Pertamina Hulu Bantah Lempar Saham ke Publik - IPO BUMN

NERACA

Jakarta - Anak perusahaan PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), menegaskan tidak akan melaksanakan go public seperti yang didengungkan selama ini.

Menurut Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina, M. Afdal Bahaudin, pihaknya tidak terfikirkan untuk melantai di bursa melalui mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO). "Kami tegaskan bahwa PHE tidak akan IPO," katanya, kala ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (5/3).

Dia menjelaskan, justru saat ini perseroan tengah melakukan evaluasi anak-anak perusahaan Pertamina yang siap ditawarkan ke publik. Afdal mengklaim, anak perusahaan minyak dan gas (migas) pelat merah yang siap IPO antara lain PT Pertamina Geothermal Energy dan PT Tugu Pratama.

Sebagai informasi, Pertamina memang telah memasukkan rencana IPO dua anak usahanya, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dan PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), ke dalam rencana kerja anggaran perusahaan.

Vice President Corporate Communications Pertamina, Mochamad Harun menuturkan, Pertamina menargetkan dua anak usahanya go public, namun tetap disesuaikan dengan kondisi pasar saham. Bahkan, lanjut dia, tidak hanya PGE dan PDSI tetapi dua anak usaha Pertamina lainnya telah dipersiapkan masuk pasar bursa, yaitu PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Pertamina Gas (Pertagas). Saat ini, Pertamina memiliki saham pada PGE sebesar 90%, PDSI 99%, Pertagas 99%, serta PHE sebesar 98,72%.

Terkait kinerja, Pertamina membukukan laba bersih sebesar Rp 21 triliun pada 2011. Perusahaan migas BUMN ini memproyeksikan laba hingga 2015 mendatang senilai Rp 54,2 triliun. Laba tersebut termasuk proyeksi operasional dan investasi, di mana inisiatif strategi diharapkan bisa menyumbang Rp 19,2 triliun.

Kontribusi terbesar terhadap peningkatan laba bersih perseroan itu adalah efisiensi melalui pemotongan beberapa proses bisnis dan sinergi antaranak perusahaan. Kenaikan harga minyak mentah yang diproduksi perseroan itu turut mendorong tingkat laba. "Kami juga mendapat delta atau selisih harga cukup baik antara harga minyak mentah dan produk olahan," ujar Harun.

Pertamina juga sudah menganggarkan dana investasi sebesar Rp 359 triliun dalam periode 2012-2015, dengan 85% akan dialokasikan untuk pengembangan sektor hulu atau sejalan dengan keinginan perusahaan untuk meningkatkan porsi hulunya. Investasi itu dilakukan dengan mekanisme belanja modal (merger), dan akuisisi. Tahun lalu, Pertamina mengalokasikan Rp 37,1 triliun, 76% untuk hulu dan 21% hilir. Sementara 2012, Pertamina menganggarkan dana Rp 83,9 triliun, di mana industri hulu 82% dan hilir 17%. [ardi]

Related posts