Pancasila untuk Indonesia, Tidak Ada Tempat bagi Khilafah

Oleh: Maman Harun, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Pertemuan antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia telah memberikan penegasan yang kuat bagi bangsa Indonesia, bahwa Indonesia sedikitpun tidak akan pernah menerima Khilafah. Sangat disayangkan ketika Indonesia berada dalam masa pertumbuhan besar banyak bermunculan oknum-oknum yang menginginkan berdirinya Khilafah dan menggeser persatuan bangsa.

Oknum-oknum yang mengupayakan berdirinya Khilafah sesungguhnya juga merupakan umat islam, namun kenapa, kenapa mereka sangat memaksa agar Khilafah ditegakkan dan kenapa hanya mereka sebagian kecil umat Islam? Sesungguhnya Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Jumlah umat Islam yang besar ini terdiri dari beberapa ormas Islam yang mewakilinya. Adapun 2 ormas Islam terbesar saat ini yaitu NU dan Muhammadiyah. NU-Muhammadiyah ini sudah berdiri sejak masa kemerdekaan Indonesia. Kita bisa bayangkan betapa besar ilmu serta pengalaman yang dimiliki oleh kedua ormas Islam tersebut. Untuk itu, kita harus sadar sampai detik ini NU-Muhammadiyah tidak pernah membenarkan berdirinya negara khilafah di Indonesia. Pertanyaan terbesar kita saat ini adalah kenapa akhir-akhir ini Khilafah menjadi trending di Indonesia?

Kita sebagai masyarakat khususnya generasi milenial harus sadar bahwa para founding father bangsa ini tidak main-main menyatukan bangsa ini menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu mereka yang berkontribusi menyatukan bangsa ini juga bukan orang-orang sembarangan. Mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan, para pakar, berpengalaman, serta memiliki reputasi yang baik di dunia. Sehingga kita tidak bisa memandang sebelah mata dasar Negara kita Pancasila yang lahir atas buah pemikiran para founding father. Mereka yang berkontribusi dalam perumusan, terdapat perwakilan dari para ulama-ulama besar yang notabene lebih tinggi ilmunya daripada para ulama dan habib dadakan di Indonesia saat ini.

Sehingga Sungguh Bodoh, bila ada manusia yang dengan mudahnya menilai rendah Pancasila bahkan ingin menggantinya dengan Khilafah, dengan iming-iming bagian dari jihad. Mantan Ketua MUI/Ulama terbesar di Indonesia (KH Ma’ruf Amin) pernah memaparkan kepada generasi milenial apa inti paling berharga di dalam Pancasila. Pancasila merupakan inti sebuah instrumen pemersatu bangsa. Tanpa Pancasila Indonesia dengan segala kekayaan keberagaman yang ada, tidak akan pernah bersatu. Dunia internasional mengakui Indonesia hebat, Indonesia negara besar, Indonesia memiliki segala macam kekayaan alam yang tidak akan habis sehingga banyak dari negara luar datang ke Indonesia untuk mempelajari bagaimana negara dengan tingkat keberagaman terbanyak dapat hidup dengan rukun. Dan semua itu jawabannya hanya satu yaitu, karena Indonesia memiliki Pancasila.

Sekarang yang perlu direnungankan adalah, bila Pancasila adalah alat pemersatu bangsa, jadi apa maksud dari fenomena adanya sekelompok orang yang ingin Pancasila dihancurkan, diganti dengan Khilafah? Tidakah kita melihat bahwa mereka sama seperti pengkhianat bangsa? Tidakah kita melihat bahwa mereka adalah musuh kita yang sesungguhnya? Generasi milenial harus membuka mata lebar-lebar sebelum Indonesia negara kita tercinta terhapus tinggal sejarah. Kaitannya dengan kondisi sekarang, adanya rencana aksi 212, kita tidak bisa tinggal diam. Itu adalah aksi nyata upaya memecah belah bangsa, aksi nyata menghancurkan Indonesia, wujud nyata dari bibit-bibit penyebab kehancuran bangsa.

BERITA TERKAIT

Kenapa Harus Ada “People Power”?

  Oleh : Dewi Komalasari, Pemerhati Masalah Sosial Politik Kenapa mesti ikut pemilu jika dirinya tidak percaya dengan kinerja KPU?…

Raperda Kota Religius Depok untuk Kehidupan Yang Tenteram

Raperda Kota Religius Depok untuk Kehidupan Yang Tenteram NERACA Depok - Wali Kota Depok Mohammad Idris menjelaskan Rancangan Peraturan Daerah…

Ada Promo, Kenaikan Tarif Ojol Dianggap Semu

    NERACA   Jakarta - Ketua Tim Peneliti Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) Rumayya Batubara menyatakan promosi berlebihan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Persatuan Wujud Kemenangan Bersama Seluruh Warga Bangsa

  Oleh : Rahmat Ginanjar, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Pada 21 Mei dinihari merupakan hari dimana pengumuman resmi dari KPU telah…

Mengawal Kontribusi Pajak untuk Menjadi Manfaat

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak Berbagai upaya mencapai target pembangunan yang telah ditetapkan di tahun 2019, pemerintah…

Diperlukan Konsolidasi Nasional, Segera!

Oleh: Erros Djarot, Budayawan Sudah terlambat untuk saling menyalahkan. Begitu juga sudah bukan merupakan penyelesaian dengan mengatakan pelaku kerusuhan adalah…