Pertumbuhan Ekonomi Dikoreksi Jadi 6,5%

NERACA

Jakarta – Kementerian Keuangan menegaskan pemerintah siap merevisi target pertumbuhan ekonomi di 2012 menjadi 6,5% dari target awal 6,7% dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2012. "Mungkin kita akan sesuaikan pertumbuhan ekonomi kita, saya kira kita turun jadi 6,5%," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakartam,5/3

Selain itu, kata Agus, pemerintah juga akan memperlebar defisit menjadi 2,2% plus minus 0,2% dari perkiraan sebelumnya 1,5% di APBN 2012. "Pokoknya dana itu kalau kita tidak lakukan APBN-P defisitnya besar, kita bikin supaya defisitnya tidak besar, jadi 2,2%," tambahnya

Oleh karena itu, kata mantan Dirut Bank Mandiri ini untuk menutup defisit tersebut. Maka pemerintah akan melakukan penghematan anggaran belanja kementerian/lembaga(K/L). Anggaran yang bisa dihemat itu berkisar Rp 18,8triliun sampai Rp 22 triliun. "Itu caranya dengan tingkatkan penerimaan negara, kurangi subsidi, dan potong anggaran kementerian lembaga. Anggaran K/L itu yang dipotong Rp 18,8-22 triliun, itu kita potong," terangnya

Menurut Agus, guna menambah pembiayaan tak bisa dielakkan akan menambah utang baru sekitar Rp 25-50 triliun sehingga total gross sekitar Rp 300 triliun. "Secara dokumen kita akan menambah Rp 25 triliun. Tambahan SBN (surat berharga negara) netto mungkin Rp 25 triliun karena pembahasan akan berjalan, kita sebut aja Rp 25-50 triliun begitu. Kurang lebih sama kira-kira satu tahun kita akan memerlukan pembiayaan baru kira-kira Rp 300 triliun. Setengahnya mungkin untuk perpanjangan yang jatuh tempo, dan setengahnya mungkin baru," ungkapnya

Agus Marto akan mengajukan revisi pertumbuhan tersebut melalui RAPBN-P. Karena itu ada perubahan asumsi makro dalam rancangan perubahan tersebut seperti harga minyak yang sebelumnya US$ 90 per barel menjadi kisaran US$ 105 per barel dan lifting (produksi) minyak menjadi turun dari sebelumnya 950 ribu barel per hari menjadi kisaran 910 ribu-940 ribu barel per hari.

Sementara, laju inflasi yang sebelumnya ditetapkan 5,3% menjadi kisaran 6-7%, nilai tukar dari sebelumnya Rp 8.800 per dolar AS menjadi kisaran Rp 8.800-Rp 9.000 per dolar AS. Sedangkan untuk SBI 3 bulan diperkirakan tidak mengalami perubahan dari asumsi saat ini sebesar 6%.

Ditempat terpisah, dari China dilaporkan Perdana Menteri China, Wen Jiabao mengumumkan penurunan target pertumbuhan ekonomi negaranya menjadi 7,5% pada tahun 2012 ini. Sementara, inflasi dibidik pada level 4%.

Apalagi saat ini menjelang pelaksanaan reformasi ekonomi dan transisi kepemimpinan. Investor mengharapkan pemerintah fokus mengambil langkah untuk menstabilkan perekonomian dan meredam gejolak harga. "Kami bertujuan untuk mempromosikan pembangunan ekonomi yang stabil dan kuat, menjaga harga stabil, dan menjaga terhadap risiko keuangan dengan menjaga uang total dan pasokan kredit pada tingkat yang sesuai, dan mengambil pendekatan hati-hati dan fleksibel," kata Wen lagi

Wen berjanji akan meningkatkan konsumsi masyarakat, sekaligus sebagai prioritas pertama untuk 2012. Ini hanya berselang setahun menjelang Wen dan Presiden Hu Jintao pensiun dan Partai Komunis bersiap menyediakan penggganti mereka.

Penurunan target pertumbuhan ekonomi ini sudah diprediksikan sebelumnya. Selama Januari lalu nilai ekspor Negeri Tirai Bambu itu turun hingga 15,3% dibanding tahun sebelumnya. Krisis keuangan di Eropa yang tak kunjung reda menjadi salah satu penyebabnya. Terbukti selama Januari jumlah ekspor ke negara-negara di kawasan tersebut pada bulan Januari menurun 3,2% dibanding tahun sebelumnya. Padahal, Desember 2011 ekspor Cina ke Eropa sempat meningkat hingga 7,2%. *mohar/cahyo

Related posts