Ekonomi Biru Tawarkan Kesejahteraan Berkelanjutan

Oleh: Amanda Katili Niode Ph.D., Manajer Climate Reality Indonesia

Jose Maria Figueres memiliki karier yang cemerlang sebagai pebisnis, politisi, dan pegiat lingkungan. Di usia 39 tahun ia terpilih menjadi Presiden Kosta Rika yang dijabatnya pada 1994-1998. Figueres membangun negara kecil itu dengan menyertakan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Program konservasi Kosta Rika termasuk terbaik di dunia dan digunakan sebagai model untuk wilayah lainnya.

Kini Sarjana Teknik Industri dari U.S. Military Academy, West Point, dan penyandang gelar Master di bidang Administrasi Publik Universitas Harvard ini lantang memperjuangkan kesehatan lautan untuk meningkatkan Ekonomi Biru. Ketika berbicara pada Our Ocean Conference di Nusa Dua, Bali baru-baru ini, Figueres menyerukan pentingnya narasi atau kisah-kisah sukses tentang ekonomi biru dengan bahasa yang dapat dipahami semua pihak.

Salah satu definisi ekonomi biru adalah pembangunan ekonomi berbasis kelautan yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial, serta secara nyata mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis.

Pada dasarnya ekonomi lautan meliputi industri berbasis laut seperti perkapalan, penangkapan ikan, pembangkit listrik tenaga bayu, dan pengembangan bioteknologi kelautan. Akan tetapi mutlak dipertimbangkan aset alam dan jasa ekosistem yang disediakan lautan termasuk ikan, jalur pelayaran, dan penyerapan karbon dioksida.

Sebuah kajian oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) dan Badan Lingkungan PBB (UNEP) menyimpulkan bahwa kontribusi ekosistem lautan untuk ekonomi global bernilai 28 triliun dolar AS per tahun khususnya dari perikanan, pariwisata dan perlindungan pantai. Nilai ini hampir sama dengan Produk Domestik Bruto nominal Amerika Serikat, Jepang, India dan Indonesia digabungkan.

Narasi ekonomi biru yang ditekankan oleh Jose Maria Figueres seharusnya tidak sulit ditulis untuk Indonesia. Salah satu contoh saja, sektor perikanan budidaya memiliki nilai tambah yang lebih besar, berkelanjutan dengan pembiayaan yang lebih murah dibandingkan sektor perikanan tangkap. Provinsi Papua Barat, merujuk westpapuatabloid, memiliki kekayaan laut yang cukup melimpah karena dikelilingi oleh perairan laut bebas. Provinsi ini memiliki 1945 pulau, bukti potensi perikanan yang besar untuk pasokan kebutuhan bahan baku bagi sektor industri pengolahan produk lautan seperti ikan kaleng dan udang beku.

Situs Our Ocean Conference menayangkan informasi tentang ekonomi biru sebagai pendorong penting kemakmuran dan penciptaan lapangan kerja, dan juga bagian strategis dari ekonomi secara keseluruhan.

Hanya saja, memarani ekonomi biru akan sulit jika jika manusia tidak berusaha menangani sejumlah ancaman yang mengganggu kesehatan lautan seperti perubahan iklim, polusi, penangkapan ikan berlebihan dan pemerintahan yang lemah. Ini sangat dikuatirkan oleh para peneliti maupun tokoh-tokoh dunia yang berbicara di Our Ocean Conference, antara lain mantan menteri luar negeri Amerika Serikat, John Kerry; Pangeran Charles dari Inggris; dan Pangeran Albert II dari Monaco .

Panel AntarPemerintah untuk Perubahan iklim berulang kali mengingatkan bahaya yang sedang dialami lautan di dunia. Lautan semakin memanas, lautan kehilangan oksigen, lautan kian menjadi asam, dan lautan semakin meningkat permukaannya. Semuanya mengancam sektor kunci ekonomi biru seperti perikanan, pariwisata bahari, transportasi laut, pemanfaatan sumber daya dasar laut, dan energi terbarukan.

Jose Maria Figueres yang juga pendiri Ocean Unite, sebuah jaringan untuk mobilisasi kekuatan bagi konservasi lautan, menandaskan hanya ada dua pilihan. Lautan yang sehat dengan ekosistem laut dan dunia usaha yang berkembang, atau lautan yang sakit, yang tercemar, dan yang tidak dapat menopang kehidupan.

Figueres optimis, lautan dapat dipulihkan karena disamping gerakan di ranah politik serta peran komunitas bisnis untuk ekonomi biru, manusia akan selalu mengenang masa indahnya bersama deburan ombak di tepi pantai. (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

DBH Migas Diharapkan untuk Kesejahteraan Rakyat Papua

      NERACA   Jakarta - Peraturan Daerah Khusus tentang Dana Bagi Hasil Migas (Perdasus DBH Migas) diharapkan segera…

Menperin: Milenial Penopang Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam memasuki era revolusi industri 4.0.…

Indikator Ekonomi Makro 2020 Telah Pertimbangkan Risiko

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa indikator ekonomi makro yang akan digunakan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kenapa Harus Ada “People Power”?

  Oleh : Dewi Komalasari, Pemerhati Masalah Sosial Politik Kenapa mesti ikut pemilu jika dirinya tidak percaya dengan kinerja KPU?…

Reformasi Pajak Digenjot Demi Tax Ratio

Oleh: Pril Huseno Ihwal penerimaan pajak Indonesia, menjadi hal yang menarik dikaji. Sebagai penerimaan terbesar dalam APBN, penerimaan pajak menjadi…

Tekanan Makin Berat, Ekonomi Kian Melambat

Oleh: Djony Edward Sepanjang bulan Mei 2019 banyak sekali kabar buruk yang melanda ekonomi kita, setidaknya ada 9 indikator makro…