The Fed akan Naikkan Bunga Bertahap

NERACA

Jakarta - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap. Hal ini dilakukan karena masih adanya tren kenaikan inflasi di atas target sebesar dua persen. Namun, kenaikan suju bunga belum tentu dilakukan bulan depan.

"Pengandaian saya memerkiraan untuk dua hingga tiga (kenaikan suku bunga) selama periode waktu berikutnya, dengan waktu yang tepat tidak pasti," Mary Daly mengatakan kepada wartawan setelah pidato pandangan ekonomi resmi pertamanya sebagai presiden The Fed San Francisco, sebuah jabatan yang ia mulai pada bulan lalu

The Fed secara luas diperkirakan akan meningkatkan suku bunga menjadi 2,25 persen hingga 2,5 persen. Ditanya apakah kenaikan berikutnya akan datang bulan depan, Daly mengatakan terlalu dini untuk memastikan hal itu. "Kita memiliki banyak waktu antara sekarang dan Desember untuk melihat bagaimana ekonomi berkembang," katanya.

Tidak jelas apakah komentar Daly mengisyaratkan kesediaan untuk menggunakan suara pertamanya sebagai pembuat kebijakan untuk berbeda pendapat. Daly mengatakan dia yakin The Fed harus secara bertahap menaikkan suku bunga menuju tingkat 'netral', ketika dalam ekonomi yang sehat tingkat biaya pinjaman tidak meningkatkan atau memperlambat pertumbuhan.

Dia mengatakan, perkiraan netralnya antara 2,5 persen hingga 2,8 persen. "Jika Anda bertanya kepada saya hari ini, saya mungkin akan memilih di tengah kisaran, sekitar 2,7 persen," katanya. Ditanya apakah The Fed akan perlu pindah ke kebijakan moneter "restriktif" pada tahun depan, seperti yang disarankan beberapa pembuat kebijakan, dia mengatakan diskusi semacam itu terlalu dini. "Bertahap sangat membantu karena memungkinkan kita menaikkan menaikkan suku bunga, melihat-lihat sekitar, mengevaluasi, menginterpretasikan data dan kemudian, dan hanya kemudian, membuat kenaikan lagi," katanya.

Hingga September, ketika mereka terakhir merilis prakiraan publik, bank sentral AS berharap untuk terus menaikkan suku bunga tahun depan. Daly mengatakan bahwa kecepatan akan tergantung pada bagaimana perkembangan ekonomi, saat ini didorong oleh pemotongan pajak dan pengeluaran pemerintah di dalam negeri serta pertumbuhan global secara internasional. Untuk saat ini, katanya, ekonomi AS sangat bagus dengan pasar tenaga kerja yang sedang booming dan prospek inflasi yang sangat menggembirakan. Pengangguran mencapai 3,7 persen secara nasional.

BERITA TERKAIT

Suku Bunga Acuan Masih Akan Naik di 2019

P { margin-bottom: 0.08in; }A:link { }       NERACA   Jakarta – Chief Economist Bank Mandiri Anton Gunawan…

Dampak Suku Bunga Tinggi - Pefindo Taksir Nilai Obligasi Rp 138,1 Triliun

NERACA Jakarta - PT Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan total nilai penerbitan obligasi sepanjang tahun 2018 hanya Rp138,1 triliun. Nilai…

Pelabuhan Gili Mas akan Membawa Dampak Bagi Wisata Lombok

Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid yakin Terminal Gili Mas yang sedang dibangun oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III akan menjadi…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Industri Properti Perlu Waspadai Suku Bunga dan Likuiditas

      NERACA   Jakarta – Industri properti dihimbau untuk mengantisipasi terhadap dua tantangan penting yaitu ketidakpastian ekonomi global…

Bank Muamalat Kerjasama Remitansi dengan Al Rajhi Bank Malaysia

      NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bersama Al Rajhi Bank Malaysia menandatangani perjanjian kerjasama…

Masalah Fintech, LBH dan OJK Masih Deadlock

      NERACA   Jakarta - Pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta belum…