Penguasaan Oleh Korporasi Besar Jadi Kendala Penyerapan Jagung - Sektor Primer

NERACA

Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memaparkan stok jagung yang sudah dikuasai perusahaan-perusahaan besar menjadi salah satu kendala penyerapan jagung di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa seharusnya Bulog dapat menyerap jagung peternak, namun stok dalam negeri sudah dikuasai perusahaan besar melalui sistem ijon atau dibayar duluan.

"Saya berharap Bulog boleh juga menyerap. Intinya jangan sampai peternak kecil berteriak, karena saya cek ini ternyata diambilin semua, 'diijonin', dibayar dulu," kata Amran kepada media di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jakarta, disalin dari Antara.

Ia menjelaskan keputusan pemerintah untuk mengimpor jagung sebesar 50 ribu sampai maksimal 100 ribu ton bertujuan untuk melindungi peternak kecil. Namun demikian, jagung impor digunakan sebagai alat kontrol untuk stabilisasi harga dan akan didistribusikan jika harga pakan mengalami kenaikan tajam. Sebaliknya, jika harga turun, pemerintah tidak akan mengeluarkan jagung impor tersebut ke pasar.

Di sisi lain, pemerintah menutup impor jagung sebesar 3,6 juta dengan nilai mencapai Rp10 triliun sejak 2017, yang diikuti ekspor total sebesar 380 ribu ton. Produksi jagung hingga saat ini tercatat masih surplus 330 ribu ton jika menghitung dari neraca ekspor 380 ribu ton dan impor 50 ribu ton jagung tersebut. Menurut dia, anomali ini terjadi karena perusahaan-perusahaan besar telah menyerap produksi jagung nasional dan tidak mengimpor gandum untuk campuran pakan.

Pemerintah pun mengeluarkan jatah pasokan jagung untuk perusahaan besar sebanyak 200 ribu ton. Artinya, stok jagung dalam negeri lebih banyak diserap oleh perusahaan besar, daripada peternak kecil. "Akhirnya peternak kecil berteriak, sementara perusahaan besar diam. Peternak kecilnya berteriak karena tidak pakai gandum. Itu yang tidak dipahami kenapa perlu impor untuk melindungi peternak kecil," kata Amran.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro dalam konferensi pers di Jakarta, sebagaimana disalin dari Antara, menyebutkan Indonesia masih surplus 12,98 juta ton jagung pipilan kering (PK) pada 2018, bahkan mengekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton.

"Kementan memastikan produksi jagung surplus bahkan ekspor hampir 380 ribu ton. Artinya kalau ekspor 380 ribu ton, dibandingkan dengan rencana 100 ribu ton, 'balance trade' masih surplus," kata Syukur.

Menurut dia, surplus produksi tersebut diperoleh setelah menghitung perkiraan produksi 2018 dikurangi dengan proyeksi kebutuhan jagung nasional. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen per tahun.

Pada tahun 2018 ini, produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Hal ini juga didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06 persen, dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen.

Prakiraan ketersediaan produksi jagung bulan November sebesar 1,51 juta ton, dengan luas panen 282.381 hektare, bulan Desember 1,53 juta ton, dengan luas panen 285.993 hektare, tersebar antara lain di sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontolo dan Lampung.

Sementara dari sisi kebutuhan, berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun 2018 ini diperkirakan sebesar 15,5 juta ton PK, terdiri dari pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan industri pangan 4,76 juta ton PK. Dengan demikian, Kementan menyebut produksi jagung masih surplus 12,98 juta ton PK.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Sumardjo Gatot Irianto memaparkan secara umum produksi jagung nasional saat ini sangat baik. Di wilayah Indonesia bagian barat panen terjadi pada Januari-Maret, mencakup 37 persen dari produksi nasional. Sementara wilayah Indonesia Timur, panen cenderung mulai bulan April-Mei.

Sentra produksi jagung tersebar di 10 Provinsi yakni, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatra Utara, NTB, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sumatra Barat total produksinya sudah mencapai 24,24 juta ton PK. Artinya 83,8 persen produksi jagung berada di provinsi sentra tersebut berjalan dengan baik.

Ada pun sesuai hasil rapat koordinasi pada Jumat (2/11), Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution memerintahkan kepada Menteri Pertanian untuk mengeluarkan rekomendasi impor jagung pakan ternak sebanyak 100.000 ton dan menugaskan kepada Perum Bulog untuk melakukan impor.

BERITA TERKAIT

Pabrik Pintar Diincar Jadi Rujukan Implementasi Industri 4.0 - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian sedang melakukan pemilihan terhadap perusahaan-perusahaan yang juara di sektornya terutama dalam kesiapan menerapkan teknologi industri…

Kepemilikan Asing Boleh 100% di 54 Sektor Usaha - PAKET KEBIJAKAN EKONOMI (PKE) KE-16

Jakarta-Pemerintah kini terbuka mengizinkan pihak asing untuk memiliki 100% saham di 54 sektor usaha setelah dikeluarkan dari Daftar Negatif Investasi…

Duka Keluarga Besar PNM untuk Reni Hermawati

Duka Keluarga Besar PNM untuk Reni Hermawati NERACA Pangandaran - Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM, Arief…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - RI Diyakini Mampu Menjadi Pusat Pengembangan Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Provinsi Kepulauan Riau memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor industri manufaktur. Untuk itu, pemerintah terus mendorong wilayah…

KIARA: Negara Wajib Lindungi Perempuan Nelayan

NERACA Jakarta – Konflik Agraria di Indonesia terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Peningkatan ini terjadi seiring dengan praktik…

Pacu Investasi Industri Lebih Masif, Pemerintah Relaksasi DNI

NERACA Jakarta – Pemerintah terus berupaya meningkatkan nilai investasi, baik dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing…