Ragam Tato Dunia dan Perkembangannya

Neraca. Tak jauh berbeda dengan di Indonesia, tato tradisional di berbagai belahan dunia juga sedikit demi sedikit mengalami kepunahan. Melihat fenomena ini, banyak tattoo artist dunia yang akhirnya turun tangan untuk melestarikannya, salah satunya, seperti yang tercatat pada website Durga Tattoo adalah Sua Sulu’ape Freewind dari studio Black wave Tattoo, Los Angeles. Freewind mempelajari teknik tato Polinesia berikut motif tradisionalnya secara langsung dari berbagai suku yang termasuk dalam “segitiga” wilayah Polinesia seperti Maori, Hawaii dan sebagainya.

Tato tradisional bangsa Jepang pun mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan tato negeri ini. Dimulai sejak periode Yayoi, masih banyak suku asli bangsa Jepang yakni Ainu menggunakan tato untuk memberikan ciri, kedudukan, heroisme (misalnya, setelah bertarung dengan binatang buas seperti harimau, maka ia akan membuat tato harimau sebagai hewan yang telah ditaklukkan).

Namun ketika memasuki periode Kofun, tato mulai dianggap sebelah mata. Tak lain karena pengaruh Romawi di mana para budak dahulu diberi tanda dengan tato, sehingga di zaman ini banyak orang yang menyembunyikan tato di balik bajunya. Semakin berkembang ke zaman Edo hingga Meiji, tato identik dengan gerombolan Yakuza maupun mafia yang kerap berbuat onar dan pembunuh. Itu sebabnya, tato asli Jepang (Irezumi) mulai ditinggalkan. Namun kini, banyak tato artis dari Jepang maupun luar Jepang yang mencoba membangkitkan kembali “semangat” tato tradisional Jepang agar tidak benar-benar hilang.

Tribal merupakan tato yang berkembang di daerah Papua Nugini. Awalnya, justru perempuan lah yang lebih banyak mempunyai tato, persis beberapa suku Dayak di Kalimantan. Para perempuan Papua Nugini menato seluruh tubuh mereka, mulai dari kepala hingga kaki dan tentunya sarat filosofis. Tato tak sembarangan didapat sebab harus dilihat dari tingkatan umur, status pernikahan, posisi dalam masyarakat, wilayah suku dan sebagainya.

Meski masih ada beberapa suku yang menggunakan tato tradisional, namun filosofisnya sudah mulai ditinggalkan, demikian rangkuman Lars Krutak dalam artikel “The Forgotten Code : Tribal Tattoos of Papua New Guinea”.

Tak hanya motif yang indah, tato tradisional juga berkaitan dengan cara pembuatannya yang unik. Mentawai dan Dayak menggunakan teknik ”hand tapping” dan alat yang dipakai berupa dua stik yang salah satunya dipasang jarum.

Sementara bangsa Jepang hanya mempergunakan satu tongkat yang ujungnya adalah jarum lalu ditusuk-tusukkan ke kulit. ”Hand tapping” dilakukan oleh dua orang, yakni tattooist (pembuat tato) dan ”skin strecther” yang akan merenggangkan kulit Anda sehingga aplikasi tinta menjadi lebih baik. Namun teknik tato tradisional Irezumi yang digunakan bangsa Jepang hanya dilakukan satu orang saja.

Hal ini juga dilakukan bangsa Thailand dan salah satu selebriti dunia yang pernah mencoba tato teknik ini adalah Angelina Jolie. Pasangan Brad Pitt itu mempunyai tato harimau bengal yang dibuat langsung oleh tattooist Thailand bernama Sompong Kanhphai dan menggunakan teknik satu stik saja.

Dewasa ini pembuatan tato lebih modern yakni dengan mesin yang dirakit sedemikian rupa dan jarum di ujungnya sehingga pengerjaan tato tidak memakan waktu. ”Bila menggunakan hand tapping pengerjaan jauh lebih lama, namun mempunyai sensasi sendiri terutama ketukan stik yang menyerupai metronom,” tutur Hendra dari Folktattoo Space, Yogyakarta.

Menurut Hendra lagi, banyak beberapa kliennya yang justru lebih enjoy bila ditato dengan teknik ”hand tapping”. Hendra yang berdarah Dayak asli kerap menambahkan ”service” dengan menyetel musik dari alat petik Sape, sebuah ”gitar” tradisional Kalimantan. Petikan Sape yang syahdu bisa menjadi terapi tersendiri bagi mereka yang baru membuat tato.

Meski teknik “hand tapping” terhitung tradisional, namun mengalami perubahan yang disesuaikan dengan zaman. Penggunaan jarum misalnya. Zaman dulu satu jarum bisa digunakan bergantian, ”mengingat dulu juga tidak bermunculan penyakit yang aneh-aneh seperti HIV-Aids, jadi jarum dipakai belasan orang, bahkan sampai jarumnya rusak mungkin,” tukas Hendra. Masyarakat Dayak dulu juga mempergunakan air beras untuk mencuci kulit yang habis ditato agar cepat sembuh dan tidak infeksi, juga tinta yang digunakan berasal dari tinta alami tumbuh-tumbuhan seperti warna daun, kulit buah dan sebagainya.

Para pembuat tattoo yang menekuni teknik ”hand tapping” merombak beberapa cara lama yang dirasa sudah tidak relevan di masa kini. ”Jarum, tentunya harus diganti setiap habis menato seorang klien. Jarum pun juga harus dilihat tanggal kadaluarsanya. ’Skin Strectcher’ dan artis tato harus menggunakan sarung tangan supaya steril dan lain-lain,” jelas Hendra lagi.

Jika Anda berminat untuk ditato dengan teknik ”hand tapping”, pastikan melakukannya pada artis tato profesional dengan jam terbang cukup tinggi. Selain itu, untuk menghindari kesalahan dalam memilih gambar, alangkah baiknya berkonsultasi dengan tato artis sebelum akhirnya memutuskan untuk ditato. (rani)

Related posts