Sentimen Positif Rupiah Membalikkan Laju IHSG

NERACA

Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (13/11) kemarin ditutup menguat seiring kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional masih cukup baik. IHSG ditutup menguat sebesar 58,14 poin atau 1,01% menjadi 5.835,19, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 12,51 poin atau 1,38% menjadi 920,14.

Vice President Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya mengatakan, pergerakan IHSG yang kembali menguat setelah sempat tertekan pada sesi pembukaan menunjukan kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional masih baik.”Kondisi pergerakan IHSG saat ini masih menunjukkan rentang konsolidasi wajar dengan pola penguatan lanjutan, tentunya masih ditopang oleh kuatnya fundamental perekonomian nasional,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut menjadi faktor positif bagi investor dalam menentukan investasinya.”Situasi itu diharapkan dapat menjaga pergerakan IHSG kembali menguat hingga beberapa waktu mendatang," katanya.

Sementara itu tercatat, frekuensi perdagangan saham kemarin sebanyak 389.734 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 9,69 miliar lembar saham senilai Rp7,87 triliun. Sebanyak 168 saham naik, 188 saham menurun, dan 147 saham tidak bergerak nilainya. Bursa regional, di antaranya indeks Nikkei ditutup melemah 459,36 poin (2,06%) ke 21.819,88, indeks Hang Seng menguat 159,69 poin (0,62%) ke 25.792,86, dan indeks Strait Times melemah 14,55 poin (0,47%) ke posisi 3.053,60.

Sebaliknya pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka melemah 22,45 poin atau 0,39% menjadi 5.754,59. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 5,60 poin atau 0,62% menjadi 902,03.”Masih berat bagi IHSG untuk lelunasa bergerak ke area positif pada perdagangan saham Selasa, mengingat cukup kuatnya bauran sentimen negatif yang beredar baik dari dalam dan luar negari," kata Kepala Riset Valbury Sekuritas, Alfiansyah.

Dari dalam negeri, dia mengatakan defisit transaksi berjalan pada kuartal III 2018 yang melebar masih menjadi sentimen negatif bagi pasar. Selain itu, dirinya menambahkan, aksi rebalancing investor menyusul penambahan bobot penghitungan indeks juga masih berpengaruh.”Saham-saham dengan freefloat rendah akan berkurang dari portofolio manajer investasi," ujarnya.

Dari eksternal, lanjut dia, the Fed yang berencana menaikkan suku bunga acuannya pada Desember 2018 telah menahan apresiasi rupiah dan berdampak negatif ke pasar saham.”The Fed mengeluarkan narasi yang konsisten bahwa pengambil kebijakan tetap berkomitmen pada kenaikan suku bunga lebih lanjut secara bertahap," katanya.

BERITA TERKAIT

Sentimen Pemangkasan Suku Bunga - Transaksi Harian Bursa Sepekan Naik 15,30%

NERACA Jakarta - Sentimen pemangkasan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate  sebesar 0,25% menjadi 5,75% masih memberikan sentimen positif…

INDUSTRI OTOMOTIF SAMBUT POSITIF PENURUNAN BUNGA - BI Prediksi Pertumbuhan Stagnan di Triwulan II

Jakarta-Kalangan industri otomotif menyambut positif penurunan suku bunga acuan. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia bisa berdampak pada penurunan…

Sentimen BI Rate Jadi Katalis Positif Sektor Properti

NERACA Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate  sebesar 0,25% menjadi 5,75% mendapatkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Libur Sekolah dan Lebaran - Laba Bersih ROTI Melesat Tajam 153,82%

NERACA Jakarta – Emiten produsen Sari Roti, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) membukukan kenaikan laba bersih yang dapat diatribusikan…

Benahi Fundamental Bisnis - KS Rencanakan Tiga Anak Usahanya Go Public

NERACA Jakarta – Minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal atau go public cukup besar, namun sayangnya dari sekian…

Permintaan Obligasi Indosat Capai 1,7 Kali

NERACA Jakarta  -Aksi korporasi PT Indosat Tbk (ISAT) menerbitkan surat utang senilai total Rp 3,38 triliun yang terdiri dari obligasi…