkiri derasnya arus modal masuk dalam jumlah besar telah membuat rupiah makin perkasa. Bahkan dibandingkan dengan mata uang utama dunia lainnya, rupiah termasuk yang memiliki kinerja terbaik setidaknya dalam dua pekan terakhir.

Rupiah perlahan namun pasti, dalam dua pekan terakhir menguat rerata lebih dari Rp100 poin per hari. Sehingga secara kumulatif rupiah menguat hingga 1% terhadap dolar AS dalam rentang waktu tersebut, dinilai terlalu cepat.

Arus modal yang mengalir ke pasar keuangan Indonesia menjadi obat kuat mujarab bagi rupiah. Sementara di pasar obligasi pemerintah, imbal hasil (yield) masih cenderung turun yang menandakan harga instrumen ini sedang naik.

Ada beberapa waktu yang bisa menjelaskan mengapa rupiah menguat begitu tinggi terhadap dolar AS dalam dua pekan terakhir. Pertama, dalam pemilu sela di Amerika Serikat sejak awal publik menduga Partai Demokrat akan menang terhadap Partai Republik, hari ini dugaan publik itu terkonfirmasi dan Partai Demokrat tampil sebagai pemenang dalam pemilihan umum sela tersebut.

Hal ini tentu saja membawa konsekuensi akan menyulitkan Presiden Donald Trump asal Partai Republik. Program kerjanya kapan saja bisa dijegal oleh Partai Demokrat di parlemen, dan ini adalah isyarat buruk buat dolar AS, sehingga greenback melemah terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia. Tanpa kecuali mengalami pelemahan signifikan.

Kedua, di tengah isu kekalahan Partai Republik, Presiden Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xie Jin Ping untuk meredakan perang dagang. Hal ini tentu saja membuat dolar AS melemah terhadap mata uang utama dunia.

Ketiga, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berpendapat pemberlakuan fasilitas non delivery forward global (NDF) dan lokal (DNDF) berhasil memancing uang global masuk kembali ke tanah air, sehingga cadangan devisa bulan Oktober 2018 kembali naik menjadi US$115,4 miliar.

Tentu saja berbagai alasan rupiah menguat itu tidak terlalu penting, yang terpenting adalah rupiah kembali menguat. Ha ini adalah kabar gembira yang harus disyukuri, hanya saja karena penguatannya terlalu cepat dikhawatirkan akan membahayakan ekonomi ke depan.

Kita melihat ada beberapa fakta yang perlu dicatat terkait penguatan rupiah yang terlalu cepat tersebut. Pertama, penguatan rupiah yang terlalu cepat ini tentu ada sesuatu yang keliru, karena masalah struktural perekonomian belum diselesikan. Seperti laju pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor, sehingga menimbulkan defisit yang terus melebar.

Kedua, masuknya dana asing ke Indonesia bersifat uang panas (hot money) yang setiap saat bisa masuk disaat yang lain bisa pergi dengan cepat (easy come, easy go). Bisa saja jika dua pekan terakhir dana luar mudah masuk, namun suatu saat mudah keluar lagi.

Ketiga, sentimen positif meredanya perang dagang AS dengan China, bisa saja berubah panas lagi lantaran figur Donald Trump yang meledak-ledak setiap saat bisa kembali menaikkan tarif bea impor barang-barang China.

Keempat, asing memborong saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sudah mulai jatuh. Ketika harga sudah terlalu murah, asing pandai mengoleksi saham-saham bluechips, untuk kemudian dimasa yang akan datang dilepas kembali untuk merealisasi profit taking.

Kelima, defisit transaksi perdagangan (current account defisit—CAD) pada kuartal III diperkirakan membengkak hingga lebih 3 % terhadap produk domestik bruto (PDB). Walaupun di kuartal ke IV akan turun kembali, namun dampak terhadap rupiah tidak cukup baik. Untuk itu, Bank Indonesia dan pemerintah perlu mengantisipasi fluktuasi rupiah yang setiap saat dapat berubah akibat berbagai faktor.

BERITA TERKAIT

Waspadai Penyebab Defisit

Dua lembaga pemantau cuaca, BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengingatkan masyarakat akan perubahan cuaca yang sangat dinamis dengan…

Pemerintah Diminta Waspadai Risiko Shortfall

  NERACA Jakarta - Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menuturkan, pemerintah harus mewaspadai risiko shortfall yang cukup…

Waspadai Anak Bermain Gawai Keseringan

    Dokter Spesialis Anak DR. dr. Meita Dhamayanti, Sp.A(K) mengatakan bayi di bawah umur lima tahun (balita) yang cenderung…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Prospek Ekonomi 2019

Membaca kinerja ekonomi Indonesia hingga triwulan I-2019 terlihat cukup positif. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,07% (yoy), tumbuh stabil dibandingkan pertumbuhan periode…

Perlukah Pembatasan HP?

Rencana Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) akan menerbitkan peraturan pembatasan penggunaan gawai (ponsel) oleh anak-anak setelah bertemu Menteri…

Pembelajaran Medsos

Sebagian masyarakat Indonesia saat ini merasa resah atas ancaman hukuman UU ITE yang sejauh ini telah menjerat ratusan orang yang…