Analis : IHSG Tahan Banting Kenaikan BBM dan Gejolak Politiknya - Masih Pertimbangkan Sentimen Global

Neraca

Jakarta - Pengamat pasar modal dari Universal Broker Securities Satrio Utomo mengatakan, rencana pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) tidak berdampak signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). "Berkaca pada 2003 dan 2005 lalu ketika BBM mengalami kenaikan, IHSG tidak mengalami tekanan justru bergerak meningkat,"katanya di Jakarta, Senin (5/3).

Dia meyakini, kondisi ekonomi global yang menunjukkan perbaikkan serta keadaan ekonomi dalam negeri cukup positif menjadi pemicu IHSG masih akan positif. Selain itu, lanjut dia, harga minyak dunia di kisaran 125-130 dolar AS per barel maka keputusan Pemerintah menaikkan BBM dianggap tepat, karena hal itu sudah sesuai prediksi kalangan pelaku pasar "Ada hal yang harus diperhatikan pasar, jika dalam jangka pendek kenaikan harga minyak dunia hanya berhenti di range US$ 115-120 per barel maka dipastikan pasar sudah siap karena sesuai dengan prediksi kenaikan pemerintah yang mencapai 40% dari anggaran harga minyak. Namun jika harga minyak dunia di kisaran US$ 125-130 per barel untuk tiga bulan ke depan, maka akan membuat tekanan terhadap pemerintah sehingga opsi kenaikan BBM yang diambil pemerintah sudah dianggap tepat,”ujarnya.

Sementara, lanjut dia, ketika 2008 terjadi kenaikkan BBM, IHSG sempat mengalami tekanan, namun hal itu lebih cenderung disebabkan oleh kondisi global yang mengalami krisis finansial. "Pasar memang memiliki trauma tersendiri paska kenaikkan harga BBM di 2008, namun hal itu terjadi karena di pasar keuangan global terjadi krisis sehingga membuat pasar sedikit trauma. Ketika 2008 lalu, setelah kenaikan harga minyak kita kena krisis jadi kondisinya menjadi panik, itu meninggalkan kesan trauma pelaku pasar, namun harus dilihat sejarahnya dimana IHSG selalu mendapat respon positif ketika BBM naik,"paparnya.

Menurut Satrio, selama ini kenaikan harga BBM selalu membalikkan tren pergerakkan yang ada, hal itu dapat dilihat pada sejarah dalam beberapa tahun belakangan ini. Artinya belum tentu berimbas negatif pada IHSG kedepannya.

Pertimbangkan BI Rate

Sementara analis MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, kenaikan harga BBM yang signifikan, yakni jika mencapai Rp1.500-Rp2.000 per liter, dapat menjadi masalah karena akan membuat laju inflasi menjadi tinggi dan tidak siapnya pelaku pasar menghadapinya. "Ini dapat menjadi masalah dan tentunya acuan prospek inflasi akan berubah. Dampaknya, ini bisa menekan laju IHSG sehingga hanya akan bergerak ke level 4.150 dan sulit menembus level 4.500," ujarnya.

Selain itu, ujar Edwin, kenaikan BBM yang signifikan akan membuat inflasi meningkat cukup besar dan posisi suku bunga acuan bank Indonesia (BI rate) juga bisa mencapai 6,5% pada akhir tahun.

Namun jika BBM mengalami kenaikan di kisaran Rp500,00 sampai Rp1.000,00 per liter, menurut Edwin, kemungkinan besar dengan memperhitungkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan pangan, inflasi sampai akhir tahun hanya berada di kisaran 5-5,5%.

Edwin juga menambahkan, masalah politik tidak memberi sentimen signifikan terhadap pergerakan IHSG ke depan akibat dipicu kenaikan BBM. Pasalnya, pelaku pasar akan cenderung memperhatikan masalah zona Euro, Amerika Serikat dan, rencana kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik (TDL). "Mengurangi subsidi dan adanya bantuan langsung untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM dan TDL ini akan meredam gejolak politik,”tegasnya.

Menurutnya, bila ada demo buruh pun dampaknya kecil karena bantuan langsung tersebut kompensasinya besar. Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, pelaku pasar sudah cukup kebal dengan berita-berita politik.

Gejolak Politik

Bila dilihat sebelum tahun 2000-an, isu politik memang bisa mendorong pasar. "Ada berita politik sedikit indeks langsung turun. Tapi sejak tahun 2000-an hingga sekarang trennya cenderung kebal. Cenderung tahan banting. Pelaku pasar seolah tidak mau ambil pusing. Jadi politik mau ngapain juga, indeks tetap jalan terus," tutur Haryajid.

Haryajid menjelaskan, dengan kondisi perekonomian global fluktuaktif, di mana krisis utang zona Euro masih menghantui pelaku bursa saham global baik regional dan perkembangan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat jauh lebih diminati oleh pelaku pasar.

Meski begitu, keputusan politik yang berhubungan langsung dengan kepentingan ekonomi masyarakat akan berdampak terhadap IHSG. Sentimen tersebut antara lain kenaikan harga BBM dan TDL. "Mungkin masih akan ada pengaruhnya kalau itu menyangkut ekonomi dan juga kepentingan masyarakat. Misalnya saja kebijakan BBM dan TDL. Tapi kalau politik secara umum, saya yakin relatif tidak ada pengaruhnya yang signifikan," kata Haryajid. (bani)

Related posts