Bappenas: Pertumbuhan RI Relatif Stagnan - AKIBAT PRODUKTIVITAS TERTINGGAL DARI NEGARA LAIN

Jakarta-Pejabat Bappenas mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai relatif stagnan dan masih jauh di bawah rata-rata. Salah satu faktor penyebabnya adalah rendahnya tingkat produktivitas nasional yang masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Meski demikian, tingkat pertumbuhan di kisaran 5% saat ini masih dinilai sebagai kondisi cukup baik.

NERACA

"Berdasarkan diagnosis kami, cerita utama di balik pertumbuhan ekonomi yang stagnan adalah kisah produktivitas," ujar Bambang Priambodo, Staf Ahli Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Bappenas, dalam seminar bertema “Indonesia Economic Outlook” di UI Depok, Senin (11/11).

Menurut dia, tingkat produktivitas Indonesia tidak tumbuh cepat dibandingkan negara-negara lain. Misalnya saja pada penggerak utama produktivitas pada transformasi struktural dari sisi ketenagakerjaan di Indonesia."Lebih dari 30% tenaga kerja bekerja di sektor pertanian," ujarnya.

Bambang mengatakan, selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5%. Angka ini, menurut dia, jauh di bawah rata-rata sebelum Asian Financial. "Pertumbuhan ekonomi akan lebih buruk jika kita tidak melakukan apa-apa," ujarnya.

Menurut dia, apabila ingin menjadi ekonomi berpenghasilan tinggi pemerintah perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga mendekati 6%. Caranya dengan melakukan upaya seperti mengubah kebijakan yang dapat menguntungkan Indonesia. "Oleh karena itu, kita perlu mengisi kesenjangan 5% hingga 6% dengan reformasi kebijakan," tutur dia.

Di sisi lain, produktivitas dalam sektor industrialisasi juga masih belum menunjukkan geliatnya, terutama di sektor ekspor. Meskipun pangsa industri manufaktur masih pada tingkat yang relatif tinggi, tetapi dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia, pangsa industri manufaktur turun terlalu dini.

"Buruknya kinerja industri manufaktur memiliki dampak yang jelas terhadap kinerja perdagangan internasional. Jika kita melihat apa yang kita ekspor, setelah 40 tahun, ekspor kita masih didominasi oleh komoditas," ujar Bambang.

Padahal menurut dia, sejak 1970-an, Malaysia dan Thailand juga mengandalkan komoditas dalam ekspor mereka. Namun sekarang bagian terbesar dari ekspor mereka adalah elektronik yang menunjukkan perbaikan.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2018 mencapai 5,17%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal II-2018 sebesar 5,27%.

Menurut Bambang, pertumbuhan ekonomi di atas 5% masih dalam kondisi baik. Dia memperkirakan, hingga akhir 2018 pertumbuhan ekonomi keseluruhan berada di kisaran 5,2%. "Ini kuartal III-2018 kumulatifnya 5,17%, kita berharapnya lebih baik lah. Saya kira keseluruhan tahun 5,2%," ujarnya.

Meski ada penurunan pada kuartal III-2018, menurut dia, pertumbuhan ekonomi di angka 5,17% dinilai aman. Sebab di tengah di tengah kondisi perekonomian global, pemerintah masih dapat menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%. "Kita relatif mampu bahkan tetap tumbuh cukup tinggi dan juga cukup bisa menghadapi tekanan eksternal baik itu dari normalisasi kebijakan moneter Amerika dan perang dagang maupun isu geopolitik lainnya," ujarnya.

Tidak hanya itu. Bambang menilai kondisi perekonomian global masih akan berlanjut hingga awal 2020 mendatang. Oleh karenanya, pemerintah akan mengantisipasi tekanan-tekanan dari luar yang mengakibatkan atau berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Kemungkinan masih terus berlangsung tahun depan sampai kemungkinan awal tahun 2020 karena siklus normalisasi kebijakan moneternya memang cukup lama. Semoga kita bisa pertahankan seluruh situasi eksternal dengan baik," ujarnya.

Menurut Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2018 dipengaruhi oleh beberapa hal. Antara lain harga komoditas non migas yang mengalami penurunan. "Harga komoditas nonmigas mengalami penurunan. Migasnya naik, nonmigas menurun. Misal terjadi penurunan untuk beberapa komoditas pertanian seperti daging sapi, minyak sawit, kopi, teh menurun baik qtq atau yoy," ujarnya di kantornya, pekan lalu.

