Penetapan Bobot Indeks Tambah Unsur Free Float - Tingkatkan Daya Saing dan Mutu

NERACA

Jakarta –Dalam rangka meningkatkan daya saing dan mutu indeks di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana untuk menyempurnakan indeks dengan memasukkan unsur free float sebagai unsur penggali dari indeks. Dimana nantinya penetapan bobot indeks akan didasarkan pada bobot free float.”Saat menentukan bobot konstituen indeks, kami akan mempertimbangkan free float," kata Hasan Fawzi, Direktur BEI di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, nantinya setiap emiten akan disaring likuiditasnya, baru setelah itu akan akan diberikan bobot sesuai dengan perkalian kapitalisasi pasar dan free float atau persentase jumlah saham publik beredar. Hal ini akan berlaku bagi semua saham dan semua konstituen. Tentu saja hal ini akan menurunkan bobot beberapa saham dengan free float yang mini seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Sebagai informasi, saat ini free float HMSP adalah sebesar 7,5%, setara dengan minimal free float bursa. Namun demikian, Hasan mengatakan bahwa hal ini akan dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia secara bertahap dimulai dengan indeks-indeks yang dimiliki oleh BEI terlebih dahulu yakni LQ45 dan juga IDX30. "Kami akan sosialisasikan di minggu ketiga November mendatang," kata Hasan.

Hasan bilang bahwa secara bertahap nantinya, hal ini akan diimplementasikan ke indeks-indeks yang ada di BEI. Menurutnya hal ini adalah common best practice di bursa-bursa yang ada di seluruh dunia. Sementara menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widodo, penerapan pola tersebut dapat saja mendorong emiten melakukan aksi korporasi untuk meningkatkan free float. Pasalnya, dengan penerapan pola perhitungan tersebut, akan mendorong emiten-emiten dengan free float pas-pasan atau hanya 7,5% akan melakukan aksi korporasi untuk meningkatkannya. Sehingga bobotnya dalam indeks tidak merosot.”Bagi emiten yangconcern-nya dalam indeks, maka bisa saja melakukan right issue atau private placement,”ujarnya.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, IGD Nyoman Yetna kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan free float saham yang sudah ditentutkan. Pasalnya, pihak BEI siapkan sanksi tegas berupa denda sebesar Rp 50 juta serta sanksi administratif bagi emiten yang masih belum mampu memenuhi aturan free float.

Untuk diketahui, berdasarkan data KSEI pertanggal 25 Oktober 2018, nilai kapitalisasi saham beredar di publik dalam bentuk elektronik yang dimiliki oleh investor dengan kepemilikan saham lebih kecil dari 5% mencapai Rp2,124 triliun atau 33% dari nilai kapitalisasi pasar BEI. Sedangkan kapitalisasi saham dalam bentuk elektronik mencapai Rp3.295 triliun atau sebesar 51%. Sementara itu, berdasarkan simulasi bursa, terdapat 11 emiten yang mengalami penurunan bobot pada indeks LQ45 periode Agustus 2018 hingga Feberuari 2019.

Rinciannya, UNVR menjadi 3,43% dari 8,45%, HMSP menjadi 2,36% dari 11,12%, GGRM menjadi 1,75% dari 3,56%, ICBP menjadi 1,52% dari 2,67%, PTBA menjadi 0,9% dari 1,25%, BRPT menjadi 0,68% dari 0,88%, JSMR menjadi 0,66% dari 0,77%, WSKT menjadi 0,49% dari 0,5%, dan WSBP dari 0,21 menjadi 0,2%.

BERITA TERKAIT

Perketat Saham-Saham Bermasalah - BEI Bakal Tambah Jumlah Kriteria I-Suite

NERACA Jakarta – Kebijakan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimplementasikan sistem i-suite pada saham emiten yang bermasalah, direspon positif pelaku…

Wakil Ketua MPR - Perpecahan dan Korupsi Tantangan Terbesar Bangsa

Mahyudin Wakil Ketua MPR Perpecahan dan Korupsi Tantangan Terbesar Bangsa Palangkaraya - Wakil Ketua MPR Mahyudin mengatakan isu perpecahan dan…

Butuh Kolaborasi Tingkatkan Daya Saing Pasar Rakyat

NERACA Jakarta – Daya saing yang dimiliki oleh pasar rakyat memiliki potensi besar dibandingkan dengan pasar swalayan. "Artinya secara daya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…