Kecuk mengatakan, selain penurunan harga komoditas, pertumbuhan ekonomi kuartal III juga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global yang menunjukkan perlambatan kecuali Amerika Serikat (AS). Beberapa di antaranya Eropa, Tiongkok, Singapura, Korea Selatan dan negara berkembang lainnya.

Perangkap Pendapatan Menengah

Pembicara lainnya, Lead Economist World Bank Indonesia Vivi Alatas menuturkan, cara Indonesia bisa keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle income trap) adalah dengan mendorong pertumbuhan kelas menangah. Sebab, dengan mendorong hal tersebut akan mencapai potensi pembangunan maksimal serta menjadi negara berpendapatan tinggi. "Untuk itu penting mendorong pertumbuhan kelas menengah agar lepas dari jeratan middle income trap," ujarnya.

Vivi mengatakan, kontribusi terbesar dalam pertumbuhan kelas menengah masih sebagian ditopang oleh konsumsi rumah tangga. "Kelas menengah adalah konsumen utama, karena pertumbuhan datang dari konsumsi, dia yang hanya 22% tapi total impactnya pengeluaran rumah tangga kelas menengah sejak 2002 tumbuh 19% tiap tahun. Artinya kelas menengah dapat meningkatkan multiplier efek dari peningkatan konsumsi," tutur dia.

Menurut dia, pertumbuhan kelas menengah juga berpotensi sebagai mesin pembangunan.

Sebab di samping jumlahnya yang besar dia juga memiliki kapasitas untuk berinvestasi di sektor pendidikan. "Pendidikan bukan hanya dia, tapi anakanya. Dia juga punya akses digital literacy yang mampu dimanfaatkan. Jadi kelas menengah akan punya dampak lintas generasi," ujarnya.

Kemudian potensi kelas menengah tersebut menurut dia, telah didominasi dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Terbukti dari 42% penghasilannya datang dari kelas menengah. "Artinya kemungkinan kontribusinya lebih tinggi dari kelompok-kelompok lain. Di sini pada saat kita mendorong kelas menengah itu akan membawa dampak penciptaan lapangan kerja dan kemungkinan naik kelas," ujarnya.

Untuk memanfaatkan pertumbuhan ekonomi kelas menengah pemerintah perlu memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat untuk tumbuh menjadi kelas menengah. Kemudian memberikan kesempatan kerja yang sama serta memberikan secara maksimal perlindungan sosial.

Secara terpisah, Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro mengatakan, pertumbuhan ekonomi atau PDB Indonesia ditargetkan dapat menjadi kelima terbesar di dunia pada tahun 2045. "Sampai sejauh ini kita sudah on the right track, dan mudah-mudahan ke depan kita dapat mencapai apa yang ditargetkan di 2045. Saya juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bergandengan tangan mewujudkan visi tersebut," ujarnya di KBRI Singapura seperti dikutip Merdeka.com, Minggu (11/11).

Menurut Bambang, pada 2045, total penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 318,9 juta orang, dengan rasio ketergantungan 53,35%. Untuk itu, Pemerintah harus memanfaatkan bonus demografi dengan mengembangkan SDM berkualitas, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan mempromosikan gaya hidup sehat."Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2036 dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar kelima dunia di tahun 2045," ujarnya. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Kredit 11,5%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen pada 2019 lebih rendah…

BNI SYARIAH DUKUNG PERTUMBUHAN EKONOMI SYARIAH ACEH

Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo (kiri) saat penyerahan bantuan sosial kepada perwakilan Pondok Pesantren Dayah Mini kerjasama BNI…

APP Sinar Mas Kembali Raih Penghargaan dari Kemenperin - Terapkan Prinsip Industri Hijau

APP Sinar Mas Kembali Raih Penghargaan dari Kemenperin Terapkan Prinsip Industri Hijau NERACA Jakarta – Dua unit industri Asia Pulp…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

DINILAI MELANGGAR UU MINERBA - Iress Tolak Revisi PP 23/2010

Jakarta-Indonesian Resources Studies (Iress) menolak rencana pemerintah kembali merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan…

BANYAK FINTECH ILEGAL DARI CHINA - Satgas OJK Tindak Tegas 404 Fintech Ilegal

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi akhirnya menghentikan kegiatan usaha dari 404 penyelenggara layanan pinjam meminjam (peer to…

Butuh Kolaborasi Tingkatkan Daya Saing Pasar Rakyat

NERACA Jakarta – Daya saing yang dimiliki oleh pasar rakyat memiliki potensi besar dibandingkan dengan pasar swalayan. "Artinya secara daya